Ruang pameran itu lebih besar dari seluruh balai kampung Watu Lawang disatukan. Sekar berdiri di ambang pintu kaca dan untuk sesaat tak berani melangkah, seolah lantai marmer yang mengilap itu akan menolak telapak kakinya yang terbiasa pada papan kayu dan tanah lembap. Lampu sorot menggantung dari langit-langit tinggi, diatur sedemikian rupa hingga tiap helai kain yang dipajang seperti bercahaya dari dalam. Di dinding-dinding putih, tekstil dari berbagai daerah terbentang—songket berbenang emas, batik tulis halus, ulos dengan warna pekat—dan di tengah-tengah semua kemewahan itu, di panel yang dipilih Pak Damar sendiri, tergantung enam kain dari kampungnya.
Ia hampir tak mengenali kain-kain itu. Bukan karena berubah, tapi karena untuk pertama kalinya ia melihatnya tanpa konteks kolong yang berderit dan tumpukan benang. Di sini, di bawah cahaya yang sengaja dirancang, tujuh gunung itu tampak seperti yang selalu ia rasakan tapi tak pernah bisa ia buktikan—bukan kain kuno, bukan barang pasar, melainkan karya. Garis-garis Wungkal yang paling rapat menahan mata seperti tepi sebuah jurang. Watu Gentong terbentang dengan kedalaman warna tarum yang hanya bisa lahir dari tujuh celup. Di bawah salah satu kain, pada label kecil bertinta hitam, tertulis nama yang membuat dadanya sesak: Ditenun oleh Sumirah, pemegang lungsin tujuh gunung Watu Lawang.
Pak Damar menghampirinya dengan dua gelas air mineral. "Anda terlihat seperti orang yang ragu apakah ini sungguh terjadi," katanya, menyodorkan satu gelas.
"Saya ragu apakah pantas," jawab Sekar jujur. "Kain ini lahir di tempat yang baunya benang basah dan asap dapur. Di sini terlalu bersih."
"Justru itu yang akan saya ceritakan ke setiap orang yang berhenti di panel itu." Pak Damar menatap kain-kain itu dengan tatapan kurator yang dingin tapi tak lagi terasa kejam bagi Sekar. "Kemewahan yang mereka kira lahir dari kebersihan, sebenarnya lahir dari tangan yang membiru. Itu yang membuat orang mau membayar. Bukan kainnya. Tapi tangannya."
Pameran dibuka petang itu. Sekar mengenakan kebaya sederhana, satu-satunya yang ia bawa, dan berdiri di dekat panel kampungnya seperti penjaga yang gugup. Ia mengamati orang-orang yang lewat—perempuan-perempuan dengan tas mahal, lelaki berkacamata yang menatap kain seperti menilai lukisan, beberapa wartawan dengan kamera tergantung di leher. Mereka melintas cepat di depan songket dan batik yang sudah terkenal. Tapi di depan tujuh gunung, banyak yang berhenti.
Seorang perempuan paruh baya, rambut perak dipotong rapi, berdiri lama di depan kain Watu Gentong. Ia membungkuk, mengamati tepi kain yang sengaja dibiarkan hidup—tidak dijahit rata seperti kain mesin, melainkan dengan rumbai benang lungsin yang menjuntai jujur. "Tepinya tidak diselesaikan," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.
"Itu disengaja, Bu," Sekar memberanikan diri. "Kain tangan tidak menyembunyikan bahwa ia ditenun. Mesin membuat tepi yang sempurna karena ia tidak punya apa pun untuk disembunyikan. Kain kami membiarkan tepinya bernapas, supaya orang tahu di mana benang dimulai dan di mana ia berakhir."
Perempuan itu menoleh, menatap Sekar dengan mata yang tiba-tiba penuh perhatian. "Anda penenunnya?"
"Saya cucu penenunnya. Saya juga menenun, tapi belum sebaik nenek saya." Sekar menunjuk label bertuliskan nama Mbah Sumirah. "Yang ini karya beliau. Beliau sekarang sakit, tidak bisa bicara lagi. Tapi tangannya yang membuat garis-garis ini."
Kesunyian aneh menggantung sejenak. Perempuan itu—yang kemudian Sekar tahu adalah seorang kolektor tekstil yang namanya disebut Pak Damar dengan hormat—mengangguk pelan. "Saya sudah mengoleksi kain selama tiga puluh tahun. Saya bisa membedakan yang dibuat untuk dijual dari yang dibuat karena harus dibuat. Kain Anda yang kedua." Ia menyerahkan kartu nama. "Saya ingin bicara sebelum pameran ini tutup."
Malam itu, seorang wartawan dari sebuah majalah mode meminta memotret panel kampung dan menulis namanya di buku catatan: Watu Lawang. Tujuh gunung. Ia bertanya banyak hal—berapa lama menenun satu kain, berapa penenun yang tersisa, mengapa motifnya disebut sakral. Sekar menjawab semua dengan hati-hati, takut salah satu kata akan mengubah kebenaran kampungnya jadi cerita yang dijual.
Ketika pameran tutup pukul sembilan, Sekar duduk sendirian di bangku di luar gedung, menatap lampu-lampu kota yang tak pernah padam. Ia teringat pada malam pertama ia pulang ke kampung, ketika derit tenun hampir senyap dan ia mengira ia datang hanya untuk menutup pintu pada sesuatu yang sekarat. Kini, untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya percaya pada hal yang dulu terdengar seperti angan-angan di dalam bus: bahwa kain tangan bisa berdiri setara dengan tekstil termahal, tidak dengan menjadi murah, tidak dengan menyerah pada mesin, melainkan dengan menjadi persis seperti dirinya—lambat, tak sempurna, dan bernama.
Ia mengeluarkan ponselnya dan memotret gedung pameran dari luar, lampunya yang menyala, namanya yang terpampang di spanduk. Ia ingin menunjukkannya pada Mbah Sumirah. Ia tahu neneknya tak bisa lagi berkata-kata, tapi ia tahu pula bahwa mata tua itu masih bisa membaca. Dan ia berjanji, di bangku dingin di pinggir jalan kota yang ramai, bahwa ia akan pulang membawa kabar ini sebelum terlambat. Bahwa tujuh gunung sudah berdiri di kota besar, dan tidak ada yang menertawakannya. Tidak satu pun.