Rapat itu digelar di balai kampung, bukan di kolong, karena Sekar ingin semua orang yang punya kepentingan hadir, bukan hanya penenun yang biasa berkumpul. Ia mengundang semuanya: Bu Ngatiyem dan Bu Lastri dan perempuan-perempuan tua, Warni dan dua penenun muda yang masih bertahan, Bujang, beberapa keluarga penenun yang sudah berhenti tapi masih punya alat tenun, bahkan Pak Lurah yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di kampungnya.
Dan rapat itu, seperti yang Sekar duga, menjadi yang terpanjang dalam ingatan kampung.
Ia membuka dengan menjelaskan koperasi sesederhana mungkin, menghindari kata-kata kantoran sebisanya. Penenun jadi pemilik bersama. Untung dibagi adil. Risiko ditanggung bersama. Tidak ada lagi satu orang yang menggendong semua, dan tidak ada lagi penenun yang sekadar diupah seperti buruh. Tapi ia belum sampai kalimat ketiga ketika tangan mulai terangkat dan suara mulai bersahutan, karena di kampung kecil, badan usaha bukan hal yang dibahas dengan tenang.
Pertanyaan pertama datang dari penenun muda, dan tajam: "Kalau untung dibagi, dibagi rata? Saya yang menenun tujuh kain sebulan dapat sama dengan yang menenun dua?"
Lalu dari perempuan tua, lebih tajam lagi: "Saya menenun empat puluh tahun. Anak kemarin sore yang baru bisa setahun, suaranya sama dengan saya di rapat? Satu orang satu suara, katamu. Lalu pengalaman saya empat puluh tahun nilainya sama dengan tangan yang masih meleset?"
Dan keduanya benar, dan keduanya bertentangan, dan Sekar berdiri di antara dua kebenaran itu menyadari bahwa membangun keadilan adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada menenun kain. Bagi hasil yang rata terasa adil pada martabat tapi tak adil pada kerja. Bagi hasil menurut kerja terasa adil pada kerja tapi bisa menindas yang tua dan lambat. Suara yang sama rata terasa adil pada demokrasi tapi membuang pengalaman. Mereka berdebat soal ini sampai matahari condong, dan Sekar belajar, dengan letih, bahwa tidak ada aturan yang adil untuk semua orang dalam segala hal; yang ada hanya aturan yang cukup adil yang bisa disepakati bersama, lalu diperbaiki ketika terbukti melukai.
Mereka mencapai kompromi yang tak sempurna: bagi hasil menurut jumlah dan mutu kain yang dihasilkan tiap orang, dengan jaring pengaman upah minimum agar yang tua dan lambat tetap hidup layak; dan dalam rapat, satu anggota satu suara untuk urusan dagang, tetapi—dan inilah yang paling alot—dengan satu pengecualian.
Karena pertanyaan yang sejak awal Sekar tahu paling berbahaya akhirnya tiba, dan ia datang dari Bu Ngatiyem, yang sepanjang rapat duduk diam dengan tangan terlipat sampai saat itu.
"Lalu motif," kata Bu Ngatiyem, dan ruang balai mendadak sunyi karena semua tahu ini inti. "Tujuh gunung. Kalau koperasi punya semuanya, koperasi punya tujuh gunung juga? Kalau suatu hari rapat anggota memutuskan, dengan suara terbanyak, untuk menjual motif itu, atau mengubahnya, atau melisensikannya ke pabrik—itu sah? Karena suara terbanyak?"
Sekar menatap perempuan tua itu, dan ia bersyukur ia sudah memikirkan ini bersama Bujang sebelum rapat, karena tanpa jawaban, rapat ini akan pecah di sini. "Tidak, Bu," katanya. "Dan justru itu yang paling penting dari semua aturan ini."
Ia menjelaskan, perlahan, gagasan yang ia rumuskan berminggu-minggu di buku butiknya. Koperasi mengurus dagang—pembelian benang, penjualan kain, pembagian untung, gaji, pesanan. Itu boleh diputuskan dengan suara terbanyak, karena itu urusan uang dan kerja, dan urusan uang memang harus terbuka pada banyak suara. Tapi tujuh gunung tidak masuk ke harta koperasi. Tujuh gunung tetap berada di bawah keputusan pemegang adat—Mbah Sumirah selama beliau hidup, dan sesudahnya siapa pun yang ditunjuk menurut adat, bukan dipilih menurut suara terbanyak. Motif sakral tak bisa dijual, tak bisa diubah, tak bisa dilisensikan oleh keputusan rapat. Bahkan jika seluruh anggota koperasi sepakat menjualnya, mereka tak punya wewenang, karena motif itu bukan milik koperasi—koperasi hanya berhak menenun dan menjual kain yang memakainya, tidak berhak atas motifnya sendiri.
"Jadi koperasi boleh hidup dari tujuh gunung," kata Sekar, "tapi tidak boleh memiliki tujuh gunung. Sama seperti kita boleh hidup dari tanah leluhur tapi tidak boleh menjualnya. Yang dagang, di bawah koperasi, terbuka, banyak suara. Yang sakral, di bawah adat, tertutup dari suara terbanyak, dijaga oleh pemegang yang ditunjuk. Dua hal, dua pintu, supaya yang satu tidak bisa menjual yang lain di malam yang putus asa."
Bu Ngatiyem menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya sejak benang pucat ditemukan, sesuatu di wajahnya yang menyerupai rasa lega muncul. "Kamu memisahkan jiwa dari dagang," katanya pelan, seperti orang yang baru menemukan kata untuk sesuatu yang selama ini ia rasakan tapi tak bisa ucapkan. "Supaya dagang tidak bisa menjual jiwa, meski dagang yang menghidupkannya."
"Iya, Bu."
"Kalau begitu," kata perempuan tua itu, dan tangannya yang terlipat akhirnya terbuka, "aku tidak menentang koperasimu. Asal pintu yang menjaga tujuh gunung itu tidak pernah bisa dibuka oleh suara terbanyak. Tulis itu paling jelas dari semua aturan. Tulis itu paling besar."
Rapat berakhir ketika matahari sudah benar-benar turun, dengan kesepakatan yang lelah dan tak sempurna, dengan banyak hal yang masih harus diperinci dan diakta-kan, dengan ketakutan yang belum sepenuhnya hilang dari mata orang-orang tua tentang kampung yang berubah jadi kantoran. Tapi mereka pulang dengan satu hal yang belum pernah kampung punya: sebuah bentuk yang melindungi penenun secara bersama tanpa menggadaikan yang sakral, sebuah jawaban atas siapa yang berhak memutuskan—penenunnya, untuk dagang; adatnya, untuk jiwa. Dan Sekar berjalan pulang dalam gelap, lelah sampai ke tulang, tapi untuk pertama kalinya merasa kampung tak lagi bertumpu pada lehernya sendirian, melainkan mulai berdiri di atas banyak kaki.