Surat itu datang lewat surel ke alamat yang Sekar buat dua tahun lalu untuk menerima pesanan, alamat yang biasanya hanya berisi pertanyaan pembeli soal jadwal dan harga. Tapi yang ini berbeda. Pengirimnya sebuah lembaga penyelenggara pekan mode tekstil di ibu kota—acara tahunan bergengsi yang mempertemukan perancang busana, pembeli internasional, dan media, untuk merayakan tekstil sebagai bahan utama mode kontemporer. Dan di tengah surel itu, satu kalimat yang membuat Sekar membacanya tiga kali untuk memastikan ia tidak salah baca: mereka mengundang kain tujuh gunung dari Watu Lawang untuk tampil dalam peragaan utama.
Pak Damar yang merekomendasikan. Sekar menelepon dan mendapati suaranya bergetar di seberang. "Saya sudah lihat kain Mbak berdiri di pameran kota besar," kata kurator itu. "Tapi pameran itu di balik kaca, statis, orang melihatnya seperti melihat benda museum. Peragaan ini lain. Kain Mbak akan dijahit jadi busana, dipakai, bergerak di bawah lampu, dipotret media internasional. Ini panggung tertinggi yang bisa saya bukakan. Tapi saya tidak akan membohongi Mbak—ini juga taruhan terbesar. Di panggung itu, kain Mbak akan dinilai sejajar dengan tekstil dari rumah mode dunia. Kalau berhasil, nama Watu Lawang dikenal di lingkar mode internasional. Kalau gagal, gagalnya juga di depan semua mata yang penting."
Sekar menutup telepon dan duduk lama di beranda. Di kolong-kolong, derit alat tenun berlapis seperti biasa. Ia memandang gang kampung yang dulu hampir senyap dan mencoba menimbang apa yang baru saja ditawarkan padanya. Dari kolong rumah panggung yang nyaris mati tiga tahun lalu, ke panggung mode di ibu kota di hadapan pembeli dunia. Jarak itu terasa terlalu jauh untuk dipercaya, dan justru karena itu ia takut.
Ia membawa undangan itu ke rapat koperasi. Reaksinya terbelah, seperti yang ia duga. Bujang langsung melihat peluangnya—"Ini bisa membuka pasar yang tidak pernah kita mimpikan, Mbak. Nama kita bisa naik berkali lipat." Tapi Warni waspada, ingatan kegagalan pesanan besar dulu masih segar di kampung. "Kita pernah hampir hancur waktu menerima pesanan yang lebih besar dari kemampuan kita," katanya. "Panggung sebesar ini, kalau kita gagal di sana—"
Bu Ngatiyem yang paling lama diam. Perempuan tua itu, yang seumur hidupnya menolak segala yang berbau kota, akhirnya bicara dengan suara berat. "Aku tidak suka kota," katanya. "Aku tidak suka panggung, lampu, orang-orang yang menatap kain kita seperti menatap barang aneh. Sumirah juga tidak suka. Kalau dia masih ada, dia pasti menyuruh kita tinggal di kampung dan menenun saja." Ia berhenti, dan matanya menerawang. "Tapi Sumirah juga yang dulu bilang padaku, waktu kainnya ditolak pasar bertahun-tahun lalu: kalau yang melihat kain kita cuma orang yang menganggapnya kuno, kain kita akan mati dianggap kuno. Mungkin sudah waktunya kain ini dilihat oleh mata yang bisa melihatnya benar."
Semua menoleh padanya, terkejut.
"Aku tidak akan menghalangi," lanjut Bu Ngatiyem. "Tapi aku punya satu syarat. Kalau kita naik panggung itu, kita naik dengan tujuh gunung penuh. Pakem utuh. Tujuh celup, tujuh garis rapat, dikerjakan tangan. Bukan versi yang dipermudah supaya cepat jadi. Kalau kita harus malu di sana, biar kita malu karena kain kita terlalu jujur, bukan karena kita memotong jalan. Kalau mereka menertawakan tujuh gunung yang utuh, biar. Tapi mereka tidak akan pernah bisa bilang kita berbohong tentang siapa kita."
Sekar memandang perempuan tua itu dengan rasa hormat yang dalam. Bu Ngatiyem, penjaga pakem paling keras, yang dulu melawan setiap perubahan, kini memberi restu untuk panggung paling modern yang bisa dibayangkan—asalkan jiwanya tidak digadaikan. Dan dalam syarat itu, Sekar mengenali seluruh inti perjuangan mereka selama ini: bukan menolak kota, tapi menolak menjadi palsu demi kota.
"Saya terima syarat itu," kata Sekar. "Bahkan saya akan menambahkannya. Kita tidak hanya akan tampil dengan pakem utuh. Kita akan tampil dengan nama. Tiap kain yang naik panggung itu akan membawa nama penenunnya—nama Ibu, nama Warni, nama Bu Lastri, nama saya. Dan satu nama lagi di urutan pertama, di tiap label, di tiap cerita yang kita ceritakan di sana."
"Siapa?" tanya Bujang.
"Mbah Sumirah," kata Sekar. "Karena tujuh gunung yang naik panggung itu adalah tujuh gunung yang beliau jaga tujuh puluh tahun. Beliau tidak sempat melihatnya. Tapi namanya yang akan dibawa lebih dulu ke panggung itu, di depan dunia. Itu kain janji saya yang sebenarnya—bukan satu helai di sudut amben, tapi seluruh koleksi yang kita bawa ke ibu kota. Saya berjanji menulis nama beliau pertama. Saya akan menepatinya di panggung yang tidak pernah berani beliau bayangkan ada."
Ruangan diam. Lalu Bu Ngatiyem mengangguk, satu kali, tegas, seperti seorang penjaga gerbang yang akhirnya membuka pintu yang ia jaga seumur hidupnya. "Kalau begitu," katanya, "kita kerja. Kita punya panggung untuk dimenangkan. Dan tidak banyak waktu."
Malam itu, ketika rapat bubar dan kampung kembali ke deritnya, Sekar berdiri sendiri di balai memandang undangan di tangannya. Tiga tahun lalu ia memegang pena di atas kontrak yang akan membunuh kampungnya. Kini ia memegang undangan yang akan membawa kampungnya ke panggung tertinggi—dengan jiwanya utuh, dengan tangannya bernama, dengan akarnya tidak tercabut. Jarak antara dua kertas itu adalah seluruh perjuangan hidupnya, dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin sekaligus membakar, bahwa pertaruhan terbesar baru akan dimulai.