Mereka memulainya di kolong, bukan di balai, karena Bu Ngatiyem bersikeras bahwa pekerjaan ini tidak boleh dilakukan di tempat orang lewat. Sekar membawa buku tulis bersampul cokelat yang dulu ia pakai mencatat harga di butik kota, dan ketika ia meletakkannya di atas amben kecil di samping alat tenun, ia merasakan tangannya sendiri ragu. Buku itu kosong. Halaman pertama putih seperti kain yang belum dicelup. Dan di atas halaman putih itu, untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, nama-nama yang selama ini hanya hidup di mulut dan di kepala akan dipindahkan ke tempat yang bisa dibaca mata asing.
Bu Ngatiyem duduk di amben dengan punggung tegak, tangannya melipat di pangkuan seolah menahan diri agar tidak mengambil buku itu dan membakarnya. Di sudut, di balik dinding bambu yang dibuka separuh, Mbah Sumirah berbaring miring menghadap mereka. Matanya terbuka. Tangan kanannya yang lemah terletak di atas selimut, jari-jarinya sesekali bergerak kecil seperti masih mengikat benang dalam tidur yang panjang.
"Kita mulai dari yang pertama," kata Sekar pelan. "Gunung yang paling dekat. Yang menatap kampung."
Bu Ngatiyem menutup matanya sejenak. Ketika ia membuka mulut, suaranya rendah, seolah ia sedang mengucapkan sesuatu yang dilarang diucapkan keras-keras. "Wungkal. Itu yang pertama. Batu asahan. Gunung yang mengajari kami bahwa segala yang tajam mula-mula tumpul, dan harus diasah dengan sabar di atas batu. Garis pertama selalu yang paling rapat. Karena yang dekat dengan kita, yang menjaga kita, paling banyak kita sentuh."
Sekar menulis. Tangannya bergetar saat huruf-huruf itu jatuh ke halaman. W-u-n-g-k-a-l. Lalu di sampingnya, dengan tulisan yang lebih kecil, ia mencatat makna itu—batu asahan, garis paling rapat, gunung penjaga. Ia menulis pula angka kerapatan yang Bu Ngatiyem sebutkan, berapa helai untuk satu jengkal, bagaimana ikatannya tidak boleh longgar sehelai pun.
"Yang kedua," lanjut Bu Ngatiyem, dan kini suaranya sedikit lebih kuat, seperti orang yang sudah terlanjur masuk ke air dingin dan memutuskan untuk terus berenang. "Sela Putih. Batu yang putih di lereng atas, yang kelihatan jelas waktu kemarau, hilang waktu hujan. Gunung yang mengajari kami bahwa ada yang tampak dan ada yang sembunyi, dan keduanya nyata. Garisnya diberi celah. Bukan rapat. Karena yang sembunyi pun harus diberi tempat."
Mereka bekerja sampai matahari naik tinggi. Watu Gentong, gunung ketiga, yang puncaknya berbentuk gentong tempat air—lambang penampung, yang menerima dari langit dan memberi pada tanah. Bu Ngatiyem menjelaskan tiap nama dengan kehati-hatian seorang yang sedang memindahkan bara dengan tangan telanjang, dan Sekar mencatat tiap kata, lalu membacanya keras-keras kembali agar perempuan tua itu bisa membenarkan jika ada yang meleset.
Lalu mereka tiba di gunung keempat, dan Bu Ngatiyem berhenti.
"Yang ini," katanya, "aku tidak yakin. Sumirah yang lebih tahu. Ini gunung yang ia pegang sebelum aku. Aku tahu garisnya, aku tahu cara mengikatnya, tapi namanya... aku takut salah menyebutnya. Dan kalau aku salah menulis nama, itu lebih buruk daripada tidak menulis."
Mereka berdua menoleh ke amben. Mbah Sumirah menatap balik. Sekar bangkit, melangkah ke sisi neneknya, dan berlutut sehingga wajahnya sejajar dengan wajah perempuan tua yang melahirkan ibunya itu.
"Mbah," bisik Sekar. "Gunung keempat. Yang Mbah pegang. Kami mau menulisnya, supaya tidak ada yang bisa mengambilnya. Mbah izinkan?"
Lama tak ada gerakan. Lalu jari-jari di atas selimut itu bergerak—bukan acak kali ini, tapi terarah—dan menggambar di udara, di permukaan selimut, sebuah garis. Satu garis lurus turun, lalu berbelok. Sekar mengamatinya, jantungnya berdebar. Garis itu membentuk sesuatu, sebuah bentuk yang ia kenal dari motif yang sudah ribuan kali ia lihat tanpa pernah tahu namanya.
"Tangkeban," kata Bu Ngatiyem tiba-tiba, dari belakang, suaranya pecah. "Gunung yang melipat. Itu namanya. Sumirah, itu Tangkeban, kan? Yang lerengnya melipat seperti kain dijemur."
Mata Mbah Sumirah memejam, lalu terbuka. Sekali. Perlahan. Dan dari sudut matanya, mengalir setitik air yang tidak pernah Sekar lihat sebelumnya di wajah keras neneknya. Tangan tua itu terangkat sedikit, gemetar, dan menyentuh punggung tangan Sekar—sentuhan paling ringan, hampir tak terasa, tapi cukup.
Izin.
Sekar menulis. Tangkeban. Gunung yang melipat. Dipegang Mbah Sumirah. Dan ketika ia menuliskannya, ia mengerti bahwa yang sedang mereka lakukan bukanlah membongkar pagar, melainkan memindahkan jiwa dari satu wadah yang akan segera kosong ke wadah lain yang bisa bertahan. Mbah Sumirah tak akan selamanya ada untuk mengingat. Tapi kertas ini akan. Dan untuk pertama kalinya, menulis terasa bukan seperti pengkhianatan, melainkan seperti menggendong sesuatu yang terlalu berat untuk dibiarkan jatuh.
Mereka berhenti di gunung keempat hari itu. Tiga gunung lagi menunggu, dan Bu Ngatiyem berkata mereka harus mengumpulkan saksi sebelum menulis sisanya—orang-orang tua dari kampung sebelah yang juga mengenal nama-nama itu, agar yang tertulis tidak hanya satu mulut, melainkan banyak, agar perisai itu tebal dan tak mudah retak.
Malamnya, Sekar memandangi buku cokelat itu di bawah lampu minyak. Empat nama. Empat makna. Empat gunung yang kini ada di dua tempat sekaligus—di kepala perempuan tua, dan di kertas yang ia genggam. Ia menutup buku itu dan menyimpannya di dada lemari, di bawah kain-kain yang belum terjual, dan ia tahu bahwa mulai malam ini, kampung Watu Lawang memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dimilikinya: bukti.