Sekar mengumpulkan semua orang di kolong rumah Mbah Sumirah pada sore berikutnya. Bu Ngatiyem, Bu Lastri, Warni, Bujang, dan beberapa perempuan kampung yang ikut menenun. Hanya Yanti yang tak ada, karena Yanti sudah di pabrik kawasan timur. Mbah Sumirah ada, dibaringkan di amben dekat pintu kolong agar bisa mendengar, matanya terbuka, tangannya yang lemah terletak di atas selimut.
Sekar menggelar di lantai dua tumpukan kain: enam yang diterima, di kirinya, dan sembilan yang dipulangkan, di kanannya. Ia tidak memulai dengan kata-kata. Ia membiarkan kain bicara dulu, karena ia sudah belajar bahwa kain lebih jujur dari mulut.
"Yang kiri ini diterima Mbak Andien," katanya akhirnya. "Dibayar penuh. Dipuji. Yang kanan ini dipulangkan, ditolak, dan karena ini kerja sama kita dibatalkan dan nama kita rusak di kota." Ia berhenti, menatap satu per satu wajah yang menatapnya. "Saya minta kalian lihat. Apa bedanya."
Bu Ngatiyem yang pertama bangkit, mendekat, jongkok di samping kain. Tangannya yang tua meraba, menggosok, mengangkat ke cahaya. Ia tak perlu lama. "Yang kiri tujuh celup," katanya pelan. "Tujuh gunung penuh. Tenunannya rata." Ia beralih ke tumpukan kanan, menggosok satu lajur pucat, dan wajahnya mengeras lagi pada ingatan. "Yang kanan, lima celup. Dan tenunan yang diburu."
"Betul," kata Sekar. Suaranya rata, tapi ia memaksa dirinya tak menunduk, karena permintaan maaf yang menunduk adalah permintaan maaf yang ingin cepat selesai, dan ini tak boleh cepat selesai. "Yang ditolak persis yang saya percepat. Yang diterima persis yang dikerjakan penuh, pelan, dengan pakem. Saya selama ini salah, dan saya mau bilang itu di depan kalian semua, bukan sembunyi-sembunyi. Saya kira tugas saya menyeimbangkan: cukup asli supaya bercerita, cukup cepat supaya laku. Saya kira pakem itu beban yang harus saya tawar sedikit demi tenggat. Saya salah. Pakem itu bukan beban. Pakem itu barangnya. Tujuh celup itu yang dibayar mahal. Kelambatan kita itu yang mereka cari. Begitu saya potong jadi lima, saya bukan bikin kain lebih murah untuk dibuat—saya bikin kain yang tidak ada yang mau beli mahal lagi."
Ia menatap Bu Ngatiyem. "Bu, waktu Bu bilang pakem itu untuk kita supaya kita tetap kita, saya dengar itu sebagai orang tua yang keras kepala soal adat. Ternyata Bu lebih ngerti dagang dari saya. Karena di pasar yang saya incar, kita-yang-utuh itu satu-satunya yang tidak bisa ditiru pabrik. Saya yang punya empat tahun di butik, saya yang ngaku ngerti pasar, saya yang salah. Dan Bu yang tidak pernah ke kota, Bu yang benar."
Untuk waktu yang lama Bu Ngatiyem tak berkata apa-apa. Ia menatap Sekar dengan mata tua yang sudah melihat terlalu banyak janji muda yang patah. Lalu ia menatap Mbah Sumirah di amben, sahabatnya sejak gadis, dan sesuatu di wajahnya melunak, bukan jadi lembut, tapi jadi kurang keras.
"Aku tidak butuh kamu memuji aku," katanya akhirnya. "Aku butuh kamu tidak mengulanginya."
"Saya tidak akan mengulanginya." Sekar berlutut di lantai kolong, bukan untuk drama, tapi karena ia ingin sejajar dengan kain, dengan tanah, dengan tempat semua ini bermula. "Dan saya mau kita buat aturan, bukan cuma janji saya, tapi aturan kampung. Tidak ada pesanan yang lebih penting dari pakem. Tidak ada tenggat yang membuat kita memotong celup. Kalau ada pembeli yang minta cepat sampai kita harus mengkhianati kain, kita tolak pembeli itu. Biar kita kalah cepat. Biar pesanannya lari. Yang lari itu bukan rezeki kita. Rezeki kita yang sabar."
Bujang, dari pintu kolong, bersuara, dan suaranya hati-hati. "Sekar, kalau kita tolak yang minta cepat, kita mungkin tolak banyak. Mungkin sebagian besar. Pasar maunya cepat."
"Sebagian besar pasar maunya cepat dan murah," Sekar membalas. "Dan sebagian besar pasar memang bukan untuk kita. Itu yang aku terus lupa. Kita bukan untuk semua orang, Jang. Kita untuk sebagian kecil orang yang justru mau bayar mahal karena kita lambat. Andien ambil enam kain dengan harga penuh. Enam. Itu pasar kita. Bukan lima belas yang harus aku khianati untuk dapat. Enam yang aku kerjakan benar."
Ia berdiri, dan menatap mereka semua. "Kita akan tumbuh dengan tempo tenun, bukan tempo pasar. Kita akan lebih lambat dari yang pasar mau. Kita mungkin akan kalah dari pabrik dalam segala hal kecuali satu: kita yang utuh, dan pabrik yang tidak. Itu satu-satunya pertarungan yang bisa kita menangkan, dan kita cuma bisa menangkannya kalau kita tidak pernah, tidak pernah, memotong celup lagi. Termasuk saya. Terutama saya."
Di amben, tangan Mbah Sumirah yang lemah bergerak. Hanya sedikit—jari-jari terbuka, lalu menutup pelan, seperti tangan yang mengikat benang yang tak ada. Sekar mendekat, dan menatap mata neneknya, dan ia tak tahu pasti apa yang ada di sana, tapi ia memilih mempercayai bahwa itu restu, atau setidaknya bukan kutukan.
Warni, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara, suaranya kecil tapi tak lagi sepenuhnya putus asa. "Kalau aku tidak diburu, Mbak... kalau aku boleh pelan sampai tanganku benar... aku mau coba lagi."
"Kamu boleh pelan," kata Sekar. "Itu janjiku yang baru. Pelan sampai tanganmu benar. Tidak ada tenggat yang lebih penting dari tanganmu benar."
Ini bukan kemenangan. Yanti tetap di pabrik. Nama mereka tetap rusak di kota. Utang ke Mbak Andien tetap harus dikembalikan. Kas tetap menipis. Tapi sesuatu yang lebih dalam dari uang telah dipulihkan di kolong sore itu: kepercayaan Bu Ngatiyem, setipis benang, mulai tumbuh kembali, dan kali ini di atas tanah yang lebih keras—bukan janji muda yang manis, melainkan pengakuan salah yang pahit. Dan keputusan yang mereka ambil sore itu, tumbuh dengan tempo tenun dan bukan tempo pasar, adalah keputusan yang paling berisiko yang pernah Sekar ambil, karena ia memilih untuk sengaja kalah cepat di dunia yang menghargai kecepatan di atas segalanya, bertaruh seluruh nasib kampung pada satu hal: bahwa di suatu tempat, ada cukup banyak orang yang mau membayar untuk yang lambat dan utuh.