Mereka berangkat pagi-pagi sekali, ketika kabut masih menggantung di gang dan derit alat tenun belum dimulai. Tiga perempuan—Sekar, Bu Ngatiyem, dan Warni—membawa enam kain tujuh gunung yang dibungkus kain putih dan diletakkan di kotak kayu, dijaga seperti orang menjaga abu leluhur. Bujang mengantar sampai mulut kampung dengan kendaraan pinjaman, lalu mereka berpindah ke bus menuju kota provinsi, dari sana ke kereta menuju ibu kota.
Bu Ngatiyem belum pernah sejauh ini seumur hidupnya. Perempuan tua itu duduk dekat jendela kereta, memandang dunia yang melaju di luar—sawah berganti pabrik, pabrik berganti perumahan, perumahan berganti gedung-gedung yang makin tinggi semakin dekat ke ibu kota. Ia tidak banyak bicara. Tapi Sekar melihat tangannya, yang selalu memegang sudut kotak kayu berisi kain itu, tidak pernah lepas sepanjang perjalanan.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Sekar di suatu titik.
Bu Ngatiyem mengangguk pelan, matanya masih di jendela. "Sumirah dulu bilang," katanya, "di luar kampung itu bahaya. Kota itu memakan kain kita, mengubahnya jadi murah, jadi tanpa nama. Aku percaya itu seumur hidupku. Aku tidak pernah mau pergi sejauh ini karena aku takut kota memakan tujuh gunung." Ia menoleh menatap kotak kayu di pangkuannya. "Tapi sekarang aku membawanya sendiri ke perut kota. Dan kali ini bukan kota yang menyeret kita ke sana untuk dijual murah. Kita yang datang, dengan kepala tegak, membawa kain yang utuh, untuk ditunjukkan apa adanya. Itu beda, Nduk. Itu beda sekali."
Sekar memandang perempuan tua itu dan menyadari betapa besar yang sedang terjadi—bukan hanya kain yang naik kelas, tapi seorang penjaga tradisi yang seumur hidup menolak kota, kini menyeberang menemui kota di atas tanahnya sendiri, dengan syarat-syaratnya sendiri.
Warni, yang duduk di seberang, memandang gedung-gedung ibu kota yang mulai muncul dengan mata berbeda. "Aku dulu di sini," katanya pelan. "Bukan di sini persis, tapi kota seperti ini. Di pabrik. Aku menjahit ratusan potong kain sehari, semua sama, semua tanpa nama. Aku tidak pernah tahu kain yang aku jahit pergi ke mana, dipakai siapa. Aku cuma tangan di ujung mesin." Ia menoleh ke kotak kayu berisi enam kain tujuh gunung. "Sekarang aku kembali ke kota dengan kain yang ada namaku di labelnya. Kain yang aku celup sendiri, yang aku jaga tujuh celupnya. Kalau dulu aku ke kota untuk hilang, sekarang aku ke kota untuk dilihat."
Kalimat itu menusuk Sekar dengan kebenaran yang penuh. Lingkaran yang sedang mereka tutup. Ia sendiri dulu di kota—empat tahun di butik, menjaga dan menjahit kain orang lain, fasih bicara harga dan tren tapi tanpa kain yang ia sebut miliknya sendiri. Lalu ia pulang ke derit tenun yang hampir mati. Dan kini ia kembali ke kota—bukan sebagai penjaga butik, bukan sebagai penjahit kain pabrik, melainkan sebagai pemegang lungsin tujuh gunung yang membawa tangan-tangan kampungnya ke panggung tertinggi. Kota yang dulu menelannya kini menjadi panggung yang akan menyaksikannya. Perbedaan antara pergi untuk hilang dan datang untuk dilihat adalah seluruh jarak perjalanannya.
Di sepanjang jalan, Sekar memikirkan kampung-kampung tenun lain yang ia temui dulu ketika mencari saksi untuk pengajuan hak komunal—kampung-kampung yang sama sekaratnya dengan Watu Lawang dulu, penenun-penenun tua yang tangannya juga hafal motif yang nyaris tak ada penerusnya. Ia membawa secarik daftar nama mereka di tasnya. Karena ia tahu, kalau panggung ini berhasil, ia tidak akan berdiri di sana hanya mewakili Watu Lawang. Ia akan berdiri mewakili sebuah tradisi yang lebih luas, sebuah cara hidup yang hampir punah di banyak lereng gunung. Tujuh gunung Watu Lawang akan menjadi pintu—dan kalau pintu itu terbuka, kampung-kampung lain bisa menyusul.
Mereka tiba di ibu kota menjelang sore. Kota itu menyambut mereka dengan kebisingan yang asing bagi Bu Ngatiyem—klakson, gerbong, kerumunan, lampu yang menyala bahkan sebelum gelap. Perempuan tua itu memegang erat lengan Sekar saat mereka berjalan keluar stasiun, dan Sekar tidak melepaskannya. Mereka menginap di penginapan sederhana yang dipesankan panitia, tidak jauh dari tempat peragaan akan digelar keesokan malamnya.
Malam itu, di kamar penginapan, mereka membuka kotak kayu dan membentangkan enam kain itu di atas ranjang untuk memeriksanya terakhir kali. Di bawah lampu kamar yang biasa, biru tujuh celup itu tetap dalam, garis tujuh gunung tetap rapat dan tegas. Bu Ngatiyem meraba tiap kain, satu per satu, memejamkan mata seolah membaca dengan ujung jarinya. "Semua benar," gumamnya. "Semua utuh. Tidak ada yang bohong."
Sekar mengambil label-label kecil yang akan disematkan pada tiap kain di panggung. Di tiap label tertulis nama penenunnya, nomor edisi, dan kisah singkat tujuh gunung. Dan di tiap label, di baris paling atas, sebelum nama siapa pun, tertulis satu nama: Sumirah. Pemegang motif lungsin tujuh gunung, generasi kedua Watu Lawang.
Warni membaca salah satu label dan menoleh pada Sekar. "Mbak menulis nama Mbah Sumirah pertama di semuanya."
"Aku berjanji," kata Sekar pelan, memandang nama itu. "Dulu aku berjanji menulis nama beliau pertama di satu kain. Aku tidak sempat menyelesaikan kain itu sebelum beliau pergi. Jadi sekarang aku menulisnya di enam kain. Di panggung paling terang yang bisa aku bawakan untuknya. Beliau tidak sempat melihat tujuh gunung naik panggung dunia. Tapi namanya yang akan naik lebih dulu, di depan semua mata di sana. Itu kain janjiku yang sebenarnya. Bukan benang dan celup. Tapi nama beliau, dibawa ke tempat yang tidak pernah berani beliau bayangkan ada."
Bu Ngatiyem, yang mendengar, mengusap matanya dengan punggung tangannya dan tidak berkata apa-apa. Tapi malam itu, sebelum tidur, perempuan tua itu meletakkan satu kain tujuh gunung di dekat kepalanya, seperti Mbah Sumirah dulu meminta dibawa pergi dengan kain tangannya sendiri yang menemani. Dan dalam keheningan kamar penginapan di perut kota yang asing, tiga perempuan dari kampung yang hampir mati tidur dengan enam kain tujuh gunung di sekeliling mereka, menjaga, dijaga, siap untuk panggung yang akan menentukan apakah seluruh perjuangan bertahun itu benar-benar bukan kesia-siaan.