Retak itu tidak datang dalam satu ledakan. Ia merembes, seperti air ke dinding bambu, dari sambungan-sambungan yang sudah lama lelah.
Yanti yang pertama berkata terus terang. Tiga hari setelah kardus dipulangkan, ia datang ke rumah Sekar dengan tas yang sudah setengah dikemas, dan tak perlu banyak kata. "Aku pulang ke kota lagi, Mbak. Bukan ke pabrik yang merumahkan aku, ada pabrik lain di kawasan timur yang masih buka, temanku kerja di sana. Gaji pasti. Tiap tanggal lima." Ia tak menatap Sekar saat mengatakannya. "Maaf. Aku bukan tanganmu yang kamu cari. Tanganku sudah rusak sama mesin. Aku coba, Mbak. Aku coba."
Sekar tidak menahannya. Ia tahu menahan Yanti dengan janji lagi hanya akan jadi janji yang sama yang sudah gagal sekali. Tapi ia memegang tangan Yanti sebelum perempuan itu pergi, dan berkata, "Pintu ini tidak akan tertutup. Kalau suatu hari kamu mau pulang lagi, bukan karena terpaksa, kabari aku." Yanti mengangguk, dan pergi, dan kampung kehilangan satu tangan muda yang baru saja mulai ia latih.
Warni tinggal, tapi Warni bimbang, dan bimbangnya kelihatan di tiap gerakan. Ia masih menenun, tapi tangannya gugup, takut salah lagi, dan ketakutan itu justru membuat hasilnya lebih buruk. Suatu malam Sekar menemukannya menangis di kolong, di depan alat tenun yang benangnya kusut, dan Warni berkata, "Aku yang menenun empat dari yang dipulangkan itu, Mbak. Tenunanku yang meleset. Yanti benar. Mungkin tangan kami memang sudah tidak bisa kembali."
Sekar duduk di sampingnya dan tidak membantah, karena membantah dengan semangat kosong adalah penghinaan pada lelah yang sungguh-sungguh. Ia hanya berkata, "Tenunanmu meleset karena aku menyuruhmu buru-buru. Kalau aku beri kamu waktu yang cukup, tanganmu tidak akan meleset. Bukan tanganmu yang rusak, Warni. Keputusanku yang rusak." Dan ia tak tahu apakah Warni mempercayainya, atau hanya terlalu lelah untuk membantah.
Bu Ngatiyem datang ke rumah Sekar keesokan paginya, dan ini yang paling Sekar takutkan. Perempuan tua itu duduk di kursi rotan dekat amben Mbah Sumirah, menatap sahabat lamanya yang terbaring tak bisa bicara, lalu menatap Sekar.
"Aku tidak datang untuk bilang sudah kubilang," katanya, meski mereka berdua tahu kalimat itu ada di udara sejak hari benang pucat ditemukan. "Aku datang untuk bilang berhenti. Berhenti mengejar pesanan besar. Kembali ke yang dulu. Tiga, empat kain sebulan, dijual mahal, pelan, ke pembeli yang sabar. Kita pernah hidup begitu sebelum perempuan butik itu datang dengan lima belas kainnya. Kita bisa hidup begitu lagi."
"Bu, kalau kita kembali ke tiga empat kain sebulan, kita tidak akan pernah bisa menggaji cukup tangan untuk"
"Maka jangan punya banyak tangan." Suara Bu Ngatiyem datar, lelah, tua. "Kenapa kita harus besar, Sekar? Siapa yang menyuruh kita besar? Nenekmu menenun seumur hidupnya dan kampung ini tidak pernah besar dan kampung ini hidup. Kamu yang bawa kata besar ke sini. Kamu yang panggil pulang anak-anak muda itu, dan sekarang satu sudah lari lagi dan satu menangis tiap malam. Mungkin kampung ini memang tidak ditakdirkan jadi besar. Mungkin tugas kita cuma jaga supaya tidak mati, bukan jadi besar."
Dan untuk sesaat, dalam lelah dan malu, gagasan itu menggoda Sekar. Mengecil. Berhenti. Kembali ke tiga kain sebulan dan tangan-tangan tua yang ia kenal dan tempo yang tak menjepit. Tapi ia tahu, di balik godaan itu, ada Bagas yang menunggu, ada utang yang akan datang lagi, ada anak-anak muda yang akan terus pergi ke pabrik selama kampung tak bisa menggaji mereka. Mengecil bukan keselamatan. Mengecil hanya kematian yang lebih lambat dan lebih sopan.
Malam itu, kelelahan dan ketakutan tumpah dalam pertengkaran yang sudah lama menumpuk antara Sekar dan Bujang. Bujang, yang sepanjang ini jadi suara realistisnya, kini menyalahkannya. "Aku sudah bilang tenggat itu mustahil. Waktu Andien minta lima belas dalam tiga setengah bulan, aku bilang ke kamu, itu mustahil. Kamu yang ngotot terima."
"Karena kalau aku tolak, kita kehilangan pintu ke pasar yang lebih besar"
"Pintu ke pasar yang lebih besar!" Bujang tertawa pahit. "Lihat sekarang. Pintunya ditutup di muka kita, lebih rapat dari kalau kita tolak dari awal. Setidaknya kalau kita tolak, kita masih punya nama. Sekarang Andien cerita ke teman-temannya di kota bahwa kampung Watu Lawang terlambat dan kainnya tidak konsisten. Kamu pikir dunia butik itu luas? Itu kampung juga, Sekar. Kampung orang kaya yang saling cerita. Kita bukan cuma kehilangan satu pesanan. Kita kehilangan nama di kampung mereka."
Sekar terdiam, karena itu benar, dan itu lebih buruk dari yang ia berani pikirkan.
"Kita tumbuh terlalu cepat," kata Bujang, kini lebih pelan, lelahnya sama dengan lelah semua orang. "Kita masih bayi yang baru bisa membuat tiga kain dalam tiga minggu, dan kita coba lari seperti orang dewasa. Mungkin Bu Ngatiyem benar. Mungkin kita harus kecil dulu."
Dan di situ Sekar duduk sendirian setelah Bujang pergi, di kampung yang sempat ia satukan dan kini terbelah kembali, Yanti pergi, Warni bimbang, Bu Ngatiyem menuntut mundur, Bujang goyah, dan satu kenyataan yang dingin mulai mengeras di kepalanya. Ini bukan kegagalan pasar. Mbak Andien bukan menolaknya karena pasar tak mau kain kampung. Mbak Andien mengambil enam kain dengan harga penuh dan memujinya. Yang ditolak hanya yang cacat. Yang ditolak hanya yang ia kompromikan. Pasar tidak mengkhianatinya. Ia yang mengkhianati kainnya sendiri, dengan benang pucat dan tangan yang dipaksa buru-buru, dan kini kampung yang membayar harga pengkhianatan itu. Kegagalan ini bukan tentang mereka tumbuh terlalu cepat. Ini tentang ia melanggar satu-satunya hal yang membuat kain mereka layak dibayar mahal. Dan jika itu benar, maka jalan keluarnya bukan mengecil. Jalan keluarnya adalah kembali ke pakem yang ia khianati, lebih keras dari sebelumnya, justru karena pakem itulah modal mereka.