Rapat koperasi malam itu adalah yang paling sunyi yang pernah Sekar pimpin. Bu Sri duduk di tepi lingkaran, kepalanya tertunduk, tangannya gemetar di pangkuan. Berita itu sudah menyebar—di kampung sekecil Watu Lawang tak ada yang bisa disembunyikan lama—dan udara di balai terasa tegang seperti benang lungsin yang ditarik terlalu kencang. Sekar tahu apa yang sebagian orang harapkan. Mereka ingin Bu Sri diusir. Pengkhianat, kata itu menggantung tak terucap di banyak mulut. Yang menjual akar kampung pada musuh.
Bu Ngatiyem, yang Sekar kira akan paling keras, justru diam. Ia menatap Bu Sri lama, dan di matanya bukan amarah, melainkan sesuatu yang lebih rumit—pengertian seorang perempuan tua yang sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa kemiskinan membuat orang melakukan hal yang tidak pernah ia kira akan ia lakukan.
Sekar berdiri. Ia tak mau ini jadi pengadilan, tapi ia juga tak bisa membiarkannya jadi seolah tak terjadi apa-apa. "Apa yang Bu Sri lakukan," ia memulai, suaranya jelas, "adalah salah. Tidak ada yang akan kupura-purakan tidak salah. Teknik celup tujuh celup itu bukan miliknya untuk dijual. Itu milik kampung. Milik orang-orang yang menjaganya sebelum kita lahir. Dan ia menjualnya pada orang yang ingin meniru kita."
Bu Sri menangis tanpa suara. Beberapa penenun mengangguk, puas mendengar kesalahan disebut kesalahan.
"Tapi," lanjut Sekar, dan ia membiarkan kata itu menggantung, "aku ingin kalian semua tahu mengapa ia melakukannya. Anaknya sakit. Batuk dua bulan tak sembuh. Harus dirujuk ke kota, harus rontgen, harus obat yang harganya lebih dari yang kita bayar untuk sebulan menenun. Ia menunggu kita menerima tawaran Rasaraya, berharap ada uang yang halal. Kita menolak. Dan ia tidak bisa menunggu pasar kita yang lambat. Anaknya tidak bisa menunggu tiga bulan."
Kesunyian berubah. Sekar melihatnya di wajah-wajah—amarah yang mengendur, digantikan sesuatu yang lebih tidak nyaman. Beberapa dari mereka, ia tahu, pernah hampir berada di titik yang sama. Hampir putus asa. Hampir menukar apa pun demi sesuatu yang mendesak.
"Aku bisa mengusirnya," kata Sekar. "Kalian mungkin sebagian mengharapkan itu. Dan itu akan terasa adil. Tapi kalau aku mengusir Bu Sri, apa yang aku ajarkan pada kalian semua? Bahwa kampung ini akan menjaga tujuh gunung lebih dari menjaga tangan yang menenunnya? Bahwa kita lebih peduli pada kain daripada pada anak yang sakit?" Ia menggeleng pelan. "Kalau begitu, kita tidak lebih baik dari pabrik yang membuang orang ketika tak lagi berguna."
Ia berpaling pada seluruh lingkaran. "Masalahnya bukan Bu Sri. Masalahnya adalah sistem kita. Kita memuja kemandirian, kita menolak Rasaraya demi kebebasan, tapi kita lupa bahwa kebebasan tidak mengisi perut. Kita menggaji penenun setelah kain terjual—tiga bulan, kadang lebih. Apa yang terjadi kalau ada yang sakit di tengah itu? Kalau ada anak yang harus dirujuk? Kita tidak punya jawaban. Dan selama kita tidak punya jawaban, akan selalu ada orang yang terdesak menjual apa yang Bu Sri jual. Bukan karena jahat. Karena tidak ada pilihan lain."
Bujang, yang biasanya menghitung untung-rugi dengan dingin, mengangguk pelan. "Kau benar," katanya. "Kita bangun usaha tapi lupa membangun jaring pengaman."
Dan di sanalah, dalam rapat yang dimulai sebagai pengadilan, lahir sesuatu yang lebih penting dari hukuman. Sekar mengusulkan—dan koperasi, setelah perdebatan panjang, menyetujui—sebuah perubahan dalam sistem bagi hasil. Sebagian kecil dari tiap penjualan kain disisihkan ke dalam dana bersama, dana yang bisa dipinjam tanpa bunga oleh penenun yang menghadapi keadaan mendesak: anak sakit, kematian dalam keluarga, gagal panen. Bukan utang yang menjerat seperti Koh Bandi dulu. Bukan belas kasihan yang merendahkan. Hak, yang lahir dari kerja bersama. Penenun juga akan menerima sebagian upah di muka, tidak menunggu kain terjual, agar tidak ada yang harus menukar martabat demi mendesaknya hidup.
"Mulai sekarang," kata Sekar menutup rapat, "kita tidak hanya menjaga tujuh gunung. Kita menjaga tangan-tangan yang menenunnya. Karena kain ini lahir dari tangan, dan tangan lahir dari perut, dan kalau perut lapar, tidak ada kain yang bisa selamat. Jiwa kain ini tidak terpisah dari perut penenunnya. Tidak akan pernah."
Bu Sri, di tepi lingkaran, mengangkat wajahnya. "Aku akan mengembalikan uang itu," katanya, suaranya pecah tapi tegas. "Sedikit demi sedikit. Dan aku akan kerja dua kali lebih keras. Aku tidak pantas dimaafkan secepat ini."
"Kau tidak perlu mengembalikan apa pun," kata Bu Ngatiyem, mengejutkan semua orang dengan suaranya yang tiba-tiba lembut. "Kau perlu mengobati anakmu. Lalu kau perlu menenun lebih baik dari sebelumnya, supaya teknik yang kau jual itu kalah dengan teknik yang kau kerjakan. Itu satu-satunya cara kau mengembalikannya. Bukan dengan uang. Dengan tangan."
Malam itu, ketika balai kosong dan Sekar memadamkan lampu, ia merasa kampung telah belajar sesuatu yang tak ada dalam buku bisnis mana pun. Bahwa memaafkan bukan kelemahan, melainkan pengakuan bahwa mereka semua, sampai derajat tertentu, satu langkah dari keputusasaan. Dan bahwa menjaga warisan, pada akhirnya, berarti menjaga agar tak seorang pun pernah harus memilih antara warisan itu dan anak yang ia cintai. Anak Bu Sri dirontgen pekan itu. Bukan tuberkulosis, syukurlah, hanya infeksi yang butuh obat dan waktu. Dan ketika batuk itu akhirnya reda, Bu Sri kembali ke kolong, dan deritnya bergabung dengan derit yang lain, lebih rapat, lebih dalam, seperti orang yang menenun bukan hanya kain, tapi juga penebusan.