Sekar membaca map itu tiga kali sebelum ia menemukannya, dan ketika ia menemukannya, ia hampir tertawa—bukan karena lucu, tapi karena rapi sekali cara Bagas menyembunyikan yang penting di antara yang manis. Klausulnya tidak menyebut kata 'kendali'. Ia menyebut 'harga eceran yang disepakati Rasaraya untuk menjaga konsistensi pasar' dan 'jadwal pasokan yang ditetapkan distributor sesuai permintaan jaringan' dan 'volume minimum yang harus dipenuhi kampung setiap kuartal'. Tiga kalimat yang terdengar teknis, hampir membosankan. Tapi Sekar, yang sudah belajar membaca kontrak dengan tangan yang dulu hampir menandatangani jiwa kampung, mengerti apa artinya jika ketiganya disatukan.
Ia membawa map itu ke rapat koperasi pada malam Jumat, ketika semua penenun berkumpul di balai setelah kerja. Bu Ngatiyem, Bu Lastri, Bujang, Warni, Yanti, dan beberapa muda yang lain. Lampu temaram, secangkir teh di tiap tangan, dan map biru di tengah lingkaran seperti sesuatu yang harus diadili.
"Bagas menawarkan jaringan tokonya," Sekar memulai. "Dua belas kota. Gerai di mal. Pembeli yang sudah jadi. Kain kita dipajang di sana, tetap kain tangan, motif tetap milik kita, mesin tidak menyentuhnya." Ia berhenti, membiarkan wajah-wajah penenun muda menyala. Warni mencondongkan badan. Yanti bertukar pandang dengan teman di sebelahnya. Sekar mengenali kilau itu—kilau jaminan, kilau gaji pasti, kilau pasar yang tidak perlu dikejar dengan ponsel dan kesabaran tiga bulan.
"Tapi," lanjutnya, "ada harganya. Bukan harga uang. Harga yang lebih dalam." Ia membuka map, menunjuk tiga kalimat itu, dan menjelaskannya dengan istilah yang bisa dipahami semua orang. "Kalau kita terima, Rasaraya yang menentukan berapa harga kain kita dijual. Bukan kita. Mereka bilang harga harus 'konsisten dengan pasar', artinya mereka bisa menurunkannya kapan saja kalau mereka mau bersaing dengan kain cetak. Rasaraya juga yang menentukan kapan kita harus mengirim dan berapa banyak. Ada volume minimum tiap tiga bulan. Kalau kita tidak penuhi—karena cuaca, karena penenun sakit, karena celupan butuh waktu—kita yang melanggar perjanjian."
Keheningan menyusup ke balai. Bu Ngatiyem mengangguk pelan, seperti sudah tahu sejak awal.
"Aku tidak mengerti," kata Yanti akhirnya, suaranya hati-hati. "Bukankah itu bagus? Ada yang menjualkan untuk kita. Ada pasar besar. Kita tinggal menenun. Kenapa kita harus menolak sesuatu yang akhirnya menjamin kain kita laku?"
Pertanyaan itu jujur, dan Sekar menghargainya. Ia ingat dirinya yang dulu, di dalam bus, yang akan menyambut jaminan apa pun dengan kedua tangan. Ia menarik napas, mencari cara menjelaskan tanpa terdengar seperti menggurui.
"Karena begini, Yanti," katanya pelan. "Bayangkan kita setuju. Tiga bulan pertama lancar. Kita kirim sepuluh kain, mereka jual mahal, semua senang. Lalu kain cetak 'Sapta Giri' mereka mulai mengganggu pasar, dan Rasaraya bilang, 'Demi bersaing, kita turunkan harga kain tangan sedikit.' Kita menolak? Kita tidak bisa—mereka yang pegang kontrak harga. Lalu permintaan naik, dan mereka bilang volume minimum naik jadi dua puluh kain per tiga bulan. Kita tidak sanggup? Itu melanggar perjanjian. Maka kita mulai mempercepat. Kurangi celupan. Paksa tangan muda menenun tujuh gunung sebelum siap. Dan kita kembali persis ke tempat kita gagal dulu—kain dikembalikan, malu, kampung pecah."
Ia melihat wajah Bu Lastri menggelap, ingat kain yang dulu dikembalikan ke muka mereka.
"Yang dipertaruhkan bukan motif lagi," lanjut Sekar, suaranya menguat. "Motif tetap milik kita di kertas itu. Yang dipertaruhkan adalah siapa yang memegang kemudi. Kalau Rasaraya yang menentukan harga, jadwal, dan jumlah, maka kita cuma jadi tangan mereka. Kainnya tangan, tapi nasibnya pabrik. Kita ditenun oleh logika yang sama yang dulu hampir membunuh kita—lebih cepat, lebih banyak, lebih murah—cuma kali ini dengan benang asli. Itu lebih berbahaya, karena kelihatannya kita masih bebas, padahal tidak."
Warni terdiam lama. Lalu ia berkata, suaranya kecil, "Tapi mengantre tiga bulan untuk satu pembeli itu melelahkan, Mbak. Aku takut pasarnya tidak cukup. Kalau Rasaraya pergi, siapa yang beli kain kita?"
Sekar mengangguk; ketakutan itu sah. "Aku takut juga, Warni. Tapi aku lebih takut menukar kebebasan kita yang sulit dengan keamanan yang menjebak. Pasar kita memang lebih kecil dan lebih lambat. Tapi ia milik kita. Kalau kita salah, kita yang menanggung dan kita yang belajar. Kalau kita serahkan kemudi ke Rasaraya, kita tidak akan pernah tahu apakah kita bisa berdiri sendiri—sampai suatu hari mereka melepaskan kita, dan kita lupa caranya berjalan."
Rapat itu panjang dan tidak semua puas. Ketika akhirnya koperasi memutuskan menolak, beberapa penenun muda pulang dengan wajah kecewa. Yanti tidak menatap Sekar saat keluar. Warni mengangguk, tapi Sekar tahu ia ragu. Bujang, yang biasanya pragmatis, justru mendukung penolakan—ia sudah cukup melihat bagaimana harga yang diatur orang lain menghancurkan usaha kecil.
Setelah semua pergi, Bu Ngatiyem menepuk bahu Sekar. "Kau menolak hal yang benar," katanya. "Tapi kau juga harus tahu—anak-anak muda itu butuh lebih dari prinsip. Mereka butuh perut yang kenyang. Kalau kebebasan ini tidak segera membuahkan upah yang pasti, suatu hari salah satu dari mereka akan menjual apa yang kita tolak jual hari ini."
Sekar menatap map biru yang akan ia kembalikan pada Bagas, dan kata-kata Bu Ngatiyem mengendap di dadanya seperti benih kecemasan yang tak bisa ia singkirkan. Ia telah memenangkan prinsip malam itu. Tapi ia tahu, dengan firasat yang dingin, bahwa harga dari prinsip itu mungkin belum sepenuhnya datang.