Kampung sebelah bernama Kalitumpang, terletak di balik punggung bukit yang sama, ditempuh dengan ojek yang Bujang carikan lalu jalan kaki menyusuri pematang selama hampir satu jam. Sekar membawa buku cokelatnya, terbungkus plastik di dalam tas, dan Bu Ngatiyem yang bersikeras ikut meski lututnya sudah tak ramah pada tanjakan. Mereka pergi mencari Mbah Tijah, penenun tua yang dulu, kata Bu Ngatiyem, sering bertukar benang dengan Mbah Sumirah di pasar kecamatan dan mengenal tujuh gunung dari sisi yang lain.
Apa yang Sekar temukan di Kalitumpang membuat dadanya sesak dengan cara yang tak ia duga. Kampung itu lebih sepi dari Watu Lawang. Alat-alat tenun di kolong rumah teronggok berdebu, banyak yang sudah jadi sangkar ayam atau tempat menumpuk kayu bakar. Anak-anak muda di sana, kata seorang perempuan yang menumbuk kopi di halaman, sudah lama tak ada yang menenun. Yang tersisa hanya beberapa nenek yang menenun untuk diri sendiri, untuk kain kafan, untuk cucu yang menikah—bukan untuk dijual, karena tak ada lagi yang membeli.
Mbah Tijah menerima mereka di amben yang mirip amben Mbah Sumirah, dengan punggung membungkuk dan mata yang masih awas. Ketika Bu Ngatiyem menjelaskan maksud mereka—bahwa ada orang kota yang hendak mengaku-aku tujuh gunung lewat kertas, dan mereka harus menulisnya lebih dulu—perempuan tua itu diam lama, mengunyah sirih, lalu tertawa pahit.
"Jadi sekarang gunung pun diperebutkan di atas meja," katanya. "Dulu kita berebut benang murah. Sekarang berebut nama."
Ia bersedia menjadi saksi. Lebih dari itu, ia menyebut nama gunung kelima dengan suara yang sama mantapnya dengan Bu Ngatiyem menyebut yang pertama: Pawon. Gunung yang berasap di pagi hari karena kabut, dinamai seperti dapur. Gunung yang mengajari bahwa di tempat tersembunyi pun selalu ada yang dimasak, ada yang dihidupi. Dan Bu Ngatiyem mengangguk, matanya berkaca—dua mulut tua dari dua kampung yang berbeda menyebut nama yang sama, makna yang sama, dan itulah bukti yang dicari Sekar. Bukan satu ingatan yang bisa dibantah, melainkan ingatan bersama yang berakar lebih dalam dari satu orang.
Sekar menulis. Tapi tangannya bergetar bukan karena gunung kelima. Ia bergetar karena sesuatu yang lebih besar baru saja terbuka di kepalanya.
Dalam perjalanan pulang, ia bercerita pada Bu Ngatiyem yang berjalan tertatih di sampingnya. "Bu, ini bukan cuma soal kita. Kalitumpang sekarat. Mungkin ada kampung lain di balik bukit-bukit ini yang juga sekarat. Kita semua memegang motif yang sama, atau motif yang mirip, dan kita semua sendiri-sendiri, dan satu per satu kita mati. Bagas tidak cuma mengancam Watu Lawang. Dia mengancam semua kampung yang punya tujuh gunung. Karena kalau dia daftarkan dulu, semua kampung ini kehilangan haknya sekaligus."
Bu Ngatiyem berhenti berjalan, bersandar pada tongkat bambunya, napasnya pendek-pendek. "Lalu apa yang mau kau lakukan? Kau cuma satu orang, Sekar. Kau bahkan belum bisa menyelamatkan kampungmu sendiri."
Kalimat itu menusuk, tapi Sekar tahu itu bukan untuk melukai—itu kebenaran yang harus ia dengar. Ia memang baru bertahan, belum menang. Kasnya tipis. Utang Andien belum lunas. Yanti masih di pabrik. Dan kini ia melihat ladang masalah yang jauh lebih luas dari satu kampung.
Tapi di tengah luasnya itu, ia juga melihat sesuatu yang lain. Jika ia mengumpulkan kampung-kampung ini—jika bukan hanya Watu Lawang yang mendaftarkan tujuh gunung melainkan sebuah jaringan kampung yang bersama-sama mengaku memiliki motif itu sejak lama—maka klaim mereka jauh lebih kuat dari klaim satu perusahaan. Bagas punya pengacara dan tanggal pendaftaran. Tapi ia tidak punya tujuh kampung tua yang menyebut nama yang sama dari mulut yang berbeda. Kekuatan yang selama ini dianggap kelemahan—bahwa pengetahuan ini tersebar, tak terpusat, hanya hidup di kepala perempuan-perempuan tua—justru bisa menjadi pertahanan terkuat mereka, jika ia bisa menyatukannya.
"Aku tidak akan menyelamatkan mereka sendirian, Bu," kata Sekar pelan. "Aku mau kita saling menyelamatkan. Watu Lawang menulis. Kalitumpang ikut menulis. Kampung-kampung lain ikut. Dan ketika orang kota datang dengan kertasnya, kita punya kertas yang lebih banyak, dari lebih banyak mulut, dengan akar yang lebih dalam."
Bu Ngatiyem memandanginya lama di tengah pematang, di antara dua kampung yang sama-sama hampir mati. Lalu ia mulai berjalan lagi, perlahan, dan tidak mengatakan apa-apa selain, "Besok kita ke kampung Mbah Tijah lagi. Dia bilang ada penenun tua di Sumberarum yang memegang gunung keenam. Aku sudah lupa namanya. Tapi dia ingat."
Dan dalam kalimat itu, Sekar mendengar persetujuan yang lebih berharga dari tanda tangan apa pun. Perjuangannya baru saja membesar dari satu kampung menjadi sebuah tradisi—dan beban di pundaknya bertambah berat, tapi kini ia tahu ia tidak memikulnya sendirian.