Sekar tidak meletakkan benang pucat itu kembali.
Ia berdiri di kolong yang gelap sampai larut, dan ketika akhirnya ia bergerak, ia tidak bergerak ke arah yang benar. Ia mengumpulkan benang-benang yang celupannya kurang ke dalam satu keranjang terpisah, menyisihkannya bukan untuk dibuang tapi untuk dipakai, dan ia berkata pada dirinya sendiri kalimat yang sejak itu tak pernah benar-benar ia percaya: hanya untuk bagian non-sakral, hanya untuk lima dari lima belas, hanya kali ini.
Ia melakukannya diam-diam, dan diam-diam itulah yang seharusnya sudah memperingatkannya. Ketika sesuatu benar, ia tak perlu disembunyikan dari Bu Ngatiyem.
Keesokan paginya ia memberi tahu Warni dan Yanti, dengan suara yang ia buat seenteng mungkin, bahwa untuk sebagian benang mereka akan mengurangi celup dari tujuh menjadi lima, supaya warna cepat jadi tanpa harus menunggu matahari yang tak kunjung datang. Yanti, yang lelah dan getir dan ingin pekerjaan ini selesai, mengangguk lega. Warni menatapnya sebentar lebih lama dari yang nyaman, lalu juga mengangguk. Tak ada yang membantah. Itulah racun dari memimpin: ketika orang yang memimpin sudah memutuskan untuk salah, sulit bagi tangan-tangan di bawahnya untuk menemukan keberanian membantah.
Maka benang biru yang lebih pucat itu masuk ke alat tenun.
Dan untuk dua hari, kebohongan kecil itu bekerja. Warna kurang dalam, tapi di bawah cahaya kolong yang remang, perbedaannya tak mencolok. Jadwal yang sebelumnya menertawakan mereka kini sedikit melunak. Bujang, yang tak tahu tentang celupan yang dipangkas, menghitung ulang dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu angkanya membaik, dan ia tersenyum, dan senyum Bujang membuat dada Sekar terasa kotor.
Lalu Bu Ngatiyem menemukannya.
Ia tak menemukannya dengan mata. Ia menemukannya dengan tangan. Perempuan tua itu sedang memeriksa benang di para-para, kebiasaan yang ia lakukan tiap pagi sejak puluhan tahun, dan tangannya yang tahu benang lebih baik dari mata siapa pun di kampung itu meraba segenggam benang biru, menggosoknya pelan di antara jari, dan berhenti. Ia mengangkatnya ke cahaya pintu. Ia menggosoknya lagi. Lalu ia mencelupkan ujung benang ke air di gentong dan menatap air yang sedikit membiru di jarinya, dan wajahnya, yang selama berminggu-minggu mengeras dalam diam, kini berubah jadi sesuatu yang lebih buruk dari marah.
"Sekar." Suaranya tidak keras. Itu yang membuatnya mengerikan. "Kemari."
Sekar datang. Ia tahu sebelum sampai apa yang akan terjadi.
"Berapa celup ini?" Bu Ngatiyem menyodorkan benang itu, dan air biru di jarinya yang seharusnya tak ada di sana, karena benang yang dicelup tujuh kali dan dijemur sempurna tak akan lagi melepaskan warna ke air, tak akan luntur, sudah mengunci untuk selamanya.
Sekar bisa berbohong. Mulutnya nyaris membentuk angka tujuh. Tapi ia menatap mata perempuan tua itu, dan ia tahu Bu Ngatiyem sudah tahu, dan berbohong di atas pelanggaran hanya akan menjadikannya dua kali pengkhianat.
"Lima," katanya.
Kampung itu, untuk sesaat, sunyi. Bahkan derit alat tenun di kolong seolah berhenti, meski itu mungkin hanya telinga Sekar yang menutup.
"Lima." Bu Ngatiyem mengulang kata itu seakan ia rasa pahit di lidah. Lalu sesuatu retak di dalam ketenangannya, dan suaranya naik, dan tahun-tahun yang ditahan tumpah. "Kamu. Kamu yang berdiri di rapat itu dan bilang pakem tak boleh disentuh. Kamu yang menolak orang Rasaraya itu karena dia mau mencetak motif kita dengan mesin. Kamu yang bilang tujuh celup itu bukan tujuh celup, tapi janji. Dan sekarang tanganmu sendiri yang memasukkan benang lima celup ke kain yang akan kamu kirim ke kota dengan nama kampung ini di kartunya."
"Bu, saya"
"Jangan." Tangan tua itu terangkat, dan Sekar berhenti. "Kamu mau bilang tenggat. Kamu mau bilang hujan. Kamu mau bilang kalau tidak begini, pesanan batal, dan uang muka harus dikembalikan, dan kita rugi. Aku tahu semua kata-katamu, Sekar, karena itu kata-kata yang sama persis yang dipakai orang yang menyuruh kita mempercepat dan menyederhanakan sejak dulu. Kata-kata yang kamu lawan. Sekarang kata-kata itu keluar dari mulutmu."
Sekar berdiri di kolong, di hadapan perempuan yang dengan susah payah baru mulai menghormatinya, dan merasakan rasa hormat yang setipis benang itu putus.
"Aku ikat tujuh gunung penuh tiap subuh untuk kamu," kata Bu Ngatiyem, dan kini suaranya turun lagi, dan turunnya itu lebih menyakitkan dari teriakan. "Aku ajari kamu nama-nama yang nenekmu titipkan. Aku mulai percaya kamu pulang bukan untuk menjual kami. Dan kamu balas dengan ini. Lima celup. Demi seorang perempuan kota yang bahkan tak bisa membedakan tujuh dari lima."
"Justru itu, Bu." Suara Sekar pecah, dan ia membenci dirinya karena membela diri padahal ia tahu ia salah. "Mbak Andien tidak akan tahu. Pembelinya tidak akan tahu. Tidak ada yang akan"
"Aku tahu." Bu Ngatiyem menatapnya, dan dalam tatapan itu ada seluruh kampung, seluruh keturunan, seluruh subuh yang ia habiskan dengan tangan biru. "Kain tahu. Air tahu. Tujuh gunung tahu. Kamu pikir pakem itu untuk pembeli? Pakem itu bukan untuk siapa-siapa di luar. Pakem itu untuk kita, supaya kita tetap kita. Begitu kamu bilang tidak ada yang akan tahu, kamu sudah berhenti jadi orang yang dilindungi pakem itu."
Ia menjatuhkan benang itu ke keranjang, dan benang biru pucat yang melengkung jatuh itu, di mata Sekar, terlihat seperti tubuhnya sendiri.
"Bongkar," kata Bu Ngatiyem. "Yang sudah masuk kain, bongkar."
"Bu, kita tidak punya waktu untuk"
"Maka kirim terlambat." Perempuan tua itu berbalik, dan di pintu kolong ia berhenti tanpa menoleh. "Lebih baik kampung ini mati pelan-pelan dengan tujuh celup, daripada hidup cepat dengan lima. Karena yang hidup cepat dengan lima itu bukan kampung kita lagi."
Ia pergi ke alat tenunnya, duduk, dan mulai menenun tujuh gunung penuh seakan tak terjadi apa-apa, seakan tangannya yang tua harus menebus dosa tangan Sekar yang muda.
Dan Sekar berdiri sendirian di antara benang-benang pucat itu, di tengah kampung yang ia kira sedang ia selamatkan, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa garis antara menyelamatkan dan membunuh sesuatu tidak lebar dan tidak jelas. Garis itu setipis selisih dua celup. Dan ia baru saja melangkahinya, bukan didorong oleh musuh dari luar, tapi oleh ketakutannya sendiri akan gagal di depan mata yang mempercayainya. Tenggat masih ada. Hujan masih turun. Tapi kini ada hal yang lebih buruk dari tenggat: ia harus memutuskan, dengan benang pucat di tangan dan kain setengah jadi di alat tenun, apakah ia berani membongkar kebohongannya sendiri, atau melepasnya pergi ke kota dan berpura-pura tak pernah tahu.