Pesanan dari Bu Hartati datang seperti biasanya: lewat pesan singkat di telepon, sopan, tanpa tawar-menawar. Satu kain tujuh gunung, edisi penuh, untuk koleksi pribadinya. Ia hanya bertanya satu hal—siapa penenunnya kali ini, dan boleh tidak ia tahu sedikit ceritanya. Sekar membaca pesan itu sambil tersenyum, karena ia ingat betul siapa Bu Hartati dua tahun lalu, dan betapa jauh perjalanan keduanya untuk sampai ke pesan sesederhana ini.
Dua tahun lalu, Bu Hartati adalah salah satu pemilik butik kelas atas di kota besar yang menolak kain Sekar mentah-mentah. Sekar masih ingat duduk di ruang tunggu butiknya yang dingin oleh pendingin udara, menggelar kain tujuh gunung di atas meja kaca, dan melihat Bu Hartati memegangnya selama tiga detik sebelum mengembalikannya. "Motifnya kuno, Mbak," katanya waktu itu, tidak kasar tapi acuh. "Warnanya gelap. Pasar saya mau yang cerah, yang ringan, yang sekarang. Ini terlalu... berat. Terlalu kampung." Lalu ia menyebut harga yang ia bersedia bayar, harga yang bahkan tak menutup ongkos benang dan dua minggu kerja tangan, dan Sekar pulang dengan kain itu terlipat di tasnya seperti membawa sesuatu yang ditolak masuk ke rumah orang.
Kini Bu Hartati membeli dua-tiga kain dalam setahun, selalu dengan harga penuh, selalu bertanya nama penenunnya, dan—ini yang paling membuat Sekar takjub—ia kini menjual kain itu di butiknya bukan sebagai barang etnik di rak belakang, melainkan sebagai karya bernama yang dipajang dengan kartu cerita di sampingnya. Sekar pernah berkunjung dan melihat sendiri: kain tujuh gunung tergantung di dinding utama butik, di bawah lampu sorot, dengan kartu kecil bertuliskan nama penenun, nomor edisi, dan sepotong kisah—berapa hari dikerjakan, dari akar apa warnanya, apa makna tujuh garisnya. Bu Hartati menjualnya lebih mahal dari kain bermerek internasional di rak sebelahnya, dan terjual.
Sekar membalas pesan itu, lalu memutuskan mengantar kainnya sendiri minggu itu, karena ia ingin bertanya sesuatu yang sudah lama mengganggunya.
Di butik yang sama, di ruang yang sama yang dulu menolaknya, Bu Hartati menerimanya dengan hangat dan menyuguhkan teh. Sekar menggelar kain pesanan—tujuh gunung yang diikat Warni, dengan tujuh celup penuh, biru tarum yang dalam dengan garis-garis cokelat mengkudu. Bu Hartati memegangnya kali ini bukan tiga detik, melainkan lama, membaliknya, meraba tepinya, menelusuri tiap garis dengan ujung jari.
"Tepinya hidup," gumamnya, lebih ke diri sendiri. "Lihat ini, Mbak Sekar. Garisnya nggak lurus sempurna. Ada yang sedikit lebih tebal, ada yang sedikit miring. Mesin nggak bisa bikin ini. Mesin bikin sempurna, dan sempurna itu mati."
Sekar memberanikan diri bertanya. "Bu Hartati, boleh saya tanya sesuatu yang... agak nggak sopan?"
Bu Hartati tersenyum. "Silakan."
"Dua tahun lalu, Ibu nolak kain ini. Bilang kuno, gelap, terlalu kampung. Sekarang Ibu beli mahal, pajang di dinding utama. Kainnya sama, Bu. Motifnya sama, warnanya sama, saya nggak ubah apa-apa. Yang berubah... apa? Saya cuma mau ngerti."
Bu Hartati meletakkan cangkir tehnya dan diam sejenak, dan Sekar menghargai bahwa ia tidak buru-buru memberi jawaban manis.
"Yang berubah saya, Mbak," katanya akhirnya. "Dan pembeli saya. Bukan kainnya." Ia menyandar di kursinya. "Dua tahun lalu, saya jualan barang. Pembeli saya beli barang. Yang penting cantik, baru, cocok sama tren musim ini. Kain Ibu waktu itu... nggak cocok sama logika itu. Bukan barang yang gampang. Berat, lambat, mahal kalau dihitung per meter, motifnya nggak ngikut tren." Ia menatap kain di mejanya. "Tapi pasar berubah, Mbak. Pembeli saya yang kaya, yang udah punya semua barang—mereka bosen sama barang. Mereka udah punya tas bermerek sepuluh, baju desainer lemari penuh, semuanya bisa dibeli siapa aja yang punya uang. Yang nggak bisa mereka beli sembarangan sekarang justru ini: sesuatu yang dikerjakan tangan satu orang, yang nggak ada duanya, yang ada ceritanya, yang nggak bisa dipesan ulang persis sama. Kelangkaan, Mbak. Cerita. Tangan manusia. Itu yang sekarang mahal, karena itu yang langka di dunia yang semuanya mesin."
Sekar merasakan sesuatu mengendap di dadanya, sesuatu yang sudah lama ia yakini tapi baru kini ia dengar dikonfirmasi dari mulut orang yang dulu menolaknya. "Jadi kainnya nggak pernah kuno," katanya pelan.
"Kainnya nggak pernah kuno," Bu Hartati mengangguk. "Saya yang salah baca. Saya kira yang lambat dan berbeda-beda itu kelemahan yang harus disembunyikan. Padahal itu justru kekuatannya. Saya minta maaf, Mbak, untuk yang dulu. Saya benar-benar nggak lihat apa yang ada di tangan saya."
Di perjalanan pulang, di dalam bus yang membawanya kembali ke lereng, Sekar membuka buku butiknya yang lama—buku yang sama yang ia pakai menghitung dua skenario di depan koperasi, yang sama yang ia coreti dengan rencana usaha pertamanya yang rapuh dua tahun lalu. Ia membalik ke halaman-halaman awal, ke catatan penolakan demi penolakan: pasar tekstil menolak, butik menolak, Bu Hartati menolak, pameran kerajinan menyamakannya dengan suvenir. Ia ingat betapa setiap penolakan itu terasa seperti vonis bahwa kain kampung memang tak punya tempat di dunia.
Dan ia ingat momen di mana ia akhirnya paham—bahwa kain kampung gagal bukan karena tak ada yang mau membayar mahal, melainkan karena ia dijual sebagai komoditas, bukan sebagai karya bernama. Hitungannya, ia menyadari sekarang dengan jernih, tak pernah salah. Yang salah dulu bukan kainnya, bukan motifnya, bukan tangan para penenun tua. Yang salah hanya satu: pembelinya belum siap melihat. Dan ia, Sekar, tidak mengubah kain itu sedikit pun untuk membuat mereka siap. Ia hanya bertahan cukup lama sampai pasar berputar dan menemukan, di kampung yang nyaris mati, justru hal yang paling dicarinya: tangan manusia, kelangkaan, cerita yang tak bisa dicetak.
Ia menutup buku itu dan memandang ke luar jendela bus, ke lereng-lereng yang mulai terlihat, dan ia berpikir tentang semua malam ketika ia hampir percaya bahwa menyelamatkan kampung berarti mengubahnya. Ternyata sebaliknya. Menyelamatkan kampung justru berarti menjaganya tetap dirinya, cukup lama, sampai dunia berhenti salah membacanya.