Sekar membongkar yang sudah masuk kain. Itu yang ia lakukan, akhirnya, malam itu juga, sampai jarinya kebas dan matanya perih dan tiga kain harus diurai benang demi benang seperti membongkar bohongnya sendiri di hadapan saksi yang tak bicara.
Tapi ia terlambat menyadari satu hal: tidak semua benang lima celup berhasil ia tarik kembali. Sebagian sudah terjalin terlalu dalam ke bagian yang lain, dan membongkar seluruhnya berarti menghancurkan kain utuh yang tak punya cacat lain selain beberapa lajur biru pucat di tepi. Dalam panik tenggat yang kini lebih ketat dari sebelumnya karena ia membuang dua hari untuk membongkar, Sekar membuat keputusan kedua yang sama buruknya dengan yang pertama: ia membiarkan dua kain dari lima belas tetap menyimpan lajur pucat itu, meyakinkan dirinya bahwa cacat itu kecil, di tepi, hampir tak kelihatan. Lalu, karena dua hari hilang, sebagian kain harus dikerjakan dalam ketergesaan oleh tangan Warni dan Yanti yang belum matang, dan tenunan mereka, meski penuh celup, keluar dengan tegangan yang meleset di beberapa tempat.
Maka pesanan itu dikirim. Terlambat sembilan hari dari tenggat. Lima belas kain, dikemas rapi oleh Bujang, dengan kartu bernomor dan nama penenun di tiap helai. Bujang sendiri yang mengantarnya ke kota, dan Sekar menunggu di kampung dengan rasa yang bukan harapan, melainkan firasat.
Firasat itu benar.
Kabar datang empat hari kemudian, lewat telepon, suara Mbak Andien yang biasanya hangat penuh tuntutan kini dingin penuh kekecewaan yang sopan, yang justru lebih melukai daripada amarah. Ia sudah memeriksa kiriman itu. Bukan ia sendiri saja; ia menunjukkannya pada timnya, pada stylist yang akan memotret koleksi, pada satu pembeli besar yang sudah dijanjikan kain-kain itu.
"Mbak Sekar, saya jujur saja karena saya hargai Mbak." Jeda. Sekar mendengar lembaran kertas dibalik di ujung sana, atau mungkin itu kain. "Dari lima belas, ada enam yang luar biasa. Betul-betul seperti yang Mbak janjikan. Tapi sisanya..." Jeda lagi. "Ada dua yang warnanya tidak rata. Biru di tepi lebih muda, seperti luntur. Tim saya kira itu cacat produksi. Dan ada empat yang tenunannya tidak konsisten rapat-renggangnya, jadi kalau dijahit dan dikenakan, jatuhnya tidak sama. Saya tidak bisa pajang kain seperti itu dengan label premium dan harga yang kita sepakati. Pembeli saya akan tahu."
Di situ, di kata 'pembeli saya akan tahu', Sekar mendengar gema Bu Ngatiyem. Air tahu. Kain tahu. Ternyata pembeli pun, yang ia kira tak akan tahu, tahu.
"Saya kembalikan sembilan," lanjut Mbak Andien. "Yang enam saya ambil, saya bayar penuh, karena memang sebagus itu. Tapi untuk kerja sama lima belas bertahap dalam tiga setengah bulan yang kita rencanakan, maaf, saya batalkan. Bukan cuma soal kualitas yang tidak konsisten. Soal waktu. Mbak terlambat sembilan hari di pesanan pertama. Koleksi saya punya jadwal peluncuran yang tidak bisa molor. Saya tidak bisa membangun koleksi di atas pemasok yang saya tidak tahu kapan dan dalam mutu apa kainnya datang."
Sekar memejamkan mata. Uang muka. Mereka sudah memakai sebagian untuk bak tarum kedua, untuk benang, untuk upah. "Uang mukanya"
"Yang enam kain menutupi sebagian. Sisanya, kita hitung, Mbak kembalikan bertahap. Saya tidak akan menjepit Mbak soal itu." Dan kebaikan itu, kebaikan yang ditujukan pada orang yang mengecewakannya, adalah hukuman yang paling berat. "Mbak Sekar, saya akan jujur untuk terakhir kali. Kain Mbak yang enam itu, saya akan bela di depan siapa pun bahwa itu yang terbaik yang pernah saya pegang. Justru karena itu saya kecewa. Mbak punya sesuatu yang langka. Tapi Mbak buru-buru. Mbak coba jadi pabrik, dan Mbak bukan pabrik. Lain kali, kalau Mbak sudah bisa janji yang Mbak tepati, hubungi saya. Tapi sekarang, belum."
Telepon ditutup. Sekar berdiri di ruang tengah, di samping amben tempat Mbah Sumirah berbaring, dan neneknya yang tak bisa bicara itu menatapnya dengan mata yang entah mengerti atau tidak, dan Sekar tak sanggup menatap balik.
Kabar itu menyebar di kampung sebelum siang. Kain-kain yang dikembalikan datang dua hari kemudian, sembilan helai dalam kardus, dipulangkan ke tempat asalnya seperti anak yang ditolak. Sekar membuka kardus itu di kolong, di hadapan semua orang yang sudah ia kumpulkan untuk mendengar, karena ia tak mau kabar ini sampai lewat bisik-bisik. Ia menggelar kesembilan kain itu di lantai kolong.
Warni menunduk menatap kain yang ia tenun, tenunan yang rapat-renggangnya meleset, dan wajahnya memucat. Yanti menggigit bibir. Bu Lastri, yang bahunya masih pegal, duduk dengan tangan terlipat dan tak berkata apa-apa. Bujang, yang baru pulang dari kota dengan kardus itu, berdiri di pintu kolong dengan wajah kelelahan orang yang mengantar kabar buruk dua kali. Dan Bu Ngatiyem, di alat tenunnya, tidak berhenti menenun, tapi tangannya bergerak lebih lambat, seakan tiap lemparan teropong adalah kalimat yang tak ia ucapkan.
"Ini salah saya," kata Sekar, dan suaranya rata karena kalau ia biarkan bergetar ia akan hancur. "Bukan salah Warni, bukan salah Yanti. Saya yang memutuskan mempercepat. Saya yang menerima cacat. Saya yang memaksa tangan yang belum siap mengerjakan yang seharusnya dikerjakan tangan matang. Kalian pulang dari pabrik karena saya yakinkan. Saya berjanji ini lebih baik dari pabrik. Dan kerja pertama yang besar, saya gagalkan."
Tak ada yang menjawab. Diam itu lebih buruk dari teriakan.
Lalu Yanti, yang sejak pulang selalu di ambang menyerah, mengangkat wajahnya yang basah, dan berkata pelan, dengan suara yang sudah lelah bahkan untuk marah: "Di pabrik, kalau gagal, gajiku tetap turun. Di sini, kalau gagal, semua turun. Aku tinggalkan gaji pasti untuk ini, Mbak. Untuk kardus yang dipulangkan."
Kalimat itu menggantung di kolong, di antara benang dan asap dapur dan derit alat tenun Bu Ngatiyem yang tak juga berhenti, dan Sekar tak punya jawaban untuk itu, karena Yanti benar, dan karena di balik kegagalan kain ini ada kegagalan yang lebih besar yang baru mulai retak: kampung yang sempat ia satukan, kini, di hadapan kardus yang dipulangkan, mulai terbelah kembali.