Sekar bangun sebelum ayam berkokok, kebiasaan yang ditinggalkannya selama empat tahun di kota dan ia ambil kembali tanpa sadar sejak pulang. Ia duduk sebentar di bibir amben, di kamar yang dulu kamar Mbah Sumirah, mendengarkan kampung sebelum kampung tahu ia sedang didengarkan. Dan pagi ini, seperti pagi-pagi belakangan, telinganya menangkap sesuatu yang membuat dadanya hangat dengan cara yang tak bisa ia jelaskan pada siapa pun yang tak pernah mendengar kampung ini sekarat.
Derit.
Bukan satu derit. Bukan dua. Dari kolong rumah Bu Lastri di ujung gang, dari rumah panggung Yanti yang dulu kosong bertahun-tahun karena ia di pabrik, dari arah balai tempat sekolah tenun, dari rumah-rumah yang namanya bahkan baru Sekar hafal setahun ini—derit ATBM mengalun bersahutan. Derit kayu yang ditarik, gedebuk pemukul pakan yang dirapatkan ke tepi kain, desis benang lungsin yang ditegangkan. Suara-suara itu tidak seragam. Yang satu cepat dan mantap—itu pasti Warni, tangannya sudah punya tempo sendiri. Yang satu lambat dan hati-hati, sering berhenti—itu salah satu murid baru, mungkin anak Painem yang dititipkan dari Ngrancah. Yang satu berat dan teratur, tak pernah meleset—itu Bu Ngatiyem, yang menenun seperti menarik napas.
Sekar ingat pagi pertamanya pulang, lebih dari setahun lalu. Ia ingat berjalan menyusuri gang yang sama dan menghitung derit yang terdengar: tiga. Hanya tiga, dari seluruh kampung. Tiga perempuan tua yang menenun karena tak tahu cara berhenti, di antara puluhan rumah yang kolongnya bisu, ATBM-nya berdebu, benang lungsinnya sudah putus dan tak ada yang menegangkan ulang. Ia ingat berdiri di gang itu dan merasakan sesuatu yang lebih menakutkan dari utang Koh Bandi atau map biru Bagas: ia merasakan keheningan sebuah kampung yang sedang mati pelan-pelan, dan tak ada yang berteriak karena kematian yang pelan tak pernah berteriak.
Ia bangkit, menyampirkan selendang, dan turun ke gang. Embun masih menggantung di rumput. Bau khas itu menyambutnya—bau tarum yang difermentasi, bau akar mengkudu yang ditumbuk, bau asap dapur yang mulai dinyalakan, bau benang basah yang dijemur. Ia berjalan pelan, sengaja pelan, supaya bisa menghitung lagi seperti dulu.
Satu. Dua. Tiga—itu yang lama, Bu Ngatiyem dan dua temannya. Empat, lima, dari rumah Yanti dan tetangganya. Enam dari balai, derit yang paling ramai karena di sana ada beberapa ATBM berjajar untuk murid. Tujuh, delapan. Ia berhenti menghitung di rumah Nimas, karena ia sudah kehilangan jejak mana derit baru dan mana yang lama; mereka bertumpuk jadi satu paduan yang tak bisa dipisah lagi. Kampung ini tidak lagi punya tiga derit. Kampung ini berderit dari ujung ke ujung, seperti hutan yang penuh serangga di malam basah, suara yang begitu rapat sampai berhenti terdengar sebagai suara-suara terpisah dan mulai terdengar sebagai satu hal: hidup.
Di depan rumah Bu Lastri, perempuan tua itu sedang menjemur untaian benang yang baru dicelup, biru tarum yang dalam, di atas bambu. Tangannya membiru sampai pergelangan, warna yang tak pernah hilang sepenuhnya pada penenun celup, warna yang dulu Bu Lastri sembunyikan kalau ke pasar karena malu disebut tangan kotor, dan yang kini ia biarkan terlihat karena Sekar mengajarinya bahwa tangan biru itu justru yang dicari pembeli kota dalam foto.
"Pagi, Mbak Sekar," sapa Bu Lastri tanpa menoleh, masih merentangkan benang. "Dengerin, ya?"
Sekar tertawa kecil, ketahuan. "Dengerin apa, Bu?"
"Deritnya." Bu Lastri menepuk benang basah supaya tetesannya jatuh merata. "Saya juga tiap pagi gitu. Berdiri di sini, dengerin. Dulu sepi banget, Mbak. Saya inget pagi-pagi cuma kedengeran ATBM saya sama Bu Ngatiyem. Dua-dua tua. Saya sering mikir, kalau saya mati duluan, tinggal satu. Kalau Bu Ngatiyem mati duluan, tinggal saya. Terus tinggal nol." Ia menegakkan punggung, menatap sepanjang gang yang penuh derit. "Sekarang kalau saya mati, deritnya nggak berhenti. Itu yang bikin saya tenang, Mbak. Bukan duit. Duit mah datang pergi. Tapi pagi-pagi kayak gini, dengerin deritnya banyak, saya jadi nggak takut mati."
Sekar diam. Ia tahu ia tidak boleh menjawab kalimat seperti itu dengan kata-kata pintar yang ia bawa dari kota. Maka ia hanya berdiri di samping Bu Lastri, dan ikut mendengarkan, membiarkan derit itu mengisi keheningan yang lebih jujur daripada kalimat apa pun.
Mereka berdua berdiri lama di sana, dua perempuan dengan selisih usia hampir empat puluh tahun, di depan benang biru yang menetes, mendengarkan kampung mereka bekerja. Di kepala Sekar berputar perbandingan yang tak bisa ia tahan: di kota, suara produktivitas adalah dengung mesin, monoton, sama, tak peduli siapa yang menekan tombolnya—suara yang ia kenal dari pabrik tempat Warni dan Yanti dulu jadi nomor. Di sini, suara produktivitas adalah derit, dan tiap derit punya tangan di baliknya, tiap derit sedikit berbeda dari derit di sebelahnya, karena tiap tangan punya cara sendiri menarik kayu. Mesin bersuara satu karena tak ada manusia di dalamnya. Kampung ini bersuara banyak justru karena penuh manusia.
Matahari mulai naik, menyingkap kabut tipis di lereng. Asap dapur menebal. Seorang anak kecil—cucu Nimas—berlari di gang sambil membawa kendi air untuk neneknya yang menenun, dan derit di rumah Nimas berhenti sebentar, lalu mulai lagi. Sekar memperhatikan itu: ada jeda, lalu derit kembali. Dulu, jeda berarti berhenti selamanya. Sekarang jeda hanya berarti seseorang minum, lalu menenun lagi.
"Saya pamit dulu, Bu," kata Sekar akhirnya. "Mau ke balai."
"Ya, Mbak. Bawa derit kamu sendiri, jangan cuma dengerin punya orang," goda Bu Lastri, dan Sekar tahu maksudnya: subuh-subuh ia masih harus mengikat tujuh gunung, latihannya belum boleh putus.
Sekar berjalan ke balai dengan suara kampung mengiringi langkahnya, dan ia menyadari sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak di tengah gang. Selama ini ia mengira kemenangan kampung akan terasa seperti angka—utang lunas, gaji naik, pesanan masuk. Dan angka-angka itu memang ada, ia mensyukurinya. Tapi kemenangan yang sebenarnya, yang membuat dadanya penuh pagi ini, tidak bisa ditulis di buku butiknya. Kemenangan itu adalah suara. Sebuah kampung yang dulu hampir hening, kini terlalu ramai untuk dihitung deritnya satu per satu. Ia teringat kalimat pertama Mbah Sumirah yang masih bisa bicara dulu, lirih dari amben: jaga motifnya. Sekar dulu mengira itu berarti menjaga pola garis. Sekarang ia paham, menjaga motif berarti menjaga ada cukup banyak tangan yang menenunnya, supaya bunyinya tak pernah putus. Dan pagi ini, untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ia yakin bunyi itu tak akan putus.