Pekerjaan menyiapkan sertifikat dan menyusun cerita kain terhenti pada suatu malam ketika Bu Lastri datang mengetuk pintu Sekar dengan napas tersengal. Mbah Sumirah, katanya, sejak sore tidak mau membuka mata, dan napasnya berbunyi seperti angin yang menyusup celah dinding.
Sekar berlari menembus gelap kampung, melewati kolong-kolong yang sudah sunyi, dan menemukan neneknya berbaring di amben dengan dada yang turun-naik berat. Bibir tua itu kering. Tangan yang biasa bergerak kecil seperti mengikat benang kini diam sepenuhnya. Sekar duduk di sisinya, menggenggam tangan itu, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan ia merasa kembali menjadi anak kecil yang dulu tidur berbantal pangkuan neneknya sambil mendengar derit tenun sebagai dongeng pengantar tidur.
Mereka memanggil mantri dari kampung sebelah, yang datang menjelang tengah malam, memeriksa, lalu berkata dengan hati-hati apa yang sebenarnya sudah Sekar tahu: neneknya melemah. Bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan obat. Ini tubuh yang sudah lama bekerja, yang benang-benangnya sendiri sudah menipis. Yang bisa mereka lakukan hanya membuatnya nyaman, menjaganya tidak kesakitan, dan menemani.
Sekar terbelah, dan ia membenci dirinya karena terbelah. Sebagian dirinya ingin meninggalkan segala urusan tujuh gunung—Bagas, kain cetak, sertifikat, hak komunal—dan duduk di sisi neneknya sampai akhir. Tapi sebagian lain tahu bahwa justru karena neneknya melemah, pekerjaan itu makin mendesak. Tiga gunung terakhir belum semua tertulis. Saksi belum semua dikumpulkan. Dan jika Mbah Sumirah pergi sebelum nama-nama itu lengkap dan aman, sebagian dari tujuh gunung bisa hilang bersama napasnya yang terakhir, dan tak ada kertas di dunia yang bisa mengembalikannya.
Menjelang subuh, Mbah Sumirah membuka mata.
Sekar yang sedang terkantuk-kantuk di sisi amben langsung terjaga. Mata tua itu tidak menatap langit-langit. Mata itu menatapnya, jernih untuk sesaat, dengan kejernihan yang menakutkan seperti kejernihan langit sebelum hujan besar. Bibir itu bergerak, tapi tak ada suara—suara sudah lama meninggalkan neneknya. Lalu tangan kanan yang lemah itu terangkat, gemetar hebat, dan menunjuk. Menunjuk ke arah alat tenun di sudut kolong, yang sudah lama tak dipakai neneknya, yang benang lungsinnya masih terpasang setengah jadi dari kain terakhir yang tak pernah selesai ia tenun.
Sekar mengikuti arah tunjuk itu, lalu kembali menatap wajah neneknya. "Mbah mau lihat tujuh gunung jadi?" tanyanya, suaranya pecah. "Mbah mau lihat tangan muda mengikatnya?"
Mata itu memejam, lalu membuka. Sekali. Perlahan. Ya.
Dan dalam satu anggukan mata itu, Sekar menerima tenggat yang lebih berat dari semua tenggat yang pernah menjepit lehernya. Bukan tenggat Koh Bandi, bukan tenggat Andien, bukan tenggat birokrasi. Ini tenggat yang tak bisa ditawar, tak bisa diperpanjang, tak bisa dibayar dengan uang. Neneknya ingin melihat tujuh gunung hidup di tangan muda—di tangannya, mungkin, atau di tangan Warni, di tangan generasi yang ia panggil pulang—sebelum ia pergi. Ia ingin tahu, sebelum matanya menutup selamanya, bahwa yang ia titipkan tidak akan mati bersamanya.
Sekar menggenggam tangan itu erat-erat. "Aku janji, Mbah," bisiknya. "Aku janji Mbah akan lihat. Sebelum apa pun. Aku janji."
Ia tahu janji itu nekat. Mengikat motif penuh tujuh gunung butuh waktu, butuh kesabaran, dan tangannya sendiri masih belajar. Tapi ia juga tahu bahwa tak ada pilihan lain. Ada perlombaan administratif dengan Bagas, ada kain cetak yang menggerus pasar, ada utang dan kas tipis. Tapi di atas semua itu kini ada satu pekerjaan yang tak boleh menunggu: menenun satu kain tujuh gunung penuh pakem, dengan tangan muda, dan membawanya ke sisi amben ini sebelum mata neneknya menutup untuk terakhir kali.
Ketika fajar benar-benar datang dan napas Mbah Sumirah kembali tenang dalam tidur yang dalam, Sekar keluar dari kolong itu ke udara dingin pagi. Embun masih menggantung di ujung daun. Di kejauhan, derit pertama alat tenun mulai terdengar dari kolong lain, kampung yang bangun ke hari kerjanya. Sekar berdiri di tengah pagi itu, kelelahan menggantung di tubuhnya, tapi di dalam dadanya ada keputusan yang jernih.
Ia akan menenun kain itu sendiri. Dengan tangannya. Bukan diserahkan pada Warni atau siapa pun. Karena neneknya mewariskan tujuh gunung padanya tanpa kertas, lewat tangan ke tangan, dan satu-satunya cara membayar warisan itu adalah dengan tangan pula—tangannya sendiri, yang dulu lupa cara menenun, kini harus mengingat cukup cepat untuk membuat neneknya tersenyum sebelum pergi. Pekerjaan menyelamatkan kampung bisa menunggu sehari, dua hari. Pekerjaan ini tidak bisa.