Pada hari koperasi membagikan upah bulan itu, Sekar berdiri di balai memegang catatan di tangannya, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa bicara. Bukan karena angkanya kecil. Karena angkanya, untuk pertama kalinya sejak ia pulang, lebih besar dari yang berani ia impikan.
Pendapatan dari pesanan luar negeri yang ia pertahankan dengan keteguhan, ditambah pasar premium domestik yang kini stabil—pembeli pribadi yang antre dengan sabar, butik yang menghargai kain bercerita, kolektor yang menemui mereka di pameran—semua itu menyatu menjadi sesuatu yang nyata. Ketika ia membacakan upah tiap penenun, ia melihat wajah-wajah berubah. Bu Lastri menutup mulutnya dengan tangan. Warni menatap angka di kertasnya seperti tak percaya. Bu Sri, yang beberapa bulan lalu menjual akar kampung demi rontgen anaknya, menerima upahnya dengan tangan gemetar dan air mata yang tak ia sembunyikan—karena untuk pertama kalinya, ia menerima cukup tanpa harus menjual apa pun.
"Ini lebih dari pabrik," kata Yanti pelan, dan dalam suaranya tak ada lagi kekecewaan soal Rasaraya yang dulu, hanya keterpukauan. "Mbak, ini lebih dari yang aku dapat di pabrik. Dan tanpa shift malam. Tanpa mandor. Tanpa mesin yang memekik."
Sekar mengangguk, dan ia membiarkan dirinya, untuk sekejap, merasakan beratnya pencapaian itu. Bukan kekayaan—kampung tidak kaya, dan mungkin tak akan pernah kaya seperti yang dibayangkan Bujang dulu. Tapi mereka menggaji penenun setara, kadang lebih, dari pabrik garmen yang dulu menelan anak-anak muda kampung. Dan mereka melakukannya dengan martabat sebagai pencipta, bukan operator. Tiap kain punya nama. Tiap tangan punya cap jari di simpulnya. Itu yang dulu mustahil dibayangkan dari kolong yang hampir senyap.
Utang ke Koh Bandi sudah lunas berbulan-bulan lalu—dan tengkulak itu kini memasok benang dengan harga yang wajar, karena kampung yang sehat adalah pelanggan yang baik. ATBM bertambah; tiga yang baru berderit di kolong-kolong yang dulu kosong. Dan yang paling membuat Sekar terharu: dua anak muda pulang bulan ini tanpa dipanggil. Mereka datang sendiri ke balai, menanyakan apakah masih ada tempat untuk belajar menenun, karena mereka mendengar kabar—kabar yang menyebar dari mulut ke mulut sampai ke pabrik di kota—bahwa di Watu Lawang, kain dibayar layak dan tangan punya nama. Kampung yang dulu ditinggalkan kini menarik orang pulang dengan tarikannya sendiri.
Malam itu, setelah balai sepi, Sekar berjalan pulang melewati gang kampung, dan ia berhenti seperti yang sering ia lakukan, hanya untuk mendengar. Derit tenun—bukan lagi tunggal dan lambat seperti malam pertama ia pulang, tapi berlapis, dari banyak kolong, tua dan muda, sabar dan yang belajar sabar. Suara yang dulu hampir mati kini berdenyut seperti jantung yang menemukan kembali iramanya. Ia berdiri lama di tengah gang itu, dalam gelap, mendengarkan kampungnya hidup, dan untuk pertama kalinya sejak ia memegang pena di atas kontrak Bagas di lobi rumah sakit itu, ia merasa beban di bahunya cukup ringan untuk bernapas penuh.
Lalu ia sampai di rumah neneknya, dan napas itu tertahan.
Lampu menyala di kamar Mbah Sumirah, dan Bu Ngatiyem sudah ada di sana, duduk di tepi amben, memegang tangan kanan yang lemah itu. Wajah perempuan tua itu, yang malam tadi basah haru oleh kabar pesanan luar negeri, kini keras oleh kecemasan. Ia menoleh saat Sekar masuk, dan tatapannya berkata sebelum mulutnya bergerak.
"Dari sore tadi, Sekar," kata Bu Ngatiyem pelan. "Napasnya berat. Tidak mau makan. Matanya buka, tapi—" Ia tak menyelesaikan kalimatnya.
Sekar berlutut di sisi amben, mengambil tangan kering neneknya, tangan yang dulu mengikat tujuh gunung tanpa kertas, tangan yang mengajari tangannya sendiri di subuh-subuh yang sudah lama berlalu. Mata Mbah Sumirah bergerak menemukan wajahnya, dan dalam mata tua yang sudah lama tak bisa bicara itu, Sekar melihat sesuatu—bukan ketakutan, melainkan pertanyaan. Pertanyaan yang sudah ia tanyakan dengan mata dan isyarat tangan berbulan-bulan lalu, ketika ia minta melihat tujuh gunung hidup di tangan muda sebelum ia pergi.
Dan Sekar menyadari, dengan getir yang menusuk di tengah segala kabar baik malam itu, bahwa ia belum menepati janji itu. Tujuh gunung sudah masuk pameran. Sudah menyeberangi lautan. Sudah membuat kampung hidup, menggaji layak, menarik anak muda pulang. Tapi kain janji untuk Mbah Sumirah—kain yang Sekar bersumpah akan menenun sendiri, dengan nama neneknya ditulis pertama, agar perempuan tua itu bisa melihat tujuh gunung hidup penuh di tangan cucunya sebelum pergi—kain itu belum selesai. Ia terlalu sibuk menyelamatkan kampung untuk menyelesaikan satu kain yang paling penting dari semuanya.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga neneknya. "Mbah," bisiknya, suaranya pecah, "kampung hidup, Mbah. Kainnya sampai ke kota. Sampai ke seberang laut. Mereka membelinya justru karena kita tidak mau menggeser garisnya. Mbah dengar? Tujuh gunung hidup. Tidak ada yang menertawakannya lagi."
Mata tua itu menatapnya, dan untuk sesaat—Sekar yakin ia tidak membayangkannya—jemari yang lemah di genggamannya mengencang sedikit. Sebuah pengakuan. Sebuah rasa lega. Atau mungkin, sebuah permintaan terakhir yang belum ia ucapkan: selesaikan kainnya. Tunjukkan padaku, sebelum aku pergi.
Sekar mengangkat wajahnya, menatap Bu Ngatiyem, dan tahu—dengan kepastian yang dingin di tengah malam kemenangan itu—bahwa harga dari semua perjuangan ini belum sepenuhnya dibayar. Kampung sudah selamat. Tapi waktu yang ia butuhkan untuk hal yang paling penting kini menyusut menjadi hari, mungkin jam. Dan untuk pertama kalinya, ia berdoa bukan untuk pasar, bukan untuk pesanan, bukan untuk pakem—melainkan untuk satu subuh lagi, agar tangannya sempat menyelesaikan kain yang sudah terlalu lama ia tunda, sebelum mata yang menunggunya untuk melihat itu tertutup selamanya.