Bagas menepati janjinya untuk tidak memburu, tapi ia kembali sekali lagi sebulan kemudian—kali ini atas undangan Sekar sendiri. Pak Damar, kurator yang sejak pameran kota besar menaruh perhatian pada tujuh gunung, mengusulkan sebuah forum kecil di kota provinsi: diskusi tentang masa depan tekstil tangan di Indonesia, dihadiri perancang, akademisi, dan beberapa pelaku industri. Ia meminta Sekar bicara. Dan ketika Sekar melihat daftar pembicara, nama Bagas Wirasena ada di sana, mewakili industri garmen.
Mereka tidak ditempatkan untuk berdebat. Tapi semua orang di ruangan itu tahu bahwa di antara perempuan penenun kampung dan ahli waris konglomerat garmen, ada dua jalan yang berlawanan, dan forum itu menjadi tempat dua jalan itu akhirnya berdiri bersisian di depan umum, bukan saling sembunyi di balik map kontrak.
Bagas bicara lebih dulu. Ia jujur—lebih jujur dari yang Sekar duga. Ia memaparkan logika industri tanpa menutupinya: pasar tekstil Indonesia raksasa, permintaan kain bermotif daerah tinggi, dan satu-satunya cara memenuhinya secara ekonomis adalah produksi massal. "Kain tangan," katanya, "indah, bermakna, tapi mahal dan lambat. Realistisnya, ia hanya bisa hidup di pojok kecil pasar mewah. Untuk menyelamatkan motif-motif daerah dari kepunahan dalam skala besar, mau tidak mau kita butuh mesin. Itu pahit, tapi itu hitungannya."
Lalu giliran Sekar. Ia berdiri tanpa catatan—ia tahu apa yang ingin ia katakan, karena ia sudah menjalaninya, bukan menghitungnya. "Tiga tahun lalu," ia memulai, "kampung saya hampir mati. Tiga penenun tua tersisa, anak muda semua di pabrik, utang menumpuk, dan satu-satunya tawaran yang masuk akal di atas kertas adalah persis yang baru saja dijelaskan Pak Bagas—lisensi, cetak mesin, selamat secara ekonomi. Saya hampir menandatanganinya. Pena sudah di tangan saya."
Ruangan diam. Ia melanjutkan. "Saya tidak menandatangani. Bukan karena saya idealis. Saya perempuan yang menghitung—saya pernah kerja di butik kota, saya tahu harga, tren, margin. Saya tidak menolak karena saya benci uang. Saya menolak karena satu hitungan yang luput dari rumus pabrik: kalau motif kampung dicetak mesin dan kampung dilarang menenunnya sendiri, maka uang itu masuk sekali, lalu habis, dan tangan-tangan penenun mati untuk selamanya. Yang dijual bukan kain. Yang dijual masa depan puluhan perempuan."
Ia membuka tas dan mengeluarkan sehelai kain tujuh gunung—bukan yang termahal, hanya kain biasa dari kampung. Ia membentangkannya. "Pak Bagas bilang kain tangan hanya bisa hidup di pojok kecil pasar mewah. Itu betul. Tapi pojok kecil itu cukup. Kampung saya sekarang menggaji penenun setara, kadang lebih, dari pabrik garmen. Tanpa shift malam. Tanpa mandor. Utang lunas. ATBM bertambah. Anak muda pulang sendiri tanpa dipanggil. Kami tidak besar. Kami tidak akan pernah sebesar Rasaraya. Tapi kami hidup, dan kami hidup sebagai pencipta yang punya nama, bukan operator mesin yang anonim. Hitungan industri bilang ini mustahil. Kami sudah menjalaninya tiga tahun. Yang mustahil itu ternyata cuma belum pernah dicoba dengan sabar."
Ia melipat kembali kainnya. "Saya tidak bilang semua kampung harus seperti kami. Saya tidak bilang mesin selalu salah. Kain murah punya tempatnya, orang butuh kain murah. Tapi saya menolak satu hal: bahwa menyelamatkan warisan hanya bisa dengan menghapus tangan yang membuatnya. Ada jalan ketiga. Saya berdiri di sini sebagai buktinya. Dan nenek saya, yang menyimpan motif ini tujuh puluh tahun di kepalanya dan baru saja meninggal, sempat melihat jalan ketiga itu berhasil sebelum ia pergi. Itu cukup buat saya untuk tahu jalan ini nyata, bukan mimpi."
Ruangan hening sejenak sebelum tepuk tangan datang. Tapi Sekar tidak memandang penonton. Ia memandang Bagas, yang duduk di kursi pembicara dengan wajah yang Sekar belum pernah lihat sebelumnya—bukan wajah orang yang kalah debat, melainkan wajah orang yang sedang menghitung ulang sesuatu di kepalanya yang sudah lama ia anggap selesai.
Sesudah forum, mereka berdiri di koridor. Bagas mendekat. "Mbak tahu," katanya, "selama bertahun-tahun saya yakin Mbak akan gagal. Bukan karena saya ingin Mbak gagal. Tapi karena kalau Mbak berhasil, itu berarti seluruh logika yang saya pakai untuk menyelamatkan Rasaraya—seluruh keyakinan yang saya warisi—mungkin tidak selengkap yang saya kira. Dan itu menakutkan. Lebih mudah percaya Mbak mustahil daripada percaya saya tidak punya semua jawaban."
"Sampean tidak harus mengakui saya benar," kata Sekar. "Kampung kami kecil. Rasaraya raksasa. Kita melayani dunia yang berbeda."
"Tidak," Bagas menggeleng. "Saya tidak akan bilang Mbak benar dan saya salah. Itu terlalu mudah dan tidak jujur. Mesin saya memberi makan ratusan keluarga buruh, itu nyata, itu tidak salah. Tapi saya akan mengakui satu hal: Mbak menemukan sesuatu yang pabrik saya, dengan semua modal dan mesinnya, tidak bisa beli. Mbak membuat sehelai kain punya nama orang yang membuatnya. Saya bisa mencetak sejuta meter tujuh gunung dalam sebulan. Tapi saya tidak bisa membuat satu pun dari sejuta meter itu punya cap jari di simpulnya. Itu yang tidak ada di hitungan saya. Dan sekarang saya tahu itu ada."
Mereka tidak berdamai sepenuhnya. Tidak ada pelukan, tidak ada kemitraan yang ditandatangani hari itu. Dua filosofi tetap berdiri berseberangan—satu percaya pada banyak dan cepat, satu percaya pada sedikit dan dalam. Tapi untuk pertama kalinya, keduanya berdiri di tanah yang sama, saling memandang sebagai sesama yang serius, bukan pemangsa dan mangsa. Dan ketika Bagas berpamitan, ia berkata sesuatu yang akan diingat Sekar lama: "Kalau suatu hari saya menemukan cara membuat pabrik saya memberi nama pada tangan-tangannya—seperti yang Mbak lakukan—saya berutang ide itu pada Mbak. Dan pada nenek Mbak."