Kampung bekerja siang malam, dan untuk beberapa minggu pertama, mustahil hampir terlihat mungkin.
Derit ATBM tak lagi berhenti di sore. Bu Ngatiyem, Bu Lastri, dan Sekar menenun tujuh gunung penuh, bergantian di tiga alat tenun terbaik, sementara Warni dan Yanti mengerjakan persiapan—memasang lungsin, menggulung benang, mengikat motif sederhana yang sebagian bisa dipakai untuk bagian non-sakral kain, di bawah pengawasan ketat Bu Ngatiyem. Bujang mengatur segalanya yang bukan tenun: jadwal, urutan pengiriman, kemasan, percakapan dengan Mbak Andien yang menanyakan kemajuan tiap minggu dengan keramahan yang tak menyembunyikan tuntutan di baliknya. Mereka membeli bak tarum kedua dengan uang muka dari Mbak Andien, dan untuk pertama kalinya dua set benang bisa dicelup serempak tanpa menipiskan larutan.
Lalu, seperti yang selalu terjadi di lereng, langit ikut campur.
Musim hujan datang lebih awal tahun itu, dan datang dengan cara yang paling buruk untuk tenun: bukan hujan deras singkat yang berhenti dan meninggalkan langit cerah untuk menjemur, tapi mendung panjang berhari-hari, gerimis yang tak pernah benar-benar berhenti dan tak pernah benar-benar deras, langit kelabu yang menahan benang celupan tetap basah dan setengah jadi. Tanpa matahari, oksidasi tarum tak sempurna; warna tak mengunci, biru tinggal pucat dan luntur. Benang yang sudah dicelup menumpuk di para-para, menunggu jemur yang tak kunjung datang, dan tiap hari mendung adalah satu hari hilang dari tenggat yang sejak awal sudah mepet.
Sekar berdiri di kolong menatap langit kelabu dengan rasa tak berdaya yang ia kenal dari pesanan Bu Renata, tapi kini berlipat—karena kini bukan tiga kain yang tergantung pada matahari, tapi lima belas, dan bukan satu pembeli pribadi yang sabar, tapi sebuah butik kelas atas yang reputasinya sendiri tergantung pada koleksi yang ia luncurkan tepat waktu.
Jadwal molor. Bujang menghitung ulang tiap malam, dan tiap malam angkanya memburuk. Mereka mencoba menjemur benang di dalam, di atas tungku, di para-para dekat asap dapur—tapi panas tungku tak sama dengan matahari, warna yang dihasilkan tak sebening yang dijemur langit, dan beberapa benang gosong di bagian yang terlalu dekat api. Mereka kehilangan benang, kehilangan hari, kehilangan tidur.
Dan masalah yang lebih dalam datang dari tangan yang belum matang. Karena tenggat menjepit, Sekar terpaksa membiarkan Warni dan Yanti menenun bagian-bagian kain yang seharusnya, di waktu normal, dikerjakan tangan matang. Mereka berusaha, mereka bekerja sampai larut, tapi tangan yang baru beberapa bulan dilatih dan masih setengah berpikir seperti mesin menghasilkan tenunan yang tak rata—rapat di satu tempat, renggang di tempat lain, tegangan yang meleset. Ketika Sekar memeriksa hasil mereka di bawah cahaya, ia melihat cacat-cacat yang tak bisa lolos ke butik Mbak Andien, dan kain-kain itu harus dibongkar, diurai benang demi benang, ditenun ulang—membuang berhari kerja yang kampung tak punya berhari untuk dibuang.
Tekanan mulai meretakkan semangat. Yanti, yang sejak awal pulang dengan getir, menangis suatu malam dan berkata mungkin ia memang tak bisa, mungkin tangannya sudah rusak oleh pabrik dan tak akan pernah cukup baik. Warni diam dan pucat oleh lelah. Bu Lastri, yang usianya paling tua, mulai mengeluh pegal yang menjalar di bahu dan tangannya, dan Sekar takut—takut memaksa perempuan tua itu bekerja melampaui tubuhnya demi tenggat. Bu Ngatiyem bekerja tanpa mengeluh, tapi wajahnya mengeras, dan Sekar tahu apa yang ada di balik keras itu: aku sudah memperingatkanmu.
Dan pada satu titik—titik yang kemudian akan menghantui Sekar—ia berdiri di kolong larut malam, menatap tumpukan benang celupan yang warnanya pucat karena kurang jemur, menatap tenggat di buku Bujang yang menertawakannya, menatap wajah-wajah lelah di sekitarnya, dan untuk pertama kalinya, pikiran itu datang. Pikiran yang dulu ia kutuk pada Mbak Vira, pada pasar, pada siapa pun yang menyuruh kampung mempercepat dan menyederhanakan demi laku.
Bagaimana kalau benang yang celupannya kurang ini tetap dipakai? Pikirnya, dan ia membenci dirinya saat memikirkannya. Bagaimana kalau untuk sebagian kain, yang bagian non-sakralnya saja, ia mengurangi satu atau dua celupan—biru yang sedikit lebih pucat, mungkin tak akan terlihat oleh pembeli butik yang tak tahu apa yang seharusnya mereka lihat? Bagaimana kalau ia menerima tenunan Warni yang sedikit tak rata, yang cacatnya halus, ketimbang membongkarnya dan kehilangan hari yang tak ada? Mbak Andien menunggu. Reputasi kampung tergantung pada pengiriman tepat waktu. Bukankah lima belas kain yang sedikit kurang sempurna, terkirim tepat waktu, lebih baik dari sepuluh kain sempurna yang terlambat dan membatalkan kerja sama?
Sekar berdiri di kolong yang gelap, benang pucat di tangannya, dan menyadari dengan ngeri yang dingin bahwa ia sedang menjadi persis orang yang ia lawan di awal—orang yang menggadaikan pakem demi tenggat, yang membiarkan tempo pasar menggerus tempo tenun, yang berkata pada dirinya sendiri bahwa sedikit kompromi tak akan terlihat. Pasar yang dulu ia anggap musuh di luar dirinya ternyata bisa masuk ke dalam, lewat tenggat, lewat lelah, lewat takut gagal di depan mata yang mempercayainya. Tujuh celup, tujuh gunung, kerapatan yang berarti satu keturunan saling jaga—semua itu mudah dibela ketika tak ada yang menjepit. Kini, dengan langit kelabu dan tenggat di leher dan lima tangan yang lelah menatapnya menunggu keputusan, Sekar menggenggam benang yang celupannya kurang, dan merasakan betapa tipisnya garis antara dirinya dan Bagas—betapa godaan untuk menyederhanakan, mempercepat, memangkas yang sakral demi yang segera, tidak datang dari luar sebagai penjahat, tapi tumbuh dari dalam sebagai jalan keluar yang terlihat masuk akal di tengah malam yang putus asa. Dan tangannya, untuk pertama kalinya, ragu apakah ia akan meletakkan benang pucat itu kembali, atau memasukkannya ke kain.