Sekar menghabiskan tiga malam tidak tidur memikirkan cara menunjukkan apa yang tak terlihat. Ia membentangkan dua kain di atas meja butiknya—maksudnya, di atas meja makan rumahnya yang ia jadikan meja kerja—kain tangan Watu Lawang dan kain cetak Sapta Giri yang Bujang beli dengan uangnya sendiri sebagai contoh. Di bawah lampu, dari kejauhan tiga langkah, keduanya tampak serupa. Garis tujuh gunung yang sama. Warna biru tarum dan merah mengkudu yang sama, meski yang cetak lebih cerah dan rata.
Lalu ia mendekat, dan perbedaan itu muncul—tapi hanya bagi mata yang tahu di mana harus mencari.
Kain tangan punya tepi yang hidup. Benang lungsinnya di pinggir tidak lurus sempurna; ada tarikan halus, ada simpul kecil tempat seorang penenun menyambung benang yang putus, ada bagian di mana warna sedikit lebih tua karena celupan terakhir menyerap berbeda. Garis tujuh gunung tidak pernah persis sama lebarnya dari kiri ke kanan; di satu titik Wungkal lebih rapat karena tangan yang mengikatnya hari itu memutuskan demikian. Di balik kain, simpul-simpul ikat masih terasa, kasar dan jujur. Kain itu tidak rata. Dan justru ketidakrataannya, Sekar sadari, adalah tanda tangan ribuan keputusan kecil tangan manusia.
Kain cetak rata sempurna. Tepinya lurus seperti penggaris. Tiap garis lebar yang sama, jarak yang sama. Baliknya pucat, gambar tercetak hanya di satu sisi, seperti foto yang ditempel di kertas. Tak ada simpul, tak ada sambungan, tak ada keputusan. Tak ada tangan.
"Itu dia," kata Sekar pada Bujang keesokan paginya. "Kesempurnaan justru kelemahan mereka. Mesin tidak bisa tidak sempurna. Tapi tangan tidak bisa sempurna. Dan ketidaksempurnaan itulah yang membuktikan ada manusia di baliknya. Kita harus berhenti malu pada ketidakrataan kain kita. Itu bukan cacat. Itu cap jari."
Mereka menyusun cara menunjukkannya. Sekar memotret keduanya berdampingan dari dekat sekali—tepi yang hidup di samping tepi yang mati, balik kain yang bersimpul di samping balik yang pucat. Ia menulis bukan untuk menjelekkan kain pabrik, melainkan untuk menerangkan: yang satu lahir dari mesin dalam hitungan menit, yang satu lahir dari tangan dalam hitungan minggu. Yang satu seragam karena diprogram, yang satu unik karena tiap helai diputuskan. Ia menambahkan foto tangan Bu Lastri yang membiru oleh tarum, foto simpul-simpul ikat yang Bu Ngatiyem buat di subuh-subuh dingin, foto buku cokelat berisi nama-nama gunung yang tak akan pernah dimiliki kain cetak karena yang mencetaknya tak pernah tahu nama itu ada.
Lalu ia memikirkan sertifikat. Tiap kain Watu Lawang akan keluar dengan secarik kertas bertanda tangan—nama penenun yang mengerjakannya, tanggal selesai, gunung mana yang ia pegang, nomor edisi. Sesuatu yang bisa dipegang pembeli, yang berkata: di balik kain ini ada nama, ada tangan, ada manusia yang bisa kau sebut. Kain cetak tak punya nama. Ia keluar dari mesin tanpa orang tua, tanpa cerita, tanpa siapa pun yang bisa kau ucapkan terima kasih.
Ketika ia menjelaskan rencana sertifikat ini pada Bu Ngatiyem, perempuan tua itu mengernyit. "Kau mau menulis nama kami di kertas yang dibawa orang lain?"
"Iya, Bu."
"Selama ini kami menenun tanpa nama. Kain keluar, kami tidak pernah tahu siapa yang memakainya. Tidak pernah ada yang tahu siapa yang membuatnya."
"Itu masalahnya, Bu," kata Sekar. "Selama ini tangan Bu anonim. Orang membeli kain, memuji kain, tapi tidak pernah tahu ada Bu Ngatiyem yang mengikatnya sebelum subuh, ada Bu Lastri yang tangannya biru. Kain pabrik bisa meniru garis tujuh gunung. Tapi mereka tidak bisa meniru nama Bu. Tidak bisa meniru bahwa kain ini dikerjakan oleh perempuan dari Watu Lawang yang menyimpan tujuh gunung di kepalanya. Kalau orang membeli karena ada nama di baliknya, kain pabrik kalah—karena kain pabrik tidak punya siapa-siapa di baliknya."
Bu Ngatiyem terdiam lama. Pertarungan, Sekar sadari, telah bergeser. Dulu mereka melawan harga, dan kalah. Kini mereka melawan dengan makna, dan untuk menang, mereka harus mengajari pembeli melihat sesuatu yang lebih sulit dilihat daripada angka di label—mereka harus mengajari pembeli melihat tangan, melihat nama, melihat tahun-tahun di balik sehelai kain. Itu pekerjaan yang lambat, sama lambatnya dengan menenun. Tapi mungkin, pikir Sekar, justru karena itulah ia cocok untuk kampung yang seluruh nilainya terletak pada kelambatan.
"Kalau namaku ditulis," kata Bu Ngatiyem akhirnya, pelan, "orang akan tahu kalau aku salah."
"Orang akan tahu kalau Bu benar," jawab Sekar. "Dan Bu hampir tidak pernah salah."
Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, sudut bibir perempuan tua itu terangkat sedikit—bukan senyum, tapi sesuatu yang dekat dengan itu. Dan Sekar tahu, ia baru saja memenangkan satu garis kecil dalam pertempuran panjang yang masih jauh dari selesai.