Investor itu datang dengan helikopter. Bukan kiasan—sungguh sebuah helikopter, yang mendarat di lapangan sepak bola kampung sebelah dan membuat seluruh Watu Lawang berhamburan menonton, anak-anak berteriak, ayam-ayam panik. Dari helikopter itu turun seorang lelaki berjas mahal dengan kacamata hitam dan dua asisten yang membawa map tebal, dan Sekar, yang menyaksikan dari teras, merasakan firasat dingin yang sudah lama tak ia rasakan kembali naik dari perutnya.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai perwakilan sebuah dana investasi besar—nama yang bahkan Bujang, yang rajin membaca berita ekonomi sekarang, mengenalinya dan berbisik dengan mata melebar. Mereka duduk di teras, dan map tebal itu dibuka, dan angka yang tertulis di halaman pertama membuat Bujang menahan napas dan membuat bahkan Sekar, untuk sesaat, kehilangan kata-kata.
Angka itu lebih besar dari semua yang pernah ditawarkan pada kampung ini. Lebih besar dari lisensi Bagas dulu. Lebih besar dari semua pesanan yang membanjir setelah peragaan. Angka yang, jika diubah jadi nyata, bisa membangun pabrik kecil, membeli puluhan ATBM, menggaji ratusan penenun, mengubah Watu Lawang dari kampung menjadi sebuah perusahaan tekstil yang namanya akan dikenal di seluruh negeri.
"Kami tertarik," kata lelaki itu, bicara cepat dan terlatih, "karena cerita kampung ini luar biasa. Kain tangan, motif sakral, peragaan ibu kota—ini bukan cuma produk, Mbak. Ini merek. Ini cerita yang bisa kami besarkan berkali-kali lipat. Bayangkan tujuh gunung nggak cuma di empat puluh toko Rasaraya, tapi di ribuan toko. Di seluruh Indonesia. Di luar negeri. Kami punya modalnya, kami punya jaringannya. Yang kami butuh cuma satu: skala. Volume."
"Volume," ulang Sekar pelan.
"Betul. Dan di sinilah—" lelaki itu membalik halaman map, "—kami realistis. Tangan nggak bisa ngejar skala yang kami bayangkan. Mustahil. Jadi usul kami: sebagian kain tetap tangan—yang premium, yang mahal, yang buat panggung dan kolektor. Itu jaga cerita-nya, jaga merek-nya. Tapi sebagian besar, untuk pasar luas, dibuat semi-mesin. Motifnya tetap tujuh gunung, polanya tetap, cuma prosesnya dibantu mesin biar cepat dan banyak. Pembeli awam nggak akan bisa bedain. Yang penting cerita-nya tetap hidup di lini premium, dan keuntungannya—" ia mengetuk angka besar di halaman, "—dari lini massal."
Di situ. Di kata semi-mesin. Di situ jebakan yang kini Sekar bisa cium dari jauh, sebersih ia mencium bau tarum dari bak celup.
Ia duduk diam, dan ia membiarkan dirinya merasakan godaan itu sepenuhnya, jujur, tanpa pura-pura ia kebal. Karena ia memang tergoda—bukan oleh uangnya semata, melainkan oleh apa yang uang itu bisa lakukan. Dengan dana sebesar itu, ia bisa membantu bukan sepuluh kampung tenun, tapi seratus. Ia bisa membangun sekolah tenun di tiap lereng. Ia bisa menggaji penenun lebih dari yang berani ia mimpikan, menarik pulang semua anak muda dari semua pabrik, mengakhiri kemiskinan yang dulu memaksa orang menjual akarnya. Bukankah itu tujuannya? Bukankah lebih banyak kampung selamat lebih penting dari kemurnian satu kampung?
Ia memikirkan itu sungguh-sungguh, di teras itu, di hadapan lelaki berjas yang menunggu dengan senyum sabar. Lalu ia memikirkan sesuatu yang lain. Ia memikirkan Bu Lastri di jemuran, menunjukkan pada murid-murid kain yang dicelup lima kali memudar di bulan ketiga: warna yang buru-buru ninggalin kamu di tengah jalan. Ia memikirkan kegagalan paling memalukan dalam hidupnya, ketika ia sendiri memangkas celup demi tenggat dan kain dikembalikan separuh, dan ia memikirkan apa yang ia pelajari dari kain-kain yang gagal itu: yang ditolak justru yang dipercepat, yang diterima justru yang dikerjakan penuh pakem. Keaslian dan kelambatan bukan kelemahan yang harus disembunyikan. Itu justru tepat alasan kain ini bisa hidup.
Dan ia memikirkan kata semi-mesin sekali lagi, dan ia melihat sampai ke ujungnya, sampai ke tempat yang lelaki berjas itu tak ingin ia lihat. Kalau sebagian besar kain dibuat semi-mesin dan pembeli awam tak bisa membedakannya, maka dalam waktu singkat, tujuh gunung akan membanjiri pasar dalam bentuk yang cepat dan murah. Lini premium yang bertangan akan tenggelam di lautan lini massal yang bermesin. Cerita yang mereka jual—tangan, nama, kelambatan, tujuh celup—akan menjadi dusta, karena kebanyakan kain bermotif itu tak lagi bertangan. Dan begitu cerita menjadi dusta, ia mati. Begitu tujuh gunung ada di mana-mana, ia tak istimewa di mana pun. Persis hal yang dulu nyaris terjadi ketika Bagas hendak mencetak motif dengan mesin—hanya kini dibungkus lebih halus, dengan janji bahwa "yang premium tetap dijaga".
Ini godaan yang lebih berbahaya dari semua sebelumnya, Sekar menyadarinya, karena ini menyamar sebagai kebaikan. Bagas dulu menawarkan menukar jiwa kampung dengan uang—mudah ditolak karena jelas. Ini menawarkan menukar jiwa kampung dengan menyelamatkan seratus kampung lain—godaan yang menyentuh hal terbaik dalam dirinya, bukan hal terburuk. Ini menguji apakah sukses telah mengubahnya menjadi yang dulu ia lawan, dengan membuat pengkhianatan tampak seperti kemurahan hati.
"Pak," kata Sekar akhirnya, dan suaranya tenang, tenang dengan ketenangan yang hanya datang dari tahu pasti, "saya hargai Bapak datang jauh-jauh. Tapi jawaban saya nggak."
Lelaki itu tersenyum, senyum orang yang mengira ini awal negosiasi. "Mbak, angkanya bisa kita naikkan—"
"Bukan soal angka, Pak." Sekar menutup map tebal itu pelan, mendorongnya kembali ke seberang meja, sama seperti ia dulu mendorong map biru ke arah Bagas di lobi rumah sakit. "Bukan soal angka, jadi naikin berapa pun nggak akan ngubah jawaban saya. Soal satu kata di kontrak Bapak: semi-mesin. Begitu satu helai tujuh gunung dibuat mesin, walau setengah mesin, walau pembeli awam nggak bisa bedain—kami yang bisa bedain. Dan begitu kami biarin tujuh gunung dibikin mesin biar banyak, kami udah jual yang nggak bisa dibeli balik. Kami udah jadi pabrik yang kebetulan dimulai dari kampung."
Ia berdiri, menandai bahwa percakapan selesai. "Dulu saya kelaparan satu pembeli, Pak, dan saya tetap nggak teken yang kayak gini. Sekarang kami kenyang, kami sehat, kami punya pilihan. Justru sekarang lebih nggak mungkin saya teken. Karena dulu saya bisa bilang saya kepepet. Sekarang saya nggak kepepet. Sekarang kalau saya teken, itu bukan karena terpaksa—itu karena saya rakus. Dan kampung ini nggak akan saya jual buat rakus saya sendiri, walau dibungkus jadi nolongin kampung lain. Kampung lain bisa kita tolong dengan cara kita: pelan, bertangan, jalan ketiga. Bukan dengan ngorbanin yang bikin jalan ketiga itu berharga."
Helikopter itu terbang pergi sore hari, meninggalkan lapangan yang berdebu dan kampung yang masih membicarakannya berhari-hari. Tapi Sekar, berdiri di teras menatap titik yang mengecil di langit, tidak merasakan keraguan sama sekali. Ia teringat dirinya bertahun lalu, memegang pena di atas kontrak lisensi dengan tangan gemetar, tak tahu garis mana yang tak boleh dilewati. Kini ia tahu. Ia tahu pasti, sejelas tujuh garis tujuh gunung, di mana garis itu, dan ia tak gemetar sedikit pun melewatinya tanpa menyentuhnya.