Mereka mulai mengerjakannya pada bulan ketiga setelah kemitraan dengan Rasaraya berjalan, ketika kampung sudah cukup tenang untuk bernapas, ketika tangan-tangan tidak lagi sepenuhnya tersita oleh bertahan hidup. Sekar yang mengusulkannya pada rapat koperasi, dan ia tidak perlu menjelaskan panjang. Ia hanya berkata, "Kita bikin satu kain tujuh gunung buat Mbah Sumirah. Bukan buat dijual. Buat ngenang." Dan seluruh ruangan diam dalam persetujuan yang lebih dalam dari kata-kata.
Kain itu dikerjakan berbeda dari semua kain yang pernah mereka buat. Bukan oleh satu tangan, bukan oleh tim yang ditugaskan, melainkan oleh semua yang mau—dan semua mau. Bu Ngatiyem mengikat simpul-simpul pertamanya, tangan tuanya yang sudah mengikat tujuh gunung selama tujuh puluh tahun, tangan yang dulu bekerja bersisian dengan tangan Mbah Sumirah di kolong yang sama. Bu Lastri mencelupnya, tujuh celup penuh, tarum yang paling dalam yang pernah ia buat, biru yang hampir hitam, biru yang abadi. Warni menenun bagian tengahnya, tangan muda yang baru saja dipercaya memegang tujuh gunung, menenun untuk perempuan tua yang tak pernah ia kenal tapi yang warisannya kini ia pegang.
Dan Sekar menenun bagian terakhirnya, garis penutup tujuh gunung, dengan tangan yang dulu nyaris lupa dan kini ingat, dengan mata yang tak kering sepanjang ia bekerja. Karena menenun kain untuk neneknya berarti menenun setiap kenangan ke dalam benang: tangan tua yang menuntun tangan kecilnya pada simpul pertama, suara pelan yang menyebut nama gunung satu per satu di telinganya, mata neneknya di amben yang sudah tak bisa bicara tapi masih bisa meraba kain janji yang baru lima dari tujuh gunung, jari-jari yang menutup mata dengan tenang di subuh yang dingin karena melihat tangan yang benar memegang benang yang benar.
Setiap orang yang menyentuh kain itu menambahkan sesuatu yang tak terlihat. Yanti, yang dulu ingin kembali ke pabrik setelah kegagalan besar, kini ikut menenun beberapa baris dengan tangan yang sudah mantap. Nimas, Bu Sri, bahkan Bujang—yang tak bisa menenun tapi memintal benang dengan canggung di bawah bimbingan Bu Lastri, supaya ia juga punya bagian. Anak-anak muda dari sekolah tenun datang dan menyentuh kain itu sekadar untuk merasa terhubung, untuk bisa berkata kelak bahwa tangan mereka pernah menyentuh kain kenang Mbah Sumirah.
Kain itu memuat tujuh gunung penuh, biru tujuh celup yang dalam, garis rapat yang tegas—pakem sempurna, tanpa satu kompromi pun, kain terbaik yang pernah lahir dari Watu Lawang. Dan ketika ia selesai, ketika tepukan terakhir bidangan mengunci benang pakan terakhir, kampung berkumpul di balai untuk melihatnya tergelar.
Sekar berdiri di depan kain itu, dan ia teringat kain janji—kain tujuh gunung yang Mbah Sumirah tenun di hari-hari terakhirnya, yang baru lima dari tujuh gunung jadi ketika beliau wafat, yang Sekar selesaikan dua gunung terakhirnya dengan tangannya sendiri dalam duka. Kain janji itu masih tergulung, belum pernah dipajang, menunggu sesuatu yang Sekar sendiri tak tahu apa.
Dan pagi itu, di hadapan seluruh kampung, ia mengerti. Ia berjalan ke ruang dalam balai dan membawa keluar kain janji—kain yang dimulai oleh tangan Mbah Sumirah dan diselesaikan oleh tangannya, lima gunung pertama oleh nenek, dua terakhir oleh cucu. Ia menggantungnya di dinding balai, di samping kain kenang yang baru saja selesai dikerjakan seluruh kampung lintas generasi. Dua kain tujuh gunung, bersisian. Satu dimulai oleh tangan tua dan diselesaikan tangan muda. Satu dikerjakan oleh semua tangan sekaligus, tua dan muda, hidup dan—lewat benang dan kenangan—yang sudah tiada.
"Kain ini," kata Sekar pada kampung yang berkumpul, suaranya tenang meski matanya basah, "nggak akan pernah dijual. Berapa pun yang nawar. Karena ini bukan barang. Ini Mbah Sumirah. Tiap simpul di kain ini ada tangan kita semua—tangan yang Mbah ajarin, atau tangan yang diajarin sama yang Mbah ajarin. Kain ini bukti motif itu nggak mati. Tujuh gunung masih hidup, masih ditenun, masih diwariskan—justru karena kita nggak nutup kayak yang Mbah takutin, tapi kita buka dengan cara yang jaga."
Ia memandang dua kain yang bersisian di dinding. "Mbah pergi sebelum lihat tujuh gunung naik panggung di Jakarta. Itu yang paling berat buat saya—beliau berjuang seumur hidup jaga motif ini, takut seumur hidup motif ini mati dianggap kuno, dan beliau pergi tepat sebelum dunia ngeliat motif ini dihormati. Tapi sekarang saya ngerti satu hal." Ia menyentuh tepi kain janji, benang yang ditenun setengah oleh tangan neneknya. "Mbah nggak perlu lihat panggung Jakarta buat tahu tujuh gunung nggak akan mati. Mbah udah tahu, di subuh terakhirnya, waktu beliau ngeraba kain ini dan ngerasain tangan saya megang benang yang benar. Itu yang beliau tunggu. Bukan panggung. Bukan tepuk tangan kota. Cuma satu hal: tangan yang benar, megang benang yang benar. Dan beliau ngerasain itu sebelum pergi."
Bu Ngatiyem, berdiri di samping Sekar, mengangguk pelan, air matanya mengalir tanpa ia usap. "Sumirah," katanya lirih, lebih pada kain itu daripada pada orang-orang, "kamu lihat ini? Kampung kita. Hidup. Anak-anak muda nenun lagi. Tujuh gunung dipegang banyak tangan. Kamu nggak ngejaga sia-sia, Mir. Tujuh puluh tahun kamu jaga, dan sekarang ada yang nerusin. Bukan satu. Banyak. Kamu boleh istirahat sekarang."
Kain kenang itu dipajang di balai, tempat sekolah tenun, tempat anak-anak muda datang tiap hari untuk belajar. Sengaja di sana, supaya tiap tangan baru yang belajar mengikat simpul pertama tujuh gunung bisa mengangkat wajah dan melihat dari mana motif itu datang, siapa yang menjaganya, berapa harga yang dibayar untuk membuatnya tetap hidup. Supaya tujuh gunung tak pernah menjadi sekadar pola garis yang indah, melainkan selalu juga menjadi nama: Sumirah, pemegang motif yang menjaga tujuh gunung tujuh puluh tahun, dan semua tangan yang datang sebelum dan sesudahnya, jalinan lungsin dan pakan yang tak putus.