Kabar itu datang lewat Bujang, yang membawanya pulang dari pasar tekstil grosir kecamatan dengan wajah yang membuat Sekar tahu sesuatu telah berubah sebelum sepupunya membuka mulut. Ia menggelar selembar kain di atas meja balai, kain pabrik yang halus dan rata, dengan cetakan tujuh garis yang menanjak—penyederhanaan yang sama dengan logo merek yang didaftarkan Bagas. Sapta Giri. Kain itu sudah beredar. Bukan banyak, kata Bujang, tapi ada. Dijual di kios-kios sebagai 'kain motif heritage', dengan harga sepertiga kain tangan Watu Lawang.
"Mereka bilang uji pasar," kata Bujang. "Cetak terbatas dulu, lihat reaksi. Tapi Sekar, di mata orang yang beli, ini sama saja. Motifnya mirip. Warnanya lebih terang malah, lebih 'jadi'. Dan murah. Yang nawar kain kita di pasar tadi langsung bilang, 'lah ini ada yang mirip cuma seratus ribuan, kenapa punyamu jutaan?'"
Sekar mengambil kain itu dan merabanya. Tangannya yang sudah belajar mengikat dan menenun langsung tahu—ini mati. Tak ada napas di dalamnya. Garis-garisnya terlalu sempurna, terlalu rata, seperti gunung yang digambar mistar, bukan gunung yang diikat tangan yang gemetar oleh usia dan ingatan. Tapi ia juga tahu, dengan kepahitan yang dingin, bahwa tangannya bisa membedakan itu justru karena ia penenun. Mata pembeli di pasar grosir tidak bisa. Bagi mereka, dua kain bermotif tujuh gunung tergeletak bersebelahan, satu jutaan satu ratusan ribu, dan yang murah menang.
Ini yang paling ia takuti, dan kini terwujud bukan sebagai pencurian yang bisa ia tuntut, melainkan sebagai penyerupaan yang sah. Bagas tidak mengambil apa-apa dari kampung. Ia tidak menyalin nama-nama gunung yang belum sempat ditulis. Ia hanya melihat bentuk, menyederhanakannya, mencetaknya, dan menjualnya dengan harga yang mustahil dilawan tangan manusia. Dan selama hak komunal kampung belum disahkan—proses yang Sekar tahu bisa makan waktu bertahun—tak ada yang ilegal dari apa yang Bagas lakukan.
Ia membawa kain itu ke kolong Bu Ngatiyem, dan ia takut akan reaksi perempuan tua itu. Tapi yang terjadi mengejutkannya. Bu Ngatiyem mengambil kain itu, merabanya sebentar, lalu meletakkannya kembali dengan tenang yang dingin.
"Ini bukan tujuh gunung," katanya. "Ini gambar tujuh gunung. Beda. Tujuh gunung itu bukan cuma bentuknya, Sekar. Itu kerapatan yang berubah dari gunung ke gunung. Itu celah di Sela Putih, itu lipatan di Tangkeban, itu garis Wungkal yang paling rapat karena dia penjaga. Kain ini garisnya sama semua. Lebar sama, rapat sama, dari atas ke bawah. Orang yang membuatnya tidak tahu apa yang dia tiru. Dia cuma menyalin yang kelihatan, bukan yang dimaksudkan."
Sekar menatap kain itu lagi, dan kini ia melihatnya. Bu Ngatiyem benar. Yang ditiru hanyalah kulit. Isinya—makna kerapatan, perbedaan tiap gunung, alasan di balik tiap garis—tak terbawa, karena yang membuat cetakan itu tak pernah tahu makna itu ada. Tujuh gunung di kain pabrik ini hanyalah tujuh garis miring. Indah, mungkin. Tapi kosong.
Masalahnya, Sekar tahu, pembeli tidak melihat itu. Belum. Pembeli melihat harga.
"Bu," katanya pelan, "masalahnya bukan kainnya bohong. Masalahnya orang belum tahu cara melihat bedanya. Mereka lihat garis miring jutaan dan garis miring ratusan ribu. Kalau mereka tidak diajari melihat tangan di balik kain kita, mereka akan selalu pilih yang murah. Dan tiap orang yang beli kain pabrik ini sambil mengira sudah punya tujuh gunung... itu satu pembeli yang hilang dari kita, dan satu orang yang akan bilang ke temannya bahwa tujuh gunung itu murah."
Ia duduk di kolong itu, di antara derit alat tenun yang lambat dan sabar, dan memandangi kain mati di tangannya. Pertarungan ini, ia sadari, tak bisa dimenangkan dengan harga—kampung akan selalu kalah cepat dan kalah murah dari mesin. Tak bisa pula dimenangkan dengan hukum saja—prosesnya terlalu lambat, dan sementara kertas perlindungan masih diproses di meja birokrasi, kain-kain cetak ini terus beredar, terus mengaburkan, terus menggerus nilai tujuh gunung di mata orang yang belum bisa membedakan.
Yang bisa ia lakukan, satu-satunya yang bisa ia lakukan, adalah mengajari pasar melihat. Membuat orang mengerti bahwa kain tangan dan kain mesin bukan dua versi murah dan mahal dari barang yang sama, melainkan dua hal yang sama sekali berbeda—seperti foto bunga dan bunga sungguhan. Tapi bagaimana mengajari mata yang sudah terlatih hanya melihat harga untuk melihat tangan? Itu pekerjaan yang lebih sulit daripada menenun, lebih sulit daripada berdagang, lebih sulit daripada apa pun yang pernah ia lakukan.
"Aku harus membuat mereka melihat," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. Dan Bu Ngatiyem, yang sudah kembali ke alat tenunnya, menjawab tanpa menoleh, "Maka tunjukkan tanganmu, Nak. Bukan kainnya. Tanganmu."