Bagas datang seminggu sesudah masa berkabung resmi lewat, ketika kampung sudah kembali berderit dan halaman rumah panggung tak lagi penuh pelayat. Ia datang sendiri, mengendarai mobil yang ia parkir jauh di mulut kampung dan berjalan kaki sisanya melewati gang sempit—mungkin karena jalan terlalu sempit untuk mobil, atau mungkin karena ia tahu mobil mahal di gang kampung yang sedang berkabung akan terasa salah. Ia memakai pakaian sederhana, membawa karangan tak mencolok, dan tidak membawa map biru.
Sekar menemuinya di beranda. Untuk sesaat ia merasa waspada yang sudah jadi refleks tiap kali Bagas muncul—menunggu tawaran, klausul tersembunyi, bujukan yang dipoles ramah. Tapi laki-laki itu hanya menyerahkan karangan, menundukkan kepala, dan berkata, "Saya turut berduka, Mbak Sekar. Sungguh. Saya dengar kabarnya dari Pak Damar."
"Terima kasih," kata Sekar, masih menjaga jarak.
Mereka duduk di beranda dengan teh yang dibuatkan Bu Ngatiyem—yang memandang Bagas dengan curiga tak tersembunyi sebelum kembali ke kolongnya. Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Lalu Bagas memandang ke arah gang, ke kolong-kolong yang berderit, dan berkata, "Saya tidak datang untuk bisnis. Saya ingin itu jelas dulu. Tidak ada tawaran hari ini. Saya hanya... saya merasa harus datang."
Sekar menunggu. Ia sudah cukup mengenal Bagas untuk tahu bahwa di balik sopannya selalu ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Boleh saya cerita sesuatu?" kata Bagas akhirnya. "Sesuatu yang belum pernah saya ceritakan ke Mbak, karena selama ini kita selalu bicara soal kontrak." Ia menarik napas. "Kakek saya mendirikan Rasaraya dari satu mesin jahit. Satu. Di garasi sewaan. Dia dulu buruh di pabrik tekstil Belanda, lalu merdeka, lalu nekat buka usaha sendiri waktu semua orang bilang dia gila. Saya tumbuh dengan cerita itu tiap malam. Bahwa keluarga kami ada karena seseorang berani membesarkan sesuatu yang kecil."
Ia memutar gelas tehnya pelan. "Waktu saya mengambil alih sebagian Rasaraya, ayah saya sakit, utang perusahaan menumpuk, ratusan buruh bergantung pada gaji kami. Saya tidak tidur berbulan-bulan. Dan saya menemukan satu hal yang menyelamatkan kami: lisensi. Membeli motif-motif daerah, mencetaknya massal, menjualnya murah ke seluruh negeri. Itu yang menyelamatkan ratusan keluarga buruh saya, Mbak. Itu yang melunasi utang kakek saya yang nyaris menenggelamkan kami. Jadi waktu saya datang ke Mbak dulu dengan tawaran lisensi tujuh gunung—saya sungguh-sungguh mengira saya sedang menawarkan penyelamatan. Sama persis seperti yang dulu menyelamatkan saya."
Sekar menatapnya. Untuk pertama kalinya ia melihat bukan ahli waris konglomerat yang ramah dan licin, melainkan seorang laki-laki yang juga mewarisi beban yang tak ia minta, yang juga takut menjadi generasi yang membuat warisan keluarganya mati.
"Saya tidak pernah berpikir," kata Sekar pelan, "bahwa kita berdua sebenarnya menakuti hal yang sama."
Bagas tersenyum tipis, getir. "Apa itu?"
"Menjadi orang yang membunuh sesuatu yang dititipkan pada kita. Sampean takut Rasaraya mati di tangan sampean. Saya takut tujuh gunung mati di tangan saya. Kita cuma punya cara yang berlawanan untuk mencegahnya. Sampean pikir menyelamatkan berarti memperbanyak, mencetak, menyebar ke mana-mana supaya tidak bisa mati. Saya pikir menyelamatkan berarti menjaga supaya tetap sedikit, tetap bertangan, tetap punya nama. Sampean mau menyelamatkan dengan mesin. Saya mau menyelamatkan dengan kesabaran."
Bagas terdiam lama. "Dan Mbah Sumirah," katanya akhirnya, "pergi sebelum tahu cara siapa yang benar."
Sesuatu menyengat di dada Sekar, tapi ia menahannya. "Beliau tahu," katanya. "Beliau sudah melihatnya. Kampung hidup, kainnya sampai ke kota, ke seberang laut, dan tidak satu garis pun digeser oleh mesin. Beliau melihat semua itu sebelum pergi. Mungkin tidak penuh, mungkin tidak sempurna seperti yang saya janjikan. Tapi beliau tahu jalan ini berhasil. Beliau menutup mata dengan tahu tujuh gunung tidak mati—dan tidak harus dicetak mesin untuk tetap hidup."
Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan sebagai bantahan, tapi ia melihat efeknya di wajah Bagas. Laki-laki itu mengangguk pelan, dan ada sesuatu di matanya yang seperti orang yang baru saja mendengar satu kemungkinan yang selama ini ia tutup.
"Sampean tahu," kata Bagas setelah hening, "saya datang ke sini bertahun-tahun ini dengan satu keyakinan: bahwa kampung kecil tidak bisa bertahan melawan pasar tanpa modal besar dan mesin. Bahwa cepat atau lambat Mbak akan lelah dan menandatangani. Saya sabar karena saya yakin saya benar. Dan sekarang—" ia berhenti, memandang lagi ke kolong-kolong yang berderit, ke ATBM baru yang berderit di kolong yang dulu kosong, ke Warni yang mengajar Nimas di beranda seberang. "Sekarang saya tidak seyakin itu."
Sekar tidak menjawab. Ia membiarkan keraguan itu duduk di antara mereka, tidak memaksanya jadi kemenangan, tidak menusuknya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun pertarungan, mereka berbicara bukan sebagai dua pihak yang tawar-menawar, melainkan sebagai dua orang yang sama-sama memikul warisan dan sama-sama takut menghancurkannya.
Sebelum pergi, Bagas berdiri di beranda dan memandang Sekar. "Saya minta maaf," katanya, "kalau selama ini saya membuat Mbak merasa diburu. Saya sungguh mengira saya sedang menyelamatkan. Mungkin saya keliru. Mungkin tidak. Tapi saya berjanji satu hal hari ini—dan ini bukan tawaran, ini cuma janji seorang manusia ke manusia lain: saya tidak akan lagi mengganggu Mbak di tengah duka. Lain kali kita bicara, kalau pun ada lain kali, itu karena Mbak yang memanggil saya. Bukan saya yang memburu Mbak."
Ia berbalik dan berjalan kembali ke mulut kampung, melewati gang sempit yang sama, dan Sekar memandanginya pergi dengan perasaan yang aneh: bukan kemenangan, bukan kelegaan, melainkan sebuah pengertian yang sunyi bahwa lawan terberatnya selama ini ternyata juga seorang anak yang sedang berusaha tidak mengecewakan kakeknya yang sudah tiada.