Pesanan itu datang lewat jalur yang Sekar tak duga, dan ukurannya membuatnya, untuk beberapa jam, tak bisa berpikir jernih.
Seorang perempuan mengiriminya pesan—bukan pembeli pribadi seperti Bu Renata, tapi seseorang yang memperkenalkan diri sebagai pemilik sebuah butik kelas atas di kota besar, butik yang Sekar bahkan kenal namanya dari masa di Maharani, butik yang menjual ke kalangan yang membayar tanpa berkedip. Namanya Mbak Andien. Ia telah melihat unggahan Sekar dan kain Bu Renata, telah mengikuti kampung dari jauh selama berbulan, dan kini ia mengusulkan sesuatu yang membuat tangan Sekar dingin saat membacanya.
Ia ingin memesan kain tujuh gunung untuk sebuah koleksi—koleksi tema yang akan ia luncurkan di butiknya, dengan tenun tangan kampung sebagai pusatnya, dijual ke pelanggan-pelanggan setianya yang justru mencari keaslian semacam ini. Bukan tiga kain. Bukan lima. Ia ingin dua puluh kain tujuh gunung penuh, bernomor, dengan kartu lengkap, dalam tiga bulan.
Dua puluh kain. Sekar menatap angka itu sampai berpendar. Dengan harga yang Mbak Andien tawarkan—lebih tinggi dari yang Sekar berani patok, karena butik kelas atas memang menjual lebih tinggi lagi ke pelanggannya—dua puluh kain berarti hampir tiga puluh juta. Lebih dari seluruh utang Koh Bandi yang pernah mencekik kampung. Lebih dari yang kampung hasilkan dalam berbulan-bulan dengan penjualan pribadi satu-satu. Cukup untuk menggaji Warni dan Yanti dengan layak selama setengah tahun, untuk membayar lunas sisa Koh Bandi, untuk membeli bak tarum kedua, mungkin ketiga. Cukup untuk mengubah kampung dari yang bertahan menjadi yang tumbuh.
Dan justru karena itu, ia menakutkan.
Sekar membawa pesanan itu ke kolong, dan menggelar angkanya di hadapan Bujang, Bu Ngatiyem, Bu Lastri, Warni, dan Yanti—seluruh kampung yang menenun, untuk pertama kalinya dikumpulkan sebagai sesuatu yang menyerupai musyawarah usaha. Ia tak ingin memutuskan sendiri sesuatu sebesar ini; ia telah belajar bahwa beban yang ditanggung sendiri adalah beban yang meretakkan.
Reaksi terbelah, seperti yang ia duga.
Bu Lastri, yang biasanya diam, justru yang pertama berbinar. "Dua puluh kain kita di butik kota besar," katanya pelan, hampir tak percaya. "Dengan nama kita. Dipakai orang-orang yang... yang nggak akan pernah ke lereng ini." Di matanya ada sesuatu yang Sekar belum pernah lihat—bukan harapan akan uang, tapi harapan akan dilihat, harapan tangan yang seumur hidup anonim akhirnya punya nama di kota yang dulu tak peduli.
Warni dan Yanti diam, tapi Sekar bisa melihat hitungan di mata mereka—dua puluh kain berarti kerja, berarti gaji yang lebih pasti, berarti bukti bahwa kepulangan mereka tidak sia-sia.
Bujang yang mengangkat suara hati-hati. "Sekar. Tiga kain hampir bikin kampung tumbang tiga bulan lalu. Sekarang dua puluh? Dalam tiga bulan?" Ia menggeleng. "Aku yang ngitung sama kamu. Kita punya berapa tangan? Bu Ngatiyem, Bu Lastri, kamu—tiga yang bisa tujuh gunung penuh. Warni sama Yanti belum, masih kawung. Tiga tangan matang, dua puluh kain, tiga bulan. Itu... itu hampir tujuh kain per tangan dalam tiga bulan, sementara satu kain butuh tiga minggu. Hitungannya mepet banget, Sekar. Satu cuaca buruk, satu sakit, kita gagal. Dan gagal di pesanan segede ini—di butik segede itu—bukan cuma rugi. Itu mempermalukan kampung di depan pasar yang baru mulai percaya."
Bu Ngatiyem mengangguk pada Bujang, dan itu sendiri sudah luar biasa—Bu Ngatiyem dan Bujang jarang sepakat. "Tergesa bikin kain jelek," kata Bu Ngatiyem. "Aku udah bilang ke kamu soal ini. Dua puluh kain dikejar tiga bulan, tangan kita bakal kepaksa cepet. Cepet bikin salah. Salah bikin kain yang nggak pantes pakai nama tujuh gunung."
Sekar mendengarkan keduanya, dan ia tahu mereka benar. Hitungannya mepet sampai berbahaya. Tujuh kain per tangan matang dalam tiga bulan menyisakan nyaris tak ada ruang untuk cuaca, sakit, kesalahan, satu bak tarum yang harus bergiliran. Bagian dirinya yang telah belajar dari pesanan Bu Renata berkata: tolak, atau minta lebih banyak waktu, atau kurangi jumlahnya. Jangan ulangi kesombongan menerima lebih dari yang bisa kau kirim.
Tapi bagian lain—bagian yang melihat wajah Bu Lastri yang berbinar, yang melihat Bagas di luar sana menunggu kampung lelah, yang tahu bahwa pintu ke butik kelas atas seperti ini mungkin tak terbuka dua kali—bagian itu berbisik bahwa menolak juga punya harga. Menolak berarti tetap kecil, tetap bertahan, tetap di tempat yang aman sementara waktu berjalan ke arah Bagas. Pintu ke panggung yang lebih besar tak menunggu kampung siap; pintu itu terbuka sekarang, dan menutup jika tak dimasuki.
Sekar memikirkannya semalaman, dan paginya ia memutuskan—dengan kepala butik yang dingin dan jantung yang berdebar—untuk menerima. Tapi ia menerima dengan tawar: bukan dua puluh kain, tapi lima belas. Bukan tiga bulan untuk semua, tapi pengiriman bertahap. Mbak Andien, sedikit kecewa tapi setuju, menyepakatinya. Lima belas kain, bertahap, dalam tiga setengah bulan.
Bahkan setelah ditawar, ketika Sekar mengumumkannya di kolong, Bujang menggeleng pelan dan berkata kalimat yang menggantung di udara lama setelah ia mengucapkannya. "Lima belas kain dalam tiga setengah bulan, dengan tiga tangan matang dan dua yang belum. Aku udah ngitung ulang tiga kali, Sekar. Itu masih mustahil. Kalau semua lancar, kalau nggak ada hujan, kalau nggak ada yang sakit, kalau tarum nggak pernah nunggu—mungkin pas. Tapi kapan terakhir kali semua lancar di kampung ini?"
Dan Sekar, yang tahu Bujang benar, tetap berkata, "Kita coba." Karena ia telah memilih, untuk pertama kalinya, untuk mempertaruhkan bertahan demi kemungkinan tumbuh—dan ia tahu, bahkan saat mengucapkannya, bahwa ia baru saja membuka pintu menuju kemungkinan gagal yang lebih besar dari apa pun yang pernah ia berani hadapi.