Surat dari dinas datang pada hari yang aneh—pada pagi ketika Sekar baru memasang lungsin untuk kain yang ia janjikan pada neneknya, jari-jarinya masih kaku oleh hari-hari belajar ulang mengikat. Bujang yang membawanya, berlari dari kantor kecamatan tempat surat itu dititipkan, dan ia menyodorkannya pada Sekar dengan wajah yang tak bisa ia baca apakah kabar baik atau buruk.
Sekar membaca, dan harus membacanya dua kali karena bahasa surat itu berbelit-belit dengan istilah yang ia tak sepenuhnya pahami. Tapi inti yang ia tangkap, setelah ia membacanya pelan-pelan dan bertanya pada petugas lewat telepon, adalah ini: pengajuan kampung untuk perlindungan komunal atas motif tujuh gunung diterima untuk diproses. Berkas mereka—nama-nama gunung yang ditulis, kesaksian Bu Ngatiyem dan Mbah Tijah, dokumentasi cara ikat, bukti sejarah lisan dari beberapa kampung—dinilai cukup untuk memulai. Dan karena pengajuan itu sudah masuk, klaim merek penuh yang diajukan Rasaraya atas unsur tujuh gunung tidak bisa lagi disahkan secara bersih. Ada keberatan resmi yang kini terdaftar. Bagas tidak bisa lagi mengklaim tujuh gunung sebagai milik eksklusif mereknya.
Sekar duduk di amben, surat itu di tangannya, dan menunggu rasa lega yang seharusnya datang. Tapi yang datang justru campuran yang aneh—lega dan kecewa, bercampur dalam satu tarikan napas.
Karena ketika ia membaca lebih jauh, ia paham bahwa ini bukan kemenangan. Ini baru permulaan dari proses yang, kata petugas, bisa makan waktu bertahun-tahun. Diterima untuk diproses bukan berarti disahkan. Berkas mereka akan ditelaah, diverifikasi, mungkin diminta tambahan bukti, mungkin disanggah. Dan yang lebih pahit: bahkan jika perlindungan itu kelak disahkan, ia tidak otomatis melarang kain bermotif mirip beredar. Hukum melindungi nama tujuh gunung dari diklaim satu perusahaan, tapi hukum tumpul dan lambat ketika menghadapi kain cetak yang sekadar 'terinspirasi' atau 'menyerupai'. Kain Sapta Giri masih akan beredar. Pembeli yang tak bisa membedakan masih akan tertipu. Pasar tetap harus dimenangkan dengan tangan, bukan dengan surat.
"Jadi kita menang?" tanya Bujang, masih berdiri di depan amben.
"Setengah," jawab Sekar. "Kita menghalangi Bagas mengklaim penuh. Itu menang. Tapi kita belum aman, dan kain cetaknya masih beredar. Surat ini cuma bilang: tujuh gunung tidak akan jadi milik satu perusahaan. Surat ini tidak bilang: kampung akan hidup. Itu masih harus kita kerjakan sendiri."
Ia membawa surat itu ke kolong Bu Ngatiyem sore harinya, dan membacakannya keras-keras agar perempuan tua itu mengerti. Bu Ngatiyem mendengarkan dengan kepala miring, tangannya tak berhenti mengikat, dan ketika Sekar selesai, ia diam sebentar sebelum berkata sesuatu yang membuat Sekar terdiam.
"Kertas itu seperti pagar bambu yang baru ditanam," kata Bu Ngatiyem. "Belum kuat. Belum berakar. Angin besar masih bisa merobohkannya. Tapi dia sudah berdiri. Dan pagar yang berdiri, meski lemah, lebih baik daripada tanah kosong yang siapa pun bisa lewat. Kau benar waktu itu, Sekar. Menulis jadi perisai. Perisainya belum tebal. Tapi sudah ada."
Sekar memandangi perempuan tua yang dulu menolak keras gagasan menulis tujuh gunung, yang menyebut kertas sebagai pintu yang membuka pagar. Kini perempuan itu menyebut kertas sebagai pagar yang baru ditanam. Sesuatu telah berubah di dalam dirinya, dan Sekar tahu betapa berat perubahan itu bagi orang seusia Bu Ngatiyem—mengubah keyakinan yang dijaga seumur hidup bukanlah hal kecil.
"Aku belajar satu hal, Bu," kata Sekar pelan, melipat surat itu. "Hukum tidak akan menyelamatkan kita. Hukum cuma menjaga supaya kita tidak dirampas. Tapi yang menyelamatkan kita tetap kain kita sendiri—kalau orang mau membayar tangan kita lebih dari mereka membayar mesin. Surat ini menjaga pintu belakang. Tapi pintu depan, pasar, masih harus kita buka sendiri."
Ia pulang malam itu dengan surat di tas dan kelelahan di tulang, tapi juga dengan kejernihan yang sebelumnya tak ia miliki. Selama ini ia berpikir ada satu kemenangan besar yang akan menyelamatkan semuanya sekaligus—satu tanda tangan, satu pesanan besar, satu surat dari dinas. Kini ia mengerti bahwa tak ada kemenangan tunggal seperti itu. Yang ada hanyalah perisai-perisai kecil yang ditegakkan satu per satu: kertas yang menjaga nama, sertifikat yang menjaga tangan, label yang menjaga cerita, dan di atas semuanya, kain yang cukup bagus sehingga orang rela membayar mahal untuk memilikinya. Tak ada satu pun yang cukup sendiri. Tapi bersama-sama, ditegakkan dengan sabar seperti tujuh garis di kain, mungkin—mungkin—mereka cukup.