Tempat peragaan itu adalah bekas gudang tua yang disulap menjadi ruang mode—dinding bata terekspos, lampu yang digantung tinggi, dan landasan panjang membelah ruangan tempat para peraga akan berjalan. Sekar, Bu Ngatiyem, dan Warni dibawa ke ruang belakang sejak sore, tempat kain-kain mereka sudah dijahit menjadi busana oleh perancang yang bekerja sama dengan panitia—busana yang, sesuai syarat Sekar, tidak memotong satu garis pun tujuh gunung, hanya membingkainya, membiarkan kain bercerita sendiri.
Bu Ngatiyem berdiri kaku di antara hiruk-pikuk persiapan—peraga yang dirias, perancang yang berteriak instruksi, fotografer yang menguji lampu. Semua ini dunia yang ia tolak seumur hidup. Tapi ia tidak pergi. Ia berdiri menjaga kotak kayu yang kini kosong, memandang busana-busana yang menggantung di gantungan, dan Sekar melihat tangannya gemetar pelan.
"Ibu," kata Sekar mendekat, "kalau Ibu mau menunggu di luar, di tempat penonton—"
"Tidak," potong Bu Ngatiyem, suaranya keras menutupi getarnya. "Aku mau di sini. Aku mau lihat kain kita keluar dari pintu itu. Kalau ada yang salah, aku mau di sini." Lalu, lebih pelan, "Kalau Sumirah masih ada, dia juga akan di sini. Jadi aku berdiri untuk kami berdua."
Ketika peragaan dimulai, ruangan meredup dan landasan menyala. Musik mengalun, dan satu per satu peraga keluar membawa busana dari berbagai perancang—tekstil dari rumah mode kota, kain-kain cetak modern, rajutan eksperimental. Sekar mengintip dari balik tirai dan merasakan jantungnya berdebar; di antara semua karya canggih itu, akankah enam kain dari kolong rumah panggung di lereng gunung terlihat seperti apa adanya—jujur, lambat, bertangan—ataukah justru terlihat kuno, salah tempat, dikasihani?
Lalu giliran mereka. Pembawa acara membaca pengantar yang sudah disiapkan panitia—dan Sekar mendengar, dengan dada yang penuh, bahwa mereka tidak hanya menyebut kain dan kampung, tapi menceritakan kisahnya: kampung tenun yang hampir mati, yang menolak mencetak motif sakralnya dengan mesin, yang membawa enam kain bukan tujuh karena hujan panjang dan mereka menolak memalsukan sisanya. Cerita hujan itu—cerita yang nyaris membuat mereka membawa lebih sedikit dengan malu—justru dibacakan sebagai kehormatan, sebagai bukti kejujuran kain tangan.
Kain pertama keluar di bawah lampu. Tujuh gunung penuh, biru tujuh celup yang dalam, garis rapat yang tegas, bergerak dan hidup di atas tubuh yang berjalan. Dan Sekar melihat sesuatu terjadi di ruangan—keheningan. Bukan keheningan bosan. Keheningan orang yang melihat sesuatu yang berbeda dari semua yang sudah mereka lihat malam itu. Di tengah tekstil yang mengejar kebaruan, kain yang justru paling tua, paling lambat, paling jujur, menarik mata seperti magnet. Beberapa kepala condong ke depan. Beberapa tangan mengangkat kamera. Seorang perempuan di barisan depan—yang kemudian Sekar tahu adalah pembeli dari rumah mode internasional—menahan napas.
Kain demi kain keluar. Dan di tiap kain, pengantar menyebut nama penenunnya—nama Bu Ngatiyem, nama Bu Lastri, nama Warni, nama Sekar—dan di tiap kain, sebelum nama-nama itu, satu nama dibaca pertama: Sumirah, pemegang motif yang menjaga tujuh gunung tujuh puluh tahun, yang baru saja berpulang sebelum melihat kainnya naik panggung ini. Sekar mendengar nama neneknya menggema di ruang besar itu, di hadapan ratusan mata dunia mode, dan ia harus menggigit bibirnya agar tidak runtuh.
Ia menoleh ke Bu Ngatiyem. Perempuan tua yang seumur hidup menolak kota itu berdiri tegak di samping tirai, memandang ke landasan tempat kain leluhurnya berjalan di bawah lampu yang dihormati, dipotret, dikagumi—dan air mata mengalir di pipinya yang keriput tanpa ia usap. Bukan air mata sedih. Air mata seseorang yang seumur hidup menjaga sesuatu dalam diam, takut sesuatu itu akan mati dianggap kuno, dan kini menyaksikannya berdiri di tempat tertinggi, dilihat, dihormati, dihargai. Bukan disembunyikan. Tidak lagi pernah disembunyikan.
Ketika kain terakhir kembali ke balik tirai dan tepuk tangan membanjir, Bu Ngatiyem meraih tangan Sekar dan menggenggamnya erat. "Mereka melihatnya," bisik perempuan tua itu, suaranya pecah. "Nduk, mereka melihatnya. Tujuh puluh tahun aku mengira kalau kita keluar dari kampung, kota akan menghancurkan kain kita. Aku salah. Mereka tidak menghancurkannya. Mereka melihatnya. Untuk pertama kali, ada yang melihat tangan di balik kain kita."
Sekar memeluk perempuan tua itu, dan mereka berdiri begitu di balik tirai sementara peragaan berlanjut, dua perempuan dari kampung yang hampir mati, menangis bukan karena duka kali ini, tapi karena sesuatu yang lebih sulit ditampung: pengakuan yang datang setelah perjuangan yang terlalu panjang.
Sesudahnya, di tengah kerumunan yang menghampiri mereka—pembeli, perancang, wartawan—Sekar menjawab pertanyaan dengan kepala yang berputar. Tapi di tengah semua itu, ia mencuri sesaat untuk berdiri sendiri di tepi ruangan, memandang busana tujuh gunung yang kini dipajang, dan ia berbisik dalam hati pada satu nama yang tak ada di ruangan itu tapi ada di tiap label. Mbah, katanya tanpa suara, mereka melihatnya. Tujuh gunung hidup. Naik panggung. Dan namamu yang lebih dulu sampai ke sini, sebelum aku, sebelum siapa pun. Aku menepati janjiku, Mbah. Tidak di satu kain di sudut amben. Tapi di sini, di tempat yang tidak pernah berani Mbah bayangkan ada. Tidak ada yang menertawakannya lagi. Tidak akan pernah lagi.
Di luar gudang tua itu, ibu kota berdenyut dengan lampunya yang tak pernah padam. Tapi di dalam, di bawah satu sorot lampu, sehelai kain dari kolong rumah panggung di lereng gunung berdiri sebagai sesuatu yang akhirnya dilihat sebagaimana adanya—bukan murah, bukan kuno, bukan suvenir, melainkan karya tangan manusia yang punya nama, punya akar, dan punya tujuh gunung yang menolak mati. Kemenangan malam itu bukan uang, dan Sekar tahu itu, dan justru karena itu kemenangan itu terasa lebih berat dan lebih murni dari uang mana pun: tangan kampung, setelah sekian lama, akhirnya tidak lagi disembunyikan.