Sekar mendatangi Bu Ngatiyem pagi-pagi sekali, sebelum subuh sepenuhnya pergi, ketika perempuan tua itu sudah duduk di alat tenunnya seperti selalu, tangannya mengikat tujuh gunung dalam gelap yang nyaris sempurna karena tangan itu tak butuh mata lagi.
Ia menjelaskan semuanya. Sapta Giri. Merek yang didaftarkan Bagas. Bagaimana negara hanya mengenal yang tertulis dan terdaftar, bukan yang dihafal dan diwariskan. Bagaimana untuk melindungi tujuh gunung dari diikat orang lain, kampung harus mendaftarkannya lebih dulu sebagai milik komunal—dan untuk itu harus membuktikan motif ini asli, tua, terikat pada Watu Lawang. Dan untuk membuktikan itu, mereka harus mendokumentasikannya. Menuliskan nama-namanya. Maknanya. Cara mengikatnya.
Ia belum selesai bicara ketika tangan Bu Ngatiyem berhenti di tengah ikatan.
"Tidak."
Hanya satu kata, dan dalam satu kata itu ada seluruh keyakinan yang ia jaga seumur hidup.
"Bu, kalau kita tidak"
"Tidak." Bu Ngatiyem berbalik di kursinya, dan wajahnya di cahaya subuh yang pucat keras seperti batu gunung yang menamai motifnya. "Kamu tahu kenapa tujuh gunung tidak pernah ditulis, Sekar? Bukan karena kami malas. Bukan karena kami tidak bisa menulis. Karena yang tidak ditulis tidak bisa dicuri. Selama nama-nama itu cuma di kepala kami, di kepala nenekmu, di kepalaku, di kepala beberapa perempuan tua yang tinggal—selama itu, tidak ada orang luar yang bisa mengambilnya. Mereka bisa lihat kainnya, tapi mereka tidak tahu nama yang mana untuk gunung yang mana, makna garis yang mana, kenapa kerapatannya begini bukan begitu. Itu yang menjaga kami. Bukan pagar bambu. Bukan hukum kotamu. Diam kami. Begitu kamu tulis di kertas, kertas itu bisa difoto, bisa disalin, bisa dibawa keluar. Kamu mau melindungi tujuh gunung dengan cara yang persis membuatnya bisa diambil. Menulisnya sama dengan membuka pagar."
Dan Sekar berdiri di kolong subuh itu, menghadapi kebenaran kuno itu, dan menyadari betapa benar Bu Ngatiyem dalam logika dunia lama—dunia di mana perlindungan terbaik adalah kerahasiaan, di mana yang sakral dijaga dengan tak diucapkan. Selama berabad-abad logika itu bekerja. Selama dunia di sekitar kampung juga bekerja dengan hafalan dan mulut ke mulut, tak menuliskan sesuatu memang menjaganya.
Tapi dunia sudah berubah, dan Sekar tahu, dengan kepahitan orang yang harus mengantarkan kabar buruk pada orang yang ia hormati, bahwa logika lama itu kini justru yang membahayakan.
"Bu," katanya, perlahan, mencari kata-kata yang tak akan menghina kebijaksanaan yang sudah salah zaman. "Bu benar. Dulu, diam menjaga kita. Tapi dunia di luar sudah berhenti main dengan diam. Bagas tidak butuh tahu nama-nama gunung kita untuk mengikatnya. Dia tidak mencuri rahasia kita. Dia daftarkan merek mirip, dan negara akan tanya: siapa yang punya bukti motif ini sudah ada lebih dulu? Bagas punya berkas. Punya pengacara. Punya tanggal pendaftaran. Dan kita punya apa, Bu? Kita punya ingatan di kepala Bu, di kepala nenek yang tidak bisa bicara lagi, di kepala beberapa perempuan tua. Di mata hukum, ingatan yang tidak tertulis itu... tidak ada. Diam kita yang dulu jadi pagar, sekarang jadi lubang. Karena kalau kita tidak bisa tunjukkan apa pun di atas kertas, di mata negara seolah tujuh gunung tidak punya pemilik. Dan yang tidak punya pemilik, diambil yang pertama daftar."
Bu Ngatiyem diam, dan di balik kerasnya Sekar bisa melihat sesuatu retak—bukan keyakinannya, tapi keyakinannya bahwa zaman masih sama.
"Aku tahu ini terdengar seperti aku menyuruh Bu merobohkan pagar yang Bu jaga seumur hidup," lanjut Sekar. "Tapi tolong dengar bedanya. Dulu kita tidak menulis supaya orang luar tidak bisa ambil. Sekarang kita menulis supaya orang luar tidak bisa ambil. Tujuannya sama, Bu—persis sama—menjaga tujuh gunung tetap milik kampung. Yang berubah cuma caranya, karena dunianya berubah. Dulu kertas adalah pintu yang membuka. Sekarang, kalau kita yang menulisnya, kalau kita yang mendaftarkannya sebagai milik komunal kampung yang tidak bisa diklaim siapa pun—kertas itu jadi perisai. Bukan pintu. Perisai. Kertas yang kita pegang melawan kertas yang mereka pegang. Kalau kita tidak punya kertas, kita kalah tanpa bertanding. Kalau kita punya kertas lebih dulu, dan kertas itu bilang ini milik kampung, milik bersama, tidak bisa dijual, tidak bisa dipatenkan satu perusahaan—maka Bagas yang harus mundur."
Lama sekali Bu Ngatiyem tak bicara. Subuh menua menjadi pagi di luar kolong, dan derit alat tenun di kolong-kolong lain mulai terdengar, kampung yang bangun ke hari kerjanya tanpa tahu nasib motifnya sedang ditimbang di subuh ini.
"Menulis sebagai perisai," Bu Ngatiyem akhirnya mengulang, pelan, mencoba kata-kata itu di lidahnya seperti mencoba benang yang asing. "Bukan menulis sebagai pintu."
"Iya, Bu. Dan kita yang menulisnya. Bukan Bagas. Bukan orang luar. Kita. Supaya yang tertulis itu benar, dari mulut yang berhak, bukan tafsir orang kota yang salah baca. Kalau kita tidak menulisnya, suatu hari orang lain yang menuliskannya, dan yang mereka tulis akan jadi yang dianggap benar oleh dunia. Lebih baik tujuh gunung dituliskan oleh tangan yang mewarisinya, daripada oleh tangan yang merampasnya."
Sesuatu di bahu perempuan tua itu turun, seperti beban yang akhirnya diakui terlalu berat untuk ditahan sendiri. Ia menatap ke arah rumah, ke arah amben tempat Mbah Sumirah berbaring di balik dinding bambu, sahabatnya, pemegang sebelumnya, yang kini tak bisa bicara untuk menimbang keputusan sebesar ini.
"Kalau Sumirah masih bisa bicara," kata Bu Ngatiyem, suaranya melembut untuk pertama kalinya, "aku mau tanya dia dulu. Tapi dia tidak bisa." Ia menarik napas panjang, napas orang yang menyerahkan sesuatu yang ia tahu tak akan pernah bisa diambil kembali. "Kita tanya dia dengan cara lain. Kita tanya dengan matanya. Dan kalau matanya bilang ya—kalau tangannya yang lemah itu memberi tanda—maka kita tulis. Tapi kita tulis bersama, Sekar. Setiap nama, setiap makna, harus keluar dari mulut yang berhak, dengan kau yang menulis dan aku yang menjaga supaya tidak ada satu garis pun yang salah. Karena kalau kita salah menulisnya, perisai itu retak, dan retak di perisai lebih buruk daripada tidak punya perisai sama sekali."
Sekar mengangguk, dan dalam dadanya rasa lega bercampur dengan beban yang baru. Mereka belum menang. Berkas belum dibuat, saksi belum dikumpulkan, dan Bagas sudah lebih dulu di meja dengan 'Sapta Giri'-nya. Tapi pagar yang paling sulit baru saja terbuka—bukan pagar bambu kampung, melainkan pagar di hati Bu Ngatiyem—dan untuk pertama kalinya, yang selama berabad-abad sengaja disimpan dalam diam akan dipindahkan ke kertas, bukan untuk dibuka pada dunia, melainkan untuk ditegakkan melawannya. Dan Sekar tahu, sambil menatap pagi yang sudah penuh, bahwa pekerjaan menuliskan tujuh gunung—nama demi nama, makna demi makna—akan menjadi salah satu hal paling menyentuh dan paling menakutkan yang pernah kampung lakukan, sebuah pemindahan jiwa dari mulut ke kertas yang harus dilakukan dengan tepat, karena di atas ketepatan itu kini bergantung apakah tujuh gunung tetap milik tangan-tangan yang menghidupinya, atau lepas ke tangan yang lebih cepat sampai di meja.