"Kadang yang paling mengganggu bukanlah apa yang kita lihat, melainkan keyakinan bahwa kita memang benar-benar melihatnya."
Aku tidak langsung tidur malam itu.
Setelah masuk ke kamar, aku sempat berdiri beberapa saat di depan pintu sambil menatap ke arah tangga yang kini telah gelap. Rumah kembali sunyi seperti biasanya.
Aku menggeleng pelan.
“Ngaco.”
Rasanya lucu juga memikirkan bayangan sendiri terlambat bergerak. Mungkin mataku hanya lelah menatap layar laptop terlalu lama.
Atau mungkin efek kopi yang kuminum malam ini lebih banyak dari biasanya.
Aku memutuskan mengabaikannya.
Sebelum naik ke kasur, seperti kebiasaan yang sudah kulakukan bertahun-tahun, aku membuka laci meja belajar dan mengambil bingkai foto kecil.
Di dalamnya ada gambar ayah dan ibu ketika menghadiri wisuda kakakku.
Tidak.
Aku buru-buru mengerutkan dahi.
Wisuda kakakku?
Aku tidak punya kakak.
Aku menatap foto itu lebih lama.
Yang kulihat hanya ayah dan ibu berdiri berdua sambil tersenyum di depan gedung kampus.
Tidak ada orang lain.
“Kenapa tadi kepikiran begitu?”
Aku mengembalikan bingkai tersebut ke tempat semula dan memilih mematikan lampu.
Namun sebelum benar-benar memejamkan mata, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Kalau memang cuma ilusi… kenapa terasa begitu nyata?
Pagi harinya aku terbangun lebih cepat dari biasanya.
Jam di ponsel baru menunjukkan pukul lima lewat empat puluh tiga menit.
Langit di luar masih kebiruan.
Entah kenapa aku merasa sudah mendengar suara seseorang berjalan di lantai bawah.
Bukan suara langkah yang keras.
Pelan.
Teratur.
Seperti seseorang yang sedang mondar-mandir tanpa tujuan.
Aku duduk di tepi ranjang sambil menahan napas.
Suara itu berhenti.
Lalu menghilang.
Aku menunggu hampir satu menit.
Tidak terdengar lagi apa pun selain kipas angin.
“Perasaan doang.”
Aku turun ke bawah sambil membawa handuk.
Seluruh pintu masih terkunci.
Jendela juga masih tertutup rapat.
Tidak ada tanda-tanda seseorang pernah masuk ke rumah.
Saat melewati ruang tamu, pandanganku kembali jatuh ke cermin besar peninggalan ibu.
Hari sudah terang.
Pantulanku terlihat biasa saja.
Aku bahkan sengaja melambaikan tangan ke arah cermin.
Pantulan itu membalas tepat waktu.
Tidak ada keterlambatan.
Tidak ada senyuman aneh.
Aku mengembuskan napas lega.
“Lihat kan? Memang cuma kecapekan.”
Entah kenapa aku merasa sedang meyakinkan diriku sendiri.
Hari itu jadwal kuliah hanya sampai siang.
Dimas sudah mengeluh sejak dosen pertama masuk.
“Kalau hidup ini punya tombol skip, aku pencet dari tadi.”
Aku yang duduk di sebelahnya hanya terkekeh.
“Skip sampai lulus?”
“Skip sampai kaya.”
Sinta yang mendengar percakapan kami menutup bukunya pelan.
“Kalau gitu nanti jangan lupa transfer aku lima juta.”
Dimas langsung mengangguk mantap.
“Boleh. Tapi rupiah Zimbabwe.”
“Dasar.”
Kami bertiga tertawa kecil hingga dosen menatap tajam dari depan kelas.
Suasana kembali tenang.
Selama perkuliahan berlangsung, pikiranku perlahan kembali normal.
Aku bahkan mulai merasa kejadian semalam memang hanya akibat kurang tidur.
Sampai jam istirahat tiba.
Aku pergi ke toilet sendirian.
Saat sedang mencuci tangan, tanpa sengaja aku melihat bayanganku di cermin wastafel.
Wajahku tampak pucat.
Mungkin karena lampunya terlalu putih.
Aku hendak pergi.
Namun seseorang masuk dari pintu belakang.
Refleks aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Koridor kosong.
Aku kembali melihat cermin.
Kini hanya ada diriku sendiri.
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
“Halusinasi lagi?”
Seorang mahasiswa lain masuk beberapa detik kemudian.
“Kosong, Bang?”
Aku mengangguk sambil buru-buru keluar.
Sepulang kuliah, Dimas memaksa ikut ke rumah.
“Sekalian numpang Wi-Fi.”
“Numpang tugas atau numpang download film?”
“Dua-duanya.”
Aku sempat ragu.
Tidak ada alasan khusus.
Hanya saja, untuk pertama kalinya sejak tinggal sendirian, ada rasa aneh yang membuatku enggan membawa orang lain masuk.
Namun akhirnya aku mengiyakan.
Motor kami berhenti di depan pagar sekitar pukul tiga sore.
Dimas memandang rumahku beberapa saat.
“Rumah lu gede juga.”
“Biasa aja.”
“Kalau dijual mahal nih.”
“Makasih. Belum ada niat.”
Ia tertawa sambil melangkah masuk.
Begitu berada di ruang tamu, matanya langsung tertuju pada cermin besar.
“Wih.”
“Kenapa?”
“Ukirannya keren.”
“Itu peninggalan ibu.”
Dimas mendekat lalu memperhatikan bingkainya.
“Kayaknya tua banget.”
“Mungkin.”
Tanpa kusadari, ia menyentuh permukaan kaca menggunakan ujung jarinya.
Lalu wajahnya berubah.
“Ga.”
“Hm?”
“Barusan ada orang lewat ya di belakang?”
Aku spontan menoleh.
Lorong menuju dapur kosong.
“Nggak ada.”
“Serius?”
“Iya.”
Dimas masih memandangi cermin beberapa detik sebelum mengangkat bahu.
“Mungkin salah lihat.”
Aku tidak menjawab.
Karena tepat sepersekian detik sebelum ia berbicara…
aku juga merasa melihat sesuatu.
Seseorang berbaju putih melintas cepat di belakang pantulan kami.
Padahal lorong rumah sedang kosong.
Sore itu kami mengerjakan tugas hingga menjelang magrib.
Setelah Dimas pulang, rumah kembali sunyi.
Aku menutup pagar lalu masuk ke dalam.
Seperti biasa.
“Selamat pulang.”
Kalimat itu kembali keluar tanpa kusadari.
Aku melepas sepatu.
Baru dua langkah masuk, ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang tidak tersimpan.
Aku mengernyit.
Isinya hanya satu kalimat.
Jangan biarkan orang lain terlalu lama berada di depan cermin itu.
Aku langsung mengetik balasan.
Siapa ini?
Pesan terkirim.
Centang satu.
Beberapa detik kemudian berubah menjadi centang dua.
Lalu...
nomor tersebut menghilang dari layar percakapan.
Bukan diblokir.
Bukan juga dihapus.
Benar-benar lenyap.
Seolah tidak pernah mengirim pesan apa pun.
Dengan jantung yang mulai berdetak lebih cepat, aku membuka daftar kontak.
Mencari nomor tadi.
Tidak ada.
Riwayat panggilan juga kosong.
Tanganku mulai dingin.
Aku yakin seratus persen baru saja menerima pesan.
Kalau begitu...
siapa yang mengirimnya?
Dan bagaimana mungkin pesan itu bisa menghilang begitu saja?
Belum sempat aku menemukan jawabannya, terdengar bunyi pelan dari ruang tamu.
Tok.
Hanya sekali.
Seperti ada kuku yang mengetuk permukaan kaca.
Aku berdiri mematung.
Suara itu terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Perlahan aku berjalan menuju ruang tamu.
Langkahku terasa berat.
Semakin dekat, suara ketukan itu semakin jelas.
Namun ketika sampai di depan cermin…
tidak ada siapa-siapa.
Yang ada hanya pantulanku sendiri.
Diam.
Tidak bergerak.
Lalu, tepat saat aku mengedipkan mata…
pantulan itu mengangkat tangan kanannya.
Sementara tanganku tetap berada di samping tubuh.
Aku membeku.
Pantulan itu perlahan menempelkan telunjuknya ke bibir.
Memberi isyarat agar aku…
diam.
Dan dari lantai dua,
terdengar suara pintu kamarku terbuka sendiri.