Sekar tidak tidur malam itu. Ia duduk di tepi amben dengan tangan neneknya di pangkuannya, dan ia menenun—di kolong, di bawah lampu yang ia bawa ke dekat jendela kamar agar derit alat tenun itu sampai ke telinga perempuan tua yang berbaring. Ia mengikat tujuh gunung dengan tangan yang gemetar oleh lelah dan takut, mengejar kain janji yang sudah terlalu lama ia tunda, sambil sesekali bangkit memeriksa napas Mbah Sumirah.
Napas itu makin renggang sepanjang malam. Bukan berat seperti orang sesak, melainkan jarang, seperti orang yang sudah selesai berjuang dan hanya menunggu. Bu Ngatiyem datang sebelum tengah malam dan tidak pulang. Bu Lastri menyusul, membawa air kembang yang ia letakkan di sudut tanpa berkata apa-apa. Mereka tidak menyalakan banyak lampu. Mereka duduk dalam remang, tiga perempuan tua dan satu perempuan muda, mengelilingi amben seperti mengelilingi tungku.
Menjelang subuh, ketika kabut turun ke kampung dan ayam pertama belum berkokok, mata Mbah Sumirah membuka. Sekar sedang mengikat simpul terakhir di tepi kain, dan ia merasakannya sebelum ia melihatnya—sebuah perubahan di udara kamar, seperti angin yang berhenti. Ia meletakkan benang. Ia mendekat.
"Mbah," bisiknya.
Mata tua itu menemukan wajahnya, lalu turun ke kain di tangannya. Tujuh gunung belum penuh. Baru lima yang jadi, dua masih garis-garis ikat yang belum dicelup. Tapi mata itu menatap kain itu lama, dan Sekar mengangkatnya agar lebih dekat, agar perempuan tua itu bisa melihat tangan cucunya sendiri yang membuat garis-garis itu—bukan tangan pabrik, bukan mesin, bukan kertas. Tangan yang pulang.
"Belum selesai, Mbah," kata Sekar, dan suaranya pecah. "Tinggal dua gunung lagi. Sebentar lagi. Mbah tunggu, ya. Mbah tunggu Sekar selesaikan."
Jemari kanan Mbah Sumirah, yang sejak pulang dari rumah sakit hanya bisa bergerak lemah, terangkat beberapa senti dari amben. Sekar menangkapnya. Jari-jari itu menyentuh tepi kain, meraba simpul yang Sekar ikat, perlahan, seperti memeriksa pekerjaan murid. Dan di mata tua itu—Sekar tidak akan pernah yakin apakah ia membayangkannya atau tidak—ada sesuatu yang melunak. Bukan kekecewaan karena kain itu belum penuh. Sebuah ketenangan. Seolah perempuan tua itu sudah melihat cukup. Tangan yang benar memegang benang yang benar. Tujuh gunung tidak akan mati.
Mata itu menutup. Tidak mendadak, tidak dramatis. Hanya menutup, seperti orang yang akhirnya boleh tidur setelah menjaga terlalu lama. Napas itu masuk sekali lagi, panjang, lalu keluar, dan tidak ada yang masuk lagi sesudahnya.
Sekar tidak menjerit. Ia menggenggam tangan yang masih hangat itu dan menunggu napas berikutnya yang tidak datang, dan ketika ia paham bahwa memang tidak akan datang, sesuatu di dadanya runtuh tanpa suara. Bu Ngatiyem yang lebih dulu paham. Perempuan tua itu mengusap wajah Mbah Sumirah dengan punggung tangannya, menutup mata yang sudah tertutup, dan mulai melantunkan sesuatu yang sangat pelan—bukan doa yang Sekar kenal kata-katanya, melainkan irama, seperti gumam yang biasa mengiringi celup pertama di subuh.
"Sudah, Nduk," kata Bu Ngatiyem akhirnya, suaranya parau. "Mbahmu sudah pulang. Lebih dulu dari kita semua."
Di luar, ayam mulai berkokok. Kabut menebal lalu mulai pecah oleh cahaya pertama yang merembes dari balik tujuh gunung sungguhan di kejauhan—gunung-gunung batu dan tanah yang dari sanalah motif itu lahir, yang berdiri sejak sebelum Mbah Sumirah lahir dan akan berdiri sesudah mereka semua pergi. Sekar memandang ke arah itu lewat jendela, kain janji yang belum selesai masih di tangannya, dan ia merasakan ironi yang dingin: ia telah membawa tujuh gunung menyeberangi lautan, ke kota besar, ke panggung yang dulu mustahil dibayangkan, dan justru di subuh ketika gunung-gunung itu mulai dikenal dunia, perempuan yang menyimpannya selama tujuh puluh tahun di kepalanya pergi—sebelum melihat hasil paling penuhnya.
Kabar menyebar cepat di kampung sekecil itu. Sebelum matahari naik penuh, halaman rumah panggung sudah dipenuhi tetangga yang datang membawa beras, kelapa, dan diam. Bujang datang dengan mata merah, ia yang dulu paling keras menyuruh Sekar menyerah, kini berdiri di sudut tak tahu harus berbuat apa. Warni dan Yanti datang dari kolong tempat mereka semalaman menyelesaikan pesanan, tangan mereka masih biru oleh tarum, dan Warni langsung memeluk Sekar tanpa kata.
Kolong-kolong kampung diam pagi itu. Untuk pertama kalinya sejak tenun kembali hidup, tidak ada satu pun derit alat tenun terdengar di Watu Lawang. Semua diam, sebagai penghormatan, dan keheningan itu terasa berbeda dari keheningan di masa-masa awal ketika kampung hampir mati—ini keheningan orang-orang yang memilih berhenti, bukan yang dipaksa berhenti. Tapi bagi Sekar, di tengah kerumunan pelayat, keheningan itu nyaris tak tertahankan. Ia ingin mendengar derit. Ia ingin tujuh gunung berbunyi. Karena selama derit itu masih ada, neneknya tidak benar-benar hilang.
Mereka memandikan dan mengkafani Mbah Sumirah menjelang siang. Sekar memasang kain ikat tujuh gunung tua—kain yang ditenun neneknya sendiri puluhan tahun lalu, yang selama ini disimpan di dasar peti—di atas tubuh yang sudah dingin. Tangannya gemetar saat membentangkannya. Bu Ngatiyem berdiri di sisinya dan berkata pelan, "Itu kain pertama yang dia tenun penuh sendiri. Dulu dia bilang, kalau dia mati, dia mau dibawa dengan tangan sendiri yang menemaninya, bukan tangan orang lain."
Sekar mengangguk, tak sanggup bicara. Ia melihat tujuh garis pada kain tua itu—rapat, tegas, sempurna oleh tangan yang sudah berhenti bergerak—dan ia melihat dua kain dalam satu pandangan: kain pertama Mbah Sumirah, dan kain terakhir yang sedang ia, Sekar, kerjakan, yang belum selesai dan kini tak akan pernah dilihat penuh oleh mata yang untuknya kain itu dibuat. Di antara dua kain itu terbentang tujuh puluh tahun dan satu subuh, dan di antaranya pula berdiri seorang perempuan muda yang baru saja kehilangan satu-satunya orang yang tahu seluruh asal-usulnya.