Sekar merancang identitas kampung di atas meja makan yang sama, pada malam-malam ketika tangannya terlalu lelah menenun tapi kepalanya terlalu penuh untuk tidur. Ia menggambar sebuah label—bukan logo mewah seperti yang ia lihat di butik kota, melainkan secarik kain kecil yang dijahit di ujung tiap kain tenun, dengan tulisan tangan yang dibordir: nama penenun, gunung yang ia pegang, nomor urut kain, dan tahun.
Lalu, dilipat menyertainya, akan ada secarik kertas tebal—kartu cerita, ia menyebutnya—yang mengisahkan tujuh gunung. Bukan seluruh maknanya, tentu; ada hal-hal yang tetap milik mulut yang berhak, yang tak akan ditulis untuk dibaca orang luar. Tapi cukup untuk membuat pembeli mengerti bahwa kain di tangannya bukan sehelai kain bercorak miring, melainkan sebuah peta—tujuh gunung leluhur kampung Watu Lawang, masing-masing dengan nama dan watak, ditenun oleh tangan yang menyimpan nama-nama itu di kepala. Kartu itu akan ditandatangani penenunnya. Akan mencantumkan bahwa kain ini tak akan pernah persis sama dengan kain lain, karena tak ada dua tangan yang mengikat dengan cara yang sama.
"Ini yang tidak bisa ditiru," kata Sekar pada Bujang, menunjukkan rancangannya. "Bagas bisa cetak garis tujuh gunung. Tapi dia tidak bisa cetak nama Bu Ngatiyem. Tidak bisa cetak fakta bahwa kain ini diikat oleh tangan yang membiru oleh tarum di subuh dingin. Motif bisa diserupai. Tapi cerita di belakangnya tidak. Kalau orang beli karena ceritanya, kita menang—karena cerita kita asli, dan cerita mereka tidak ada."
Masalahnya, ia tahu, ada di kolong Bu Ngatiyem.
Ketika ia membawa rancangan label ke sana, perempuan tua itu menatapnya lama, lalu menggeleng. "Tidak," katanya. "Nama kami tidak ditulis di kain. Selama tujuh turunan, penenun Watu Lawang menenun tanpa nama. Kain keluar dari tangan kami dan pergi ke dunia, dan kami tidak pernah minta dikenang. Kain itu yang penting, bukan tangannya. Kalau kau tulis namaku di sana, kau membuat aku sombong. Membuat aku seperti minta dipuji."
Sekar duduk di depannya, dan untuk sesaat ia tak tahu bagaimana menjawab. Ini bukan soal bisnis. Ini soal sesuatu yang lebih dalam—tentang kerendahan hati yang diwariskan turun-temurun, tentang anggapan bahwa tangan harus tetap tersembunyi di balik karyanya, bahwa menonjolkan diri adalah cacat.
"Bu," katanya akhirnya, hati-hati, "Bu tahu kenapa kain pabrik Bagas bisa menang murah?"
Bu Ngatiyem tak menjawab.
"Karena di mata orang, kain itu tidak punya siapa-siapa di baliknya, dan itu tidak apa-apa. Tidak ada yang merasa kehilangan kalau kain pabrik dibuang. Tapi kain Bu—kalau orang tahu ada Bu Ngatiyem yang mengikatnya, ada perempuan tua yang menyimpan tujuh gunung di kepalanya, yang tangannya membiru, yang menolak memangkas celupan meski tenggat menjepit—maka kain itu jadi punya nyawa. Orang tidak akan membuangnya. Orang akan menyimpannya, menceritakannya ke anaknya. Menulis nama Bu bukan supaya Bu dipuji. Menulis nama Bu supaya tangan Bu tidak lagi anonim—supaya dunia tahu bahwa di balik kain seindah ini ada manusia, bukan mesin. Selama ini tangan Bu disembunyikan. Aku mau tangan Bu dilihat. Bukan untuk sombong. Untuk melawan mesin yang tidak punya tangan sama sekali."
Bu Ngatiyem terdiam lama. Ia mengambil rancangan label itu, menatap nama dirinya yang tertulis di situ, dan jari tuanya menyusuri huruf-huruf itu seolah mengeja sesuatu yang asing. Sekar menunggu, tak berani bernapas terlalu keras.
"Sumirah," kata Bu Ngatiyem akhirnya, suaranya serak. "Kalau nama-nama ditulis, nama Sumirah juga harus ada. Di kain pertama. Walaupun bukan dia yang menenunnya. Karena tujuh gunung yang kita tulis ini, dia yang memegang sebelum aku, sebelum kau. Kalau tangan-tangan kita dilihat, tangannya yang pertama harus dilihat. Itu syaratku."
Sekar merasakan tenggorokannya tercekat. "Iya, Bu. Nama Mbah Sumirah yang pertama. Di kain pertama yang aku tenun. Yang aku janjikan untuk dia lihat."
Dan begitulah pagar pertahanan terakhir di hati Bu Ngatiyem runtuh—bukan karena ia kalah berdebat, melainkan karena ia menemukan alasan yang lebih tua dari keberatannya: kesetiaan pada sahabat yang terbaring bisu di amben sebelah. Kampung Watu Lawang, untuk pertama kalinya dalam tujuh turunan, akan berdiri sebagai nama. Bukan barang tanpa asal yang keluar dari kolong dan hilang ke dunia. Melainkan karya bertanda tangan, dengan tangan-tangan yang akhirnya boleh dilihat, dan dengan cerita yang tak satu mesin pun di muka bumi bisa cetak.