Pak Damar datang ke Watu Lawang sendiri, dua pekan kemudian, dan kedatangannya membuat kampung gugup dengan cara yang Sekar belum pernah saksikan. Bu Ngatiyem mengenakan kebaya terbaiknya. Bu Lastri membersihkan kolong sampai tak ada sehelai benang tercecer. Bahkan Bujang, yang biasanya cuek, memakai kemeja yang disetrika. Sekar telah memutuskan bahwa kurator itu harus melihat sendiri tempat kain ini lahir—kolong yang berderit, tangan yang membiru, alat tenun bukan mesin yang sabar—agar ia tak hanya menilai kain, tapi mengerti dari mana kain itu datang.
Mereka membentangkan dua puluh kain di balai, hasil terbaik kampung selama berbulan-bulan, dan Pak Damar mulai bekerja dengan ketenangan yang dingin. Ia tidak terburu-buru. Ia mengambil tiap kain, membawanya ke cahaya, membalik, meraba, mengamati garis demi garis. Dan satu per satu, ia memisahkan kain itu ke dua tumpukan—yang sedikit, ke kanan; yang banyak, ke kiri.
Sekar berdiri di samping, dan tiap kali sebuah kain masuk tumpukan kiri—yang ditolak—ia merasakan tusukan kecil. Pak Damar menjelaskan tiap penolakan, dan justru penjelasannya yang menyakitkan karena ia benar. "Lajur ini meleset di sini, lihat. Kerapatannya berubah di tengah, bukan karena sengaja, tapi karena tangan yang menenun lelah. Bagus untuk pasar, tidak cukup untuk panggung." Dan kain itu, yang Bu Lastri kerjakan dengan susah payah, masuk tumpukan kiri. "Yang ini warnanya tidak rata di ujung. Celupannya kurang satu kali, mungkin. Bukan jelek. Tapi tidak sempurna." Tumpukan kiri lagi.
Bu Ngatiyem berdiri dengan wajah keras, menyaksikan kain-kain kampung ditolak satu demi satu, dan Sekar takut perempuan tua itu akan meledak, akan menganggap ini penghinaan terhadap karya yang ia jaga seumur hidup. Tapi yang terjadi sebaliknya. Setiap kali Pak Damar menunjuk sebuah cacat, Bu Ngatiyem mendekat, melihat, dan mengangguk pelan—karena ia, dari semua orang, paling tahu di mana letak ketidaksempurnaan itu. Ia tidak membantah sekali pun. Ia bahkan, pada satu kain, berkata lebih dulu sebelum Pak Damar bicara, "Yang ini juga jangan. Ada simpul yang aku tidak suka di balik. Aku tahu sejak menenunnya, tapi sudah terlanjur."
Dari dua puluh kain, Pak Damar memilih enam.
Enam yang masuk tumpukan kanan—kain-kain yang dikerjakan penuh pakem, tujuh celup, tujuh gunung dengan kerapatan yang benar dari Wungkal hingga gunung terakhir, tenunan yang rata oleh tangan yang sabar. Empat di antaranya, Sekar perhatikan, adalah karya Bu Ngatiyem. Satu karya Bu Lastri di hari ia tidak terburu. Dan satu, yang membuat Sekar tertegun, adalah kain yang ia tenun sendiri pada subuh-subuh ketika ia belajar ulang mengikat—kain yang ia kerjakan tanpa tenggat, hanya untuk benar, dengan tangan yang akhirnya mengingat.
"Enam ini layak panggung," kata Pak Damar. "Yang lain, jual di tempat lain. Tidak ada yang salah dengan mereka untuk pasar biasa. Tapi yang keluar dengan nama kampung Anda di pameran saya, harus enam ini saja. Karena di panggung itu, satu kain cacat menghapus kesan lima kain sempurna. Orang mengingat yang paling lemah, bukan yang paling kuat. Lebih baik enam yang sempurna daripada dua puluh yang sebagian goyah."
Malam itu, setelah Pak Damar pergi membawa enam kain dan janji untuk mengabari jadwal pameran, Sekar duduk di balai dengan empat belas kain yang ditolak tergeletak di sekitarnya. Ia menunggu kekecewaan datang. Tapi yang datang justru kejernihan yang aneh, hampir seperti kelegaan.
Bu Ngatiyem duduk di sebelahnya, menatap tumpukan kain yang ditolak, lalu berkata, "Dia kejam. Tapi dia benar. Aku tahu sejak dulu kain-kain ini tidak sama bagusnya. Aku cuma tidak pernah punya alasan untuk memisahkannya. Sekarang aku punya."
Sekar mengangguk pelan. Sesuatu telah bergeser di kampung malam itu, dan ia merasakannya. Dulu, semua kain diperlakukan sama—keluar dari kolong, dijual dengan harga yang sama, tanpa pemisahan. Kini akan ada dua kelas. Kain yang sempurna, yang keluar dengan nama kampung ke panggung mode, dengan harga yang pantas untuk kesempurnaan. Dan kain yang baik tapi tak sempurna, yang akan dijual untuk pasar lain, tetap layak tapi tanpa membawa nama tujuh gunung ke panggung tertinggi. Pemisahan ini menyakitkan—karena artinya mengakui bahwa tidak semua karya sama, bahwa tangan yang lelah menghasilkan kain yang berbeda dari tangan yang sabar. Tapi pemisahan ini juga, Sekar mengerti, justru menaikkan martabat kampung. Dengan menolak kainnya sendiri yang tak sempurna, kampung berkata pada dunia bahwa ia tahu apa itu sempurna, dan tidak akan menjual yang kurang dengan nama itu.
"Mulai sekarang," kata Sekar, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Bu Ngatiyem, "kita yang menolak kain kita sendiri lebih dulu, sebelum pasar menolaknya. Kita yang menentukan mana yang layak. Bukan pembeli. Bukan kurator. Kita."
Dan dalam keputusan itu—disiplin baru yang lahir dari penolakan yang kejam—Sekar merasakan kampung naik satu anak tangga yang tak terlihat. Bukan ke pasar yang lebih besar, belum. Melainkan ke dalam dirinya sendiri, ke standar yang ia tegakkan atas karyanya sendiri. Enam kain akan pergi ke kota besar. Enam kain sempurna, dengan nama Mbah Sumirah di salah satunya. Dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang ke derit tenun yang hampir senyap, Sekar merasa bahwa kampung tidak sedang bertahan dari kematian, melainkan sedang belajar pantas untuk hidup.