Tujuh hari sesudah pemakaman, ketika rumah masih penuh bau kembang dan asap dupa, kampung berkumpul di balai bukan untuk urusan dagang melainkan untuk urusan yang lebih tua dari dagang. Bu Ngatiyem yang meminta semua berkumpul. Ia berdiri di depan, perempuan yang kini paling sepuh di antara penenun yang tersisa, dan suaranya yang biasa keras kini turun ke nada yang Sekar belum pernah dengar sebelumnya.
"Ada yang harus kita selesaikan," katanya. "Selama Mbah Sumirah masih ada, kita tidak pernah perlu menanyakannya, karena semua orang tahu. Sekarang dia tidak ada. Dan tujuh gunung tidak boleh tinggal tanpa pemegang. Kain bisa tinggal tanpa penjaga semalam, tapi tidak setahun. Akan ada yang berani mengaku-aku, akan ada yang lupa, akan ada yang menggeser garis pelan-pelan sampai tidak ada yang ingat lagi yang asli."
Ruangan diam. Sekar duduk di antara yang lain, dan ia mengira Bu Ngatiyem akan menunjuk dirinya sendiri—perempuan tertua, penjaga pakem paling keras, yang sejak awal melawan setiap perubahan demi melindungi tujuh gunung. Itu yang masuk akal. Itu yang adat semestinya pilih.
Tapi Bu Ngatiyem menggeleng sebelum siapa pun bicara. "Jangan tunjuk aku," katanya, seolah membaca pikiran ruangan. "Aku tua. Mataku sudah tidak bisa menghitung helai serapat dulu. Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, aku menyusul Sumirah, dan kita harus mengulang rapat ini. Pemegang motif harus orang yang masih punya banyak subuh di depannya. Harus orang yang tangannya tahu mengikat, dan kepalanya tahu menjaga, dan—" ia berhenti, lalu menatap lurus ke arah Sekar, "—dan yang sudah membuktikan dia mau mati-matian membela garis ini waktu semua orang menyuruhnya menjualnya."
Sekar merasa darahnya naik ke wajahnya. "Bu—"
"Kamu pulang," potong Bu Ngatiyem. "Waktu yang lain pergi ke pabrik, kamu pulang. Kamu yang menolak pena Bagas di rumah sakit itu, padahal uangnya bisa menyelamatkan kita semua hari itu juga. Kamu yang belajar mengikat lagi tiap subuh sampai tanganmu yang lupa itu ingat. Kamu yang menulis tujuh gunung jadi perisai waktu aku menentangmu—dan aku salah, kamu benar. Mbah Sumirah memilihmu sebelum kita semua memilih. Dia mengajarkan tujuh nama itu padamu, bukan pada anak-anaknya yang lain, bukan pada cucu-cucunya yang lain. Dia tahu."
"Saya bukan penenun sebaik Ibu," kata Sekar pelan. "Tangan saya masih kalah dari tangan Ibu, dari tangan Warni sekalipun yang sudah—"
"Pemegang motif bukan penenun paling pintar," sahut Bu Lastri dari sudut, suaranya tenang. "Pemegang motif itu yang menjaga supaya tujuh gunung tidak hilang dan tidak dijual. Tangan paling pintar boleh menenun. Tapi yang memegang, yang memutuskan boleh-tidaknya satu garis digeser—itu kamu, Nduk. Kamu sudah membuktikannya bertahun-tahun ini."
Sekar memandang wajah-wajah di ruangan itu. Bu Ngatiyem yang dulu memandangnya dengan curiga sebagai anak kota yang akan merusak pakem. Bu Lastri yang pendiam. Warni dan Yanti yang pulang dari pabrik. Bujang di belakang dengan mata masih sembap. Nimas yang baru belajar. Bu Sri yang dulu menjual celupan demi rontgen anaknya dan dimaafkan. Dan ia menyadari bahwa ruangan ini, kampung ini, tidak sama dengan kampung hampir mati yang ia temukan ketika ia pulang. Ini kampung yang ia bantu hidupkan kembali, dan kini kampung itu memintanya menjaga jantungnya.
"Kalau saya pegang," kata Sekar akhirnya, memilih kata-katanya hati-hati, "saya tidak akan memegangnya seperti Mbah Sumirah. Beliau menyimpannya di kepala, sendirian, dan hampir membawanya pergi. Saya tidak mau itu terjadi lagi. Kalau saya jadi pemegang, saya ingin tujuh gunung diajarkan ke banyak tangan, ditulis sebagai perisai, dijaga koperasi, supaya kalau saya yang pergi besok, tidak ada lagi rapat seperti ini. Tidak ada lagi kampung yang menahan napas takut motifnya ikut mati bersama satu perempuan tua. Pemegang berikutnya tidak boleh sendirian seperti nenek saya."
Bu Ngatiyem menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. "Itu," katanya, "justru kenapa kamu yang harus pegang. Sumirah menjaganya dengan menutupnya. Kamu akan menjaganya dengan membukanya—tapi membuka yang benar, bukan membuka pagar buat pencuri. Itu yang dia sendiri tidak sanggup lakukan, karena dia dari zaman waktu menutup adalah satu-satunya cara bertahan. Zaman sudah ganti. Penjaganya juga harus ganti."
Maka di balai itu, tanpa surat, tanpa cap, hanya dengan kesaksian seluruh penenun yang tersisa, Sekar Ayuningtyas menerima amanat sebagai pemegang lungsin tujuh gunung. Bu Ngatiyem mengambil tangan kanannya—tangan yang sama yang dulu diraba Mbah Sumirah di subuh terakhir—dan meletakkannya di atas kain tua di tengah ruangan, kain pertama yang pernah ditenun penuh oleh Mbah Sumirah, yang sengaja dibawa keluar dari peti untuk hari ini.
"Tujuh gunung sekarang di tanganmu," kata Bu Ngatiyem. "Jaga supaya tetap milik tangan, bukan mesin. Milik kampung, bukan satu orang. Milik yang menghidupinya, bukan yang membelinya."
Sekar menelan sesuatu yang panas di tenggorokannya. Ia mengangguk. Dan ketika ia menarik tangannya kembali dari kain itu, ia merasakan beratnya—bukan berat kain, kain itu ringan, tapi berat dari apa yang baru saja dipindahkan ke pundaknya. Dulu, di bus yang membawanya pulang, ia mengira tugasnya hanya menyelamatkan sebuah bengkel dari utang. Lalu ia mengira tugasnya melindungi sebuah pola garis dari mesin. Kini ia paham tugasnya jauh lebih tua dan lebih sederhana sekaligus: menjadi satu mata rantai yang tidak putus, di antara tujuh puluh tahun di belakangnya dan entah berapa tahun di depan, supaya tujuh gunung tidak pernah lagi bergantung pada satu perempuan tua yang menyimpannya sendirian sampai mati.