Yang mengusulkannya, anehnya, adalah Bujang.
Mereka sedang duduk di tangga rumah pada malam yang lebih tenang dari malam-malam sebelumnya, beberapa hari setelah permintaan maaf di kolong, ketika Bujang—yang biasanya bicara tentang ongkos kirim dan kardus dan jadwal—tiba-tiba diam lama, lalu berkata, "Sekar, aku mau ngomong sesuatu, dan aku mau kamu dengar sampai habis sebelum kamu jawab."
Sekar menutup buku butiknya. "Ngomong."
"Kemarin, waktu kain dipulangkan, semua mata ke kamu. Yang gagal, kamu. Yang minta maaf, kamu. Yang harus mikir jalan keluar, kamu. Kalau kamu sakit besok, kalau kamu jatuh seperti Mbah Sumirah, kampung ini berhenti. Habis. Karena semuanya ada di kepala kamu—hitungan, pembeli, ide jualan, semua. Bu Ngatiyem pegang motif, tapi Bu Ngatiyem tidak ngerti pasar dan tidak mau ngerti. Aku pegang logistik, tapi aku tidak bisa gantikan kepala kamu." Bujang menatap gelap kampung di bawah tangga. "Kita ini bukan kampung tenun. Kita ini kamu, dengan beberapa tangan yang menempel. Dan itu rapuh. Bagas tahu itu. Makanya dia bilang dia cuma perlu menunggu kamu lelah. Karena kalau kamu lelah, atau kamu salah lagi seperti kemarin, tidak ada yang menahan."
Sekar terdiam, karena itu kebenaran yang ia hindari dengan sibuk. "Lalu?"
"Koperasi." Bujang mengucapkannya seperti orang yang sudah lama memikirkannya tapi takut mengucapkannya. "Penenun-penenun jadi anggota. Bukan kamu majikan, mereka buruh. Mereka pemilik, sama-sama. Untung dibagi menurut aturan yang disepakati, bukan menurut belas kasih kamu. Keputusan besar diputuskan bersama, bukan di kepala kamu sendirian. Kalau kamu jatuh, koperasi tetap jalan, karena bukan cuma kamu yang pegang. Risiko dibagi. Kepemilikan dibagi. Beban dibagi."
Sekar memutar gagasan itu di kepalanya, dan ia melihat dengan jelas kekuatannya. Selama ini ia memikul semuanya seakan kampung adalah hutangnya yang harus ia lunasi sendiri. Ia menanggung utang dengan tabungannya, ia menanggung risiko dengan reputasinya, ia menanggung keputusan dengan kesendiriannya. Dan itu, ia kini sadar, bukan kepahlawanan—itu kelemahan yang menyamar jadi tanggung jawab. Selama kampung bergantung pada satu orang, ia hanya sekuat satu orang, dan satu orang bisa lelah, bisa salah, bisa sakit, bisa dibujuk Bagas pada malam yang putus asa. Tapi kampung yang memiliki dirinya sendiri, yang keputusannya tersebar di banyak kepala dan banyak tangan—kampung itu tak punya satu titik yang bisa Bagas tunggu untuk patah.
"Ini bukan cuma soal kuat-rapuh," kata Sekar pelan, gagasan itu membesar di kepalanya. "Ini soal siapa pemilik. Selama ini, kalau ada yang tanya siapa yang punya tenun Watu Lawang, jawabannya samar. Mbah Sumirah dulu, sekarang aku, mungkin. Tapi kalau koperasi, jawabannya jelas: penenunnya. Yang tangannya membuat. Itu kuat, Jang. Itu menjawab pertanyaan yang sejak awal jadi inti semua ini—siapa yang berhak menentukan masa depan kain ini. Jawabannya: tangan-tangan yang menghidupinya. Koperasi membuat jawaban itu jadi hitam di atas putih, bukan cuma kata-kata bagus."
"Tapi," Bujang mengangkat satu jari, kembali jadi suara realistisnya, "jangan kira ini gampang. Koperasi itu kantoran. Ada anggaran dasar, ada rapat anggota, ada pembukuan resmi, ada akta. Bu Ngatiyem dan perempuan-perempuan tua itu, mereka takut sama yang kantoran. Mereka pikir begitu jadi badan usaha, kampung berubah jadi sesuatu yang asing. Mereka pikir koperasi itu pintu masuk orang-orang berdasi yang akhirnya mengambil alih. Dan jujur saja, ketakutan itu tidak sepenuhnya bodoh. Banyak koperasi yang akhirnya dikuasai segelintir orang dan anggotanya jadi buruh lagi dengan nama lain."
Sekar mengangguk, karena Bujang benar, dan karena ia tahu yang paling sulit dari gagasan ini bukan hukumnya, tapi hati orang-orang tua. Mengubah bengkel keluarga menjadi badan usaha berarti mengubah sesuatu yang dijalankan dengan kepercayaan dan adat menjadi sesuatu yang dijalankan dengan aturan tertulis dan suara terbanyak. Dan di tengah itu ada pertanyaan yang ia tahu akan jadi yang paling tajam, yang sudah ia rasakan datang sebelum Bujang menyebutnya: siapa yang memegang tujuh gunung? Jika koperasi memiliki segalanya, apakah koperasi juga memiliki motif sakral? Apakah motif yang diwariskan lewat hafalan dari satu pemegang adat ke pemegang adat berikutnya kini bisa diputuskan nasibnya oleh suara terbanyak rapat anggota? Karena jika ya, maka suatu hari, jika sebagian besar anggota terdesak ekonomi dan tergoda menjual lisensi ke Bagas, suara terbanyak bisa menyerahkan tujuh gunung ke mesin—dan koperasi yang seharusnya melindungi malah jadi alat yang menyerahkan.
Sekar memandang gelap kampung. "Bujang, kalau koperasi memegang motif, dan suatu hari mayoritas anggota tergoda jual ke Bagas, suara terbanyak bisa serahkan tujuh gunung ke mesin. Bu Ngatiyem benar takut. Kita tidak boleh menaruh yang sakral di bawah suara terbanyak."
Bujang mengerutkan kening. "Lalu di mana kita taruh?"
"Itu yang harus kita pikirkan sebelum kita usulkan ini ke kampung." Sekar membuka kembali buku butiknya, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu ia menulis bukan hitungan kas atau jadwal pesanan, tapi sebuah pertanyaan: bagaimana membangun rumah yang melindungi penenun secara bersama, tanpa menyerahkan jiwa yang justru harus dilindungi ke tangan suara terbanyak yang bisa salah. Gagasan koperasi itu menjawab kelemahan struktural yang sejak awal membuat kampung rapuh—ketergantungan pada satu orang. Tapi ia membuka lubang baru yang sama bahayanya. Dan Sekar tahu, menatap pertanyaan yang baru ia tulis, bahwa rapat untuk membahas ini akan menjadi rapat terpanjang dan paling getir yang pernah kampung adakan, karena ia tak hanya meminta orang-orang tua mempercayai sesuatu yang asing, tapi meminta mereka mempercayakan tujuh gunung pada sebuah bentuk yang belum ada, yang harus ia rancang dengan hati-hati agar tak menjadi pintu yang ia kira pagar.