Firasat Bu Ngatiyem terbukti tiga minggu kemudian, dan datang dengan cara yang paling tidak Sekar duga. Bukan dari Yanti, yang masih merajuk soal tawaran Rasaraya. Bukan dari penenun muda yang paling kecewa. Tapi dari Bu Sri, perempuan setengah baya yang pendiam, yang sudah menenun di kampung sejak Sekar masih kecil, yang tak pernah banyak bicara di rapat dan selalu mengangguk patuh pada pakem.
Sekar mengetahuinya dari Koh Bandi, dari semua orang. Tengkulak benang itu datang mengantar pesanan benang ke balai, dan saat menurunkan gulungan, ia menyebutnya seperti gosip biasa, tanpa menyangka beratnya. "Eh, Sekar, aku dengar orang Rasaraya kemarin datang ke kampung sebelah. Bukan ke kalian. Tapi mereka bawa contoh kain celup tujuh celup, persis cara kalian. Katanya beli dari penenun Watu Lawang. Aku kira kalian sudah kerja sama sama mereka."
Sekar berhenti menggulung benang. "Penenun mana, Koh?"
Koh Bandi mengangkat bahu. "Tidak tahu namanya. Cuma dengar dari sopir mereka."
Darah Sekar terasa dingin. Ia tahu tidak ada yang menjual kain ke Rasaraya secara resmi—koperasi menolak. Yang berarti, kalau benar, seseorang melakukannya diam-diam. Seseorang dari dalam.
Ia tidak mau menuduh tanpa bukti. Tapi ia mulai memperhatikan, dan yang ia perhatikan membuat dadanya makin sesak. Bu Sri datang lebih siang dari biasanya, pergi lebih cepat. Beberapa contoh celupan kecil—kain uji yang biasa dibuat untuk mencoba takaran warna sebelum mencelup kain penuh—hilang dari rak. Bukan kain jadi, yang akan ketahuan, tapi potongan kecil yang menunjukkan teknik: berapa kali celup, akar apa, takaran mana yang menghasilkan biru pekat tujuh gunung. Pengetahuan yang dulu hanya hidup di tangan, kini bisa dijual sebagai contoh.
Sekar menemui Bu Sri di rumahnya, sore hari, sendirian. Ia tak membawa Bujang atau Bu Ngatiyem—ia tahu jika datang beramai-ramai, ini akan jadi pengadilan, dan ia belum yakin ia ingin mengadili. Rumah Bu Sri kecil, papannya lapuk, dan dari dalam terdengar batuk anak kecil yang tak berhenti.
Bu Sri membuka pintu, dan begitu melihat wajah Sekar, ia tahu. Bahunya jatuh. Ia tidak berpura-pura.
"Bu," kata Sekar pelan, "orang Rasaraya membawa contoh celupan tujuh celup ke kampung sebelah. Mereka bilang beli dari penenun Watu Lawang."
Bu Sri tidak menjawab dulu. Ia melirik ke dalam rumah, ke arah suara batuk itu, lalu kembali menatap Sekar dengan mata yang basah dan lelah. "Anakku, Sekar," suaranya hampir tak terdengar. "Sudah dua bulan batuknya tidak sembuh. Puskesmas bilang harus dirujuk ke kota, harus rontgen, harus obat yang mahal. Aku tidak punya uang."
Sekar merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya, dan itu bukan kemarahan. Ia ingin marah—seseorang menjual akar kampung, pengetahuan yang Mbah Sumirah jaga seumur hidup, teknik yang membedakan tangan dari mesin. Ia datang untuk marah. Tapi di hadapan perempuan yang menangis di ambang pintu rumahnya yang lapuk, dengan suara batuk anak di belakangnya, kemarahan itu kehilangan tempat berpijak.
"Berapa mereka bayar?" tanya Sekar, suaranya serak.
Bu Sri menyebut sebuah angka, dan angka itu begitu kecil—begitu menyedihkan kecil—dibanding apa yang ia jual. Cukup untuk satu kali rontgen dan beberapa hari obat. Untuk itu ia menyerahkan teknik yang tak ternilai. "Aku tahu aku salah," katanya, suaranya pecah. "Aku tahu itu menghancurkan apa yang kau perjuangkan. Aku menunggu rapat, berharap kita terima tawaran Rasaraya, supaya ada uang yang halal. Tapi kita menolak. Dan aku—aku tidak bisa menunggu lagi. Anakku tidak bisa menunggu pasar tiga bulan."
Sekar berdiri diam di ambang pintu itu untuk waktu yang lama. Di kepalanya berputar semua yang seharusnya ia katakan—tentang pengkhianatan, tentang kepercayaan, tentang akar yang dijual murah. Tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih dalam dari amarah: pemahaman yang pahit. Bahwa musuh sejati kampung bukan Bagas, bukan Rasaraya, bukan mesin. Musuh sejatinya adalah kemiskinan yang membuat orang baik menjual akarnya sendiri demi anak yang sakit. Selama ada perut yang lapar dan anak yang batuk dan utang yang menumpuk, akan selalu ada orang yang terdesak menukar warisan dengan beberapa lembar uang.
Ia telah menolak tawaran Rasaraya demi prinsip. Dan prinsip itu, malam ini, ia sadari, telah meninggalkan seseorang tanpa jalan halal untuk menyelamatkan anaknya.
"Bu," kata Sekar akhirnya, suaranya tenang meski dadanya bergemuruh, "besok bawa anak Ibu ke balai. Pagi-pagi. Kita urus rontgennya."
Bu Sri menatapnya, tak percaya, air matanya mengalir deras sekarang. "Kau—setelah yang aku lakukan—"
"Yang Ibu lakukan salah," potong Sekar, lembut tapi jelas. "Dan kita akan bicara soal itu, di depan koperasi, dengan jujur. Tapi tidak malam ini. Malam ini, anak Ibu yang penting." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. "Dan Bu—lain kali, datang ke aku dulu. Sebelum menjual apa pun. Sebelum putus asa. Karena kalau kampung ini tidak bisa menjaga perut tangan-tangannya sendiri, maka kita tidak pantas menjaga tujuh gunung sama sekali."
Ia berjalan pulang dalam gelap, dan untuk pertama kalinya sejak pameran kota besar, ia merasa kemenangan-kemenangannya rapuh. Kain bisa masuk panggung mode. Nama bisa terbit di majalah. Tapi selama satu penenun masih harus memilih antara warisan dan anaknya yang sakit, kampung ini belum benar-benar selamat. Dan ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa ia harus memperbaiki bukan kainnya, melainkan caranya menjaga orang-orang yang menenunnya.