Surat itu datang lewat pos kecamatan, dalam amplop cokelat berkop dinas yang resmi sampai ke seratnya yang kaku. Bujang yang membawanya ke balai, setengah berlari, menyodorkannya pada Sekar tanpa banyak kata karena napasnya habis. "Dari dinas, Mbak. Yang kita tunggu-tunggu, kayaknya."
Sekar menerima amplop itu dengan tangan yang tiba-tiba terasa asing. Ia sudah menunggu surat ini hampir dua tahun—sejak hari ia menyadari, dengan ngeri yang dingin, bahwa Rasaraya diam-diam mendaftarkan merek dagang yang memuat unsur visual menyerupai tujuh gunung. Ia masih ingat malam itu, ketika ia paham bahwa kampung bisa kehilangan motifnya bukan lewat pencurian, tapi lewat kalah cepat di meja birokrasi; bahwa pengetahuan yang sengaja tak ditulis selama tujuh generasi justru menjadi kelemahan di dunia yang hanya mengakui yang tertulis. Ia ingat perdebatan pahit dengan Bu Ngatiyem, yang menentang keras menuliskan nama dan makna tujuh gunung—menulis sama dengan membuka pagar, kata Bu Ngatiyem. Dan ia ingat betapa sulitnya meyakinkan perempuan tua itu bahwa kali ini menulis adalah perisai, bukan pintu yang terbuka.
Ia membuka amplop itu pelan. Beberapa penenun yang sedang bekerja menghentikan ATBM mereka, derit yang biasanya tak pernah berhenti kini diam karena semua tahu surat apa ini.
Matanya menyusuri kalimat birokrasi yang kaku, kalimat yang ia sudah belajar membaca selama dua tahun ini—bahasa yang sama asingnya bagi orang kampung seperti bahasa harga-tren dunia mode dulu asing bagi telinga penenun tua. Ia melewati nomor register, pasal, dan tanggal, mencari satu kata yang ia cari. Dan ia menemukannya, di paragraf ketiga, dicetak tanpa basa-basi: ditetapkan. Indikasi geografis untuk Tenun Ikat Gedog Watu Lawang, dengan motif lungsin tujuh gunung sebagai unsur khasnya, ditetapkan dan dilindungi. Hak komunal, bukan milik perorangan, bukan milik perusahaan. Milik kampung, secara hukum, selamanya.
Sekar membaca paragraf itu tiga kali. Lalu ia mengangkat wajahnya, dan suaranya nyaris tak keluar. "Disahkan," katanya. "Bu Ngatiyem, disahkan."
Bu Ngatiyem, yang duduk di ATBM-nya di sudut, tidak langsung bereaksi. Tangannya masih memegang pemukul pakan, berhenti di udara. Lalu ia meletakkannya pelan, dan untuk waktu yang lama ia hanya menatap ke arah surat di tangan Sekar tanpa benar-benar melihatnya. Sekar tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala perempuan tua itu—pertarungan panjang antara orang yang seumur hidup percaya bahwa pengetahuan harus dijaga di kepala, dari mulut ke mulut, dan kenyataan bahwa justru karena menuliskannya kini pengetahuan itu aman.
"Jadi sekarang," kata Bu Ngatiyem akhirnya, suaranya hati-hati, "tujuh gunung nggak bisa diaku-aku perusahaan?"
"Nggak bisa, Bu. Rasaraya, pabrik mana pun, siapa pun—nggak ada yang bisa daftarin tujuh gunung jadi merek mereka. Nggak ada yang bisa larang kampung kita nenun motif kita sendiri. Yang punya kampung. Itu udah dicap negara."
Bu Ngatiyem mengangguk pelan, tapi keningnya masih berkerut. "Dulu aku marah sama kamu," katanya, dan ruangan diam mendengarkan, karena Bu Ngatiyem jarang mengakui kesalahan. "Waktu kamu suruh kita tulis nama-nama gunungnya, cara ngikatnya, di kertas. Aku pikir kamu nggak ngerti. Aku pikir kamu udah ketularan kota, mau ngubah yang dari dulu nggak ditulis. Emak aku nggak nulis. Nenek aku nggak nulis. Sumirah nggak nulis. Kita jaga di sini." Ia menunjuk pelipisnya. "Di kepala, di tangan. Bukan di kertas. Karena kertas bisa dibaca orang lain, bisa dicuri, bisa dijiplak."
Ia berhenti, dan tangannya yang keriput menelusuri tepi kainnya sendiri yang setengah jadi di ATBM. "Tapi sekarang aku ngerti. Yang nyuri tujuh gunung itu bukan orang yang baca kertas kita. Yang nyuri itu orang yang nulis kertas mereka sendiri duluan, terus bilang itu punya mereka. Pabrik nggak perlu nyontek dari kepala kita. Mereka bikin kertas, daftar ke negara, terus negara percaya kertas. Kita nggak punya kertas, kita kalah, biar pun kita yang nenun dari jaman buyut." Matanya basah, tapi suaranya tetap. "Jadi kamu bener, Sekar. Kita harus nulis. Bukan biar dibuka. Tapi biar nggak ada yang bisa ngaku-ngaku duluan. Kertas dilawan kertas."
Sekar menyeberangi ruangan dan duduk di samping ATBM Bu Ngatiyem, di lantai papan, seperti murid di samping guru. "Yang kita tulis cuma yang perlu buat bukti, Bu," katanya pelan. "Nama tujuh gunungnya, sejarahnya, cara ikat dasarnya. Tapi yang bener-bener bikin tujuh gunung itu hidup—tempo tangan, kapan harus rapatin pakan, gimana ngerasain benang yang udah cukup tegang—itu nggak bisa ditulis. Itu tetap cuma bisa diwarisin dari tangan ke tangan. Kertas ngejaga pintu. Tangan tetap yang ngejaga jiwa."
Bu Ngatiyem menatapnya lama, lalu mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak Sekar pulang, ia tersenyum pada cucu Sumirah itu dengan senyum yang penuh, tanpa sisa curiga. "Sumirah pasti seneng," katanya. "Dia paling takut tujuh gunung ilang waktu dia mati. Sekarang nggak akan ilang. Ada di kepala kalian yang muda, ada di tangan Warni, ada di kertas negara. Tiga pagar."
Sekar memandang surat di tangannya, lembar kertas yang begitu tipis untuk sesuatu yang begitu berat. Ia teringat hari-hari ia berkeliling kampung tenun lain, mengumpulkan kesaksian penenun lansia, menelusuri kantor dinas yang lambat dan acuh, mengisi formulir yang bahasanya berputar-putar, hampir menyerah berkali-kali karena birokrasi terasa seperti tembok yang sengaja dibuat agar orang kampung lelah lebih dulu. Dan kini, di kertas tipis ini, semua itu berbuah. Pagar leluhur yang dulu hanya berupa larangan lisan—jangan ubah, jangan jual, jangan beri ke orang luar—kini berdiri kembali dalam bentuk yang bisa dibaca seluruh negeri.
"Bujang," kata Sekar, bangkit, "foto suratnya, simpan baik-baik. Aslinya kita bingkai, taruh di balai, sebelah kain kenang Mbah Sumirah." Ia berhenti. "Biar anak-anak yang belajar di sini tahu, motif yang mereka ikat ini bukan cuma punya kampung. Sekarang udah dijaga negara juga. Mereka nenun sesuatu yang nggak bisa dirampas lagi."
Derit ATBM kembali mulai, satu per satu, mengisi balai. Bu Ngatiyem mengambil pemukul pakannya lagi dan menenun, dan deritnya kali ini terdengar berbeda di telinga Sekar—lebih ringan, seolah selama bertahun-tahun perempuan tua itu menenun sambil menahan napas, menunggu pagar runtuh, dan kini akhirnya bisa menenun tanpa takut.