Kesempatan datang lewat selebaran yang ditempel di kantor kecamatan: pameran kerajinan daerah, digelar di alun-alun kota provinsi selama tiga hari, untuk mempromosikan produk lokal. Ada bantuan biaya sewa lapak dari pemerintah daerah. Sekar membacanya dan merasa, untuk pertama kalinya sejak rancangan label selesai, bahwa inilah panggung yang ia cari—tempat ia bisa menunjukkan kain bercerita pada orang-orang yang menghargai keaslian, tempat ia bisa mengajari mata melihat tangan.
Mereka menyiapkan diri dengan harapan yang besar. Sekar memilih kain-kain terbaik, melengkapinya dengan label dan kartu cerita, menyusun foto-foto proses untuk dipajang di lapak. Bujang mengurus pengangkutan dan dekorasi. Bahkan Bu Lastri ikut, dengan tangannya yang biru, untuk menenun langsung di lapak agar pengunjung bisa melihat proses dengan mata kepala sendiri. Sekar membayangkan pembeli yang berhenti, terpukau, mengerti—dan membeli bukan karena murah, melainkan karena melihat nyawa di balik kain.
Apa yang ia temukan di alun-alun itu meruntuhkan harapan itu dalam setengah hari.
Pameran kerajinan daerah bukan tempat orang mencari kemewahan. Itu tempat orang mencari oleh-oleh murah. Lapak-lapak di sekeliling mereka menjual gantungan kunci, kaos sablon nama kota, anyaman bambu seharga lima ribu, batik cap yang dijual borongan. Pengunjung datang dengan kantong belanja, menawar tiap barang setengah harga, mencari yang paling murah untuk dibawa pulang sebagai bukti telah berkunjung. Ketika mereka berhenti di lapak Sekar dan melihat kain tenun seharga jutaan, reaksi mereka hampir selalu sama: mata membelalak, lalu tertawa kecil, lalu pertanyaan yang sama berulang-ulang. "Kok mahal banget? Ini kan cuma kain. Di sebelah ada yang motifnya mirip cuma lima puluh ribu."
Sekar mencoba menjelaskan. Ia menunjukkan label, kartu cerita, tepi kain yang hidup, simpul di balik kain. Ia bercerita tentang tujuh gunung, tentang tangan Bu Lastri yang membiru, tentang minggu-minggu kerja untuk satu kain. Sebagian pengunjung mendengarkan sopan, mengangguk, lalu berkata, "Bagus sih ceritanya. Tapi tetap mahal ya," dan berlalu. Sebagian lain bahkan tidak mendengar; mereka sudah memutuskan sebelum Sekar selesai bicara bahwa kain ini terlalu mahal untuk apa pun ceritanya.
Di hari kedua, seorang ibu menawar satu kain tujuh gunung—kain yang butuh tiga minggu dikerjakan Bu Ngatiyem—dengan harga yang bahkan tak menutup ongkos benangnya, sambil berkata, "Buat kenang-kenangan aja, Mbak. Masa nggak boleh ditawar, namanya juga di pameran." Sekar menolak dengan sopan, dan ibu itu pergi tersinggung, menggerutu bahwa pedagang sombong tak pantas ikut pameran rakyat.
Malam kedua, di penginapan murah tempat mereka menumpang, Sekar duduk menghitung. Tiga hari, biaya transportasi, sewa lapak meski disubsidi, makan, penginapan—dan mereka menjual dua kain kecil, itu pun ke sesama pedagang yang kasihan. Rugi. Lebih dari itu, sesuatu yang lebih buruk: di tempat seperti ini, tujuh gunung disamakan dengan suvenir, ditawar seperti gantungan kunci, diremehkan ceritanya. Bukan kainnya yang salah. Bukan ceritanya yang gagal menyentuh. Panggungnya yang salah.
"Aku salah lagi, Bujang," katanya, menatap buku hitungan yang merah. "Aku pikir keaslian saja cukup. Aku pikir kalau aku cerita cukup bagus, orang akan mengerti. Tapi orang yang datang ke sini bukan orang yang mau membayar keaslian. Mereka datang cari murah. Kain kita bukan untuk pasar ini. Membawa tujuh gunung ke sini sama seperti membawa perhiasan emas ke pasar loak—bukan emasnya yang salah, orang di pasar loak yang memang tidak mencari emas."
Bujang, yang lelah dan kecewa, menjawab pelan, "Lalu di mana pasar kita, Sekar? Butik menolak dulu karena kuno. Pasar grosir menolak karena mahal. Pameran rakyat menawar seperti rongsokan. Kita ini punya barang bagus tapi tidak punya tempat menjualnya."
Sekar menutup buku hitungan dan menatap gelap di luar jendela penginapan, ke arah lampu-lampu kota yang berkelip. Pertanyaan Bujang benar, dan menusuk. Kain mereka terlalu mahal untuk pasar rakyat, terlalu asing untuk butik biasa, terlalu lambat untuk grosir. Ia berada di antara—terlalu mahal untuk yang murah, terlalu kampung untuk yang mewah. Dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa kain tangan premium tak akan pernah menang di bazar kerajinan. Ia butuh pintu lain. Pintu ke dunia yang memang mencari keaslian dan bersedia membayarnya—dunia mode, dunia tekstil kelas atas, dunia tempat ia dulu pernah bekerja dan tahu cara kerjanya. Bukan ke bawah, ke pasar yang lebih murah. Melainkan ke atas, ke panggung yang selama ini ia kira terlalu jauh dari kolong rumah panggung yang sepi. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana menjual lebih murah. Pertanyaannya adalah bagaimana menemukan pintu ke atas—dan apakah ia berani mengetuknya.