Pekan-pekan sesudahnya berjalan seperti melalui kabut. Sekar mengerjakan semua yang harus dikerjakan—membalas pesanan, menjadwalkan celup, mengajar Nimas, menghadiri rapat koperasi—tapi ia mengerjakannya seperti orang yang tangannya bekerja sementara isi kepalanya tertinggal di subuh itu. Di malam hari, ketika balai sepi, ia kembali ke kolong rumah neneknya dan mengeluarkan kain janji yang belum selesai. Lima gunung jadi, dua tinggal ikat yang belum dicelup. Ia memandanginya lama tanpa menyentuh benangnya.
Untuk apa diselesaikan sekarang. Mata yang menunggunya sudah tertutup.
Pikiran itu datang berkali-kali, dan tiap kali datang ia merasa malu sekaligus tak berdaya melawannya. Seluruh kain ini ia buat untuk satu pasang mata. Ia menundanya berbulan-bulan karena sibuk menyelamatkan kampung, dan ketika ia akhirnya duduk untuk menyelesaikannya, waktu sudah habis. Ia menepati setengah janjinya—menjaga tujuh gunung tetap di tangan kampung, membuatnya hidup, membuatnya dihargai—tapi setengah yang paling pribadi, setengah yang ia bisikkan di telinga neneknya, gagal ia tepati. Mbah Sumirah pergi tanpa melihat kain itu penuh.
Ia menumpuk kain itu di sudut amben dan tidak menyentuhnya selama berhari-hari.
Warni yang pertama menyadari ada yang padam dalam diri Sekar. Suatu sore, sehabis mengajar pemula di balai, gadis itu duduk di sebelahnya dan tidak langsung bicara, hanya ikut memandangi kolong-kolong yang mulai ramai derit lagi sesudah masa berkabung lewat.
"Mbak diam terus akhir-akhir ini," kata Warni akhirnya. "Bukan diam capek. Diam yang lain."
Sekar tidak menyangkal. Ia menceritakan tentang kain janji—yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun—tentang sumpah yang ia ucapkan di telinga neneknya, tentang dua gunung yang tak sempat ia selesaikan. "Aku terlalu sibuk," katanya, dan suaranya getir. "Aku menyeberangkan tujuh gunung ke seberang laut, tapi aku tidak sempat menyelesaikan satu kain untuk satu orang yang paling berhak melihatnya. Aku gagal di hal yang paling penting, Warni. Semua yang lain ini—pameran, pesanan, gaji—rasanya kosong kalau orang yang untuknya semua ini dimulai tidak sempat melihatnya."
Warni diam lama. Lalu ia berkata, pelan tapi tegas, "Mbak ingat waktu pertama aku pulang dari pabrik? Aku pulang bukan karena yakin sama Mbak. Aku pulang karena pabrik merumahkan aku. Aku datang dengan hati setengah, mengira ini cuma tempat berteduh sebentar sebelum cari pabrik lain."
Sekar mengangguk. Ia ingat.
"Yang membuat aku bertahan," lanjut Warni, "bukan Mbak yang mengajakku. Bukan gaji. Tapi waktu aku lihat Mbah Sumirah—waktu itu beliau masih bisa duduk—aku lihat beliau meraba kain yang aku tenun, kain pertama yang jelek, banyak salahnya. Dan beliau mengangguk. Cuma mengangguk. Tapi aku tahu artinya: lanjutkan. Aku bertahan karena anggukan itu, Mbak. Sampai sekarang."
Gadis itu menoleh menatap Sekar. "Mbah Sumirah tidak menunggu kain itu selesai untuk tahu tujuh gunung selamat. Beliau sudah tahu. Beliau melihatnya tiap subuh, di tangan Mbak, di tanganku, di tangan Nimas. Kita ini kainnya, Mbak. Kita yang beliau tenun. Yang belum selesai bukan kain di sudut amben itu—yang belum selesai itu kita semua. Dan kalau Mbak berhenti sekarang, kalau Mbak biarkan duka ini memadamkan Mbak, baru itu janji yang gagal ditepati. Bukan dua gunung yang belum dicelup."
Sekar tidak menjawab. Ia tidak bisa. Sesuatu di dadanya yang sejak subuh itu terkunci rapat mulai longgar, dan air mata yang sudah berminggu ia tahan—karena ia merasa harus kuat di depan kampung yang baru saja menyerahkan tujuh gunung padanya—akhirnya jatuh, diam-diam, di sore yang biasa itu.
Bu Lastri, yang ternyata mendengar dari kolong sebelah, naik perlahan dan duduk di sisi lain Sekar. Perempuan pendiam itu jarang bicara panjang, tapi sore itu ia berkata, "Orang tua kita mewariskan tujuh gunung supaya tidak mati. Cara kita menghormati mereka bukan dengan menangisi mereka sampai tenun ikut berhenti lagi. Tapi dengan menjaga deritnya tetap berbunyi. Mbah Sumirah paling takut satu hal, Nduk—bukan mati. Tapi kampung ini mati sesudah dia. Selama kamu masih menenun, selama kolong-kolong ini masih berderit, ketakutan terbesarnya tidak akan pernah terjadi. Itu janji yang sedang kamu tepati, tiap hari, tanpa kamu sadari."
Malam itu Sekar kembali ke kolong rumah neneknya. Tapi kali ini ia tidak hanya memandangi kain janji yang belum selesai. Ia mengambilnya, membentangkannya di pangkuan, dan untuk pertama kalinya sejak subuh itu, ia menyiapkan tarum dan mengkudu untuk celup dua gunung yang terakhir. Ia bekerja pelan, dengan tangan yang lebih mantap dari yang ia kira. Bukan untuk mata yang sudah tertutup—ia akhirnya mengerti itu. Melainkan untuk dirinya sendiri, dan untuk kampung, dan untuk anggukan yang Mbah Sumirah berikan pada Warni, pada Nimas, pada semua tangan muda yang kini memegang benang.
Kain itu akan ia selesaikan. Bukan sebagai janji yang gagal, tapi sebagai janji yang ditepati dengan cara yang baru ia pahami: warisan yang hidup adalah cara terbaik mengenang orang yang menitipkannya. Dan ketika dua gunung terakhir itu jadi, ia tidak akan menjualnya, dan tidak akan menguburnya bersama dukanya. Ia akan menggantungnya di balai, agar tiap penenun yang lewat melihatnya, dan ingat dari tangan siapa tujuh gunung itu datang.