"Rasa takut yang sesungguhnya lahir ketika kau yakin sedang sendirian, tetapi rumahmu tidak pernah merasa demikian."
Aku tidak langsung bergerak.
Tubuhku seolah kehilangan seluruh tenaganya.
Pantulan di dalam cermin masih berdiri di depanku dengan telunjuk menempel di bibir, meminta diam. Wajahnya sama persis denganku. Bahkan kerutan kecil di ujung mata akibat kurang tidur pun terlihat sama.
Bedanya hanya satu.
Ia tidak pernah berkedip.
Aku memaksakan diri memejamkan mata selama beberapa detik.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ketika kubuka kembali, pantulan itu sudah kembali normal.
Tangannya berada di samping tubuh.
Ekspresinya datar.
Persis seperti gerakanku.
Namun suara dari lantai atas masih terdengar.
Kreeek...
Bunyi pintu kayu yang dibuka perlahan.
Rumah ini terlalu sunyi sehingga suara sekecil apa pun terdengar sangat jelas.
Aku menelan ludah.
“Angin.”
Padahal semua jendela tertutup.
Tanganku meraih gagang sapu yang berada di dekat dapur. Bukan karena yakin benda itu bisa melindungiku, melainkan karena memegang sesuatu membuatku sedikit lebih tenang.
Pelan-pelan aku menaiki tangga.
Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi berderit.
Jantungku berdetak lebih keras dibanding langkah kakiku sendiri.
Sesampainya di lantai dua, lorong tampak kosong.
Pintu kamarku memang terbuka.
Lebarnya sekitar dua puluh sentimeter.
Aku yakin sebelum turun tadi pintu itu kututup rapat.
“Siapa?”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Aku mendorong pintu perlahan.
Ruangan di dalam terlihat seperti biasa.
Kasur masih rapi.
Laptop masih berada di meja belajar.
Kursi tidak berpindah.
Aku memeriksa kolong tempat tidur, kamar mandi, hingga balkon kecil di belakang kamar.
Tidak ada siapa-siapa.
Sambil menghela napas panjang, aku memutar badan hendak keluar.
Saat itulah mataku menangkap sesuatu.
Di atas meja belajar, tepat di samping laptop, terdapat secangkir kopi.
Masih mengepulkan uap tipis.
Aku membeku.
Aku memang suka minum kopi.
Tetapi sore tadi aku tidak membuatnya.
Dan yang lebih mengganggu, cangkir itu adalah cangkir favorit ayah.
Sejak beliau meninggal, aku menyimpannya di lemari dapur dan hampir tidak pernah menggunakannya lagi.
Dengan langkah pelan aku mendekat.
Kusentuh gagangnya.
Masih hangat.
Seolah baru saja dituang beberapa menit yang lalu.
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.
Aku memilih memindahkan kasur lipat ke ruang keluarga dan sengaja menyalakan televisi sebagai teman.
Apa pun lebih baik daripada berada sendirian di kamar.
Acara larut malam berganti menjadi film lama yang bahkan tidak kutonton.
Mataku lebih sering mengarah ke cermin besar di sisi ruangan.
Sekitar pukul satu dini hari, rasa kantuk mulai datang.
Aku mematikan televisi.
Ruangan kembali gelap, hanya diterangi lampu teras yang masuk melalui jendela.
Sebelum benar-benar terlelap, aku sempat melirik cermin sekali lagi.
Pantulanku sedang berbaring.
Normal.
Aku memejamkan mata.
Entah berapa lama berlalu.
Aku terbangun karena mendengar suara pelan.
“Ga...”
Aku membuka mata perlahan.
Gelap.
“Ga...”
Suara itu terdengar lagi.
Perempuan.
Lembut.
Sangat familiar.
Dadaku langsung terasa sesak.
Itu suara ibu.
Aku buru-buru duduk.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri dan menyalakan lampu ruang tamu.
Kosong.
Hanya ada sofa, meja kecil, dan cermin besar yang memantulkan wajahku yang pucat.
Aku mengusap tengkuk.
Mungkin hanya mimpi.
Namun ketika hendak kembali berbaring, suara itu muncul lagi.
“Arga...”
Kali ini berasal dari lantai atas.
Refleks aku mendongak.
Lorong menuju kamar gelap gulita.
Pintu kamarku terbuka sedikit.
Persis seperti tadi sore.
Seluruh tubuhku merinding.
Kalau memang itu suara ibu...
mengapa terdengar dari kamarku?
Aku menggeleng keras.
Tidak.
Ibuku sudah meninggal.
Aku sendiri yang mengantarkan petinya ke pemakaman.
Aku melihat semuanya.
Suara itu tidak mungkin miliknya.
Keesokan paginya aku datang ke kampus dengan mata sembap.
Dimas langsung menyadarinya.
“Bro.”
“Hm?”
“Lu begadang lagi?”
Aku hanya mengangguk.
“Revisi?”
“Iya.”
Aku memilih berbohong.
Kalau kuceritakan semalam mendengar suara ibu memanggil dari lantai atas, kemungkinan besar dia akan menyuruhku pergi ke psikolog.
Saat jam istirahat, Sinta duduk di sampingku di kantin.
Ia meletakkan sebungkus roti di atas meja.
“Makan.”
“Aku belum lapar.”
“Justru karena belum lapar harus makan.”
Aku tersenyum tipis.
“Logika macam apa itu?”
“Logika orang yang lihat kamu makin kurus.”
Aku akhirnya mengambil roti tersebut.
“Terima kasih.”
Sinta memperhatikanku beberapa saat.
“Kamu lagi ada masalah?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku terdiam.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
“Kalau suatu hari kamu butuh cerita, aku dengerin.”
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadaku terasa hangat.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang mengkhawatirkanku seperti itu.
Sore harinya, dalam perjalanan pulang, aku sengaja mampir ke minimarket.
Aku membeli camilan, kopi instan, dan... sebuah kamera kecil.
Bukan CCTV mahal.
Hanya kamera rumahan yang bisa merekam selama beberapa jam.
Sesampainya di rumah, aku langsung memasangnya menghadap ruang tamu.
Tepat mengarah ke cermin.
“Kalau memang ada yang aneh... paling nggak aku punya bukti.”
Aku menekan tombol rekam.
Lampu indikator merah menyala.
Malam mulai turun.
Aku sengaja menghabiskan waktu di kamar sambil mengerjakan tugas.
Sesekali aku melihat layar ponsel yang terhubung ke kamera.
Tidak ada apa-apa.
Pukul sembilan malam.
Kosong.
Pukul sepuluh.
Masih sama.
Aku mulai merasa tindakanku berlebihan.
Mungkin benar kata orang-orang.
Kesepian bisa membuat seseorang melihat hal yang tidak ada.
Sekitar pukul sebelas lewat lima belas menit, rasa kantuk datang.
Aku mematikan laptop dan memutuskan tidur.
Sebelum naik ke kasur, aku sempat membuka aplikasi kamera sekali lagi.
Masih memperlihatkan ruang tamu yang kosong.
Aku tersenyum kecil.
“Lihat? Nggak ada apa-apa.”
Layar ponsel hendak kumatikan.
Namun tiba-tiba gambar di dalamnya berkedip.
Hanya sepersekian detik.
Ketika kembali normal, jantungku hampir berhenti berdetak.
Di sofa ruang tamu...
ada seseorang yang sedang duduk membelakang kamera.
Memakai kaus hitam.
Celana training abu-abu.
Pakaian yang sedang kupakai saat ini.
Tanganku bergetar.
Pelan-pelan aku mengangkat kepala.
Melihat ke arah pintu kamar.
Kalau rekaman itu benar...
berarti ada seseorang yang sedang duduk di ruang tamu.
Aku memberanikan diri membuka pintu.
Lorong kosong.
Aku melangkah turun satu per satu.
Semakin dekat ke ruang tamu, napasku semakin tidak beraturan.
Namun saat tiba di bawah...
sofa itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku buru-buru melihat layar ponsel.
Sosok tadi juga sudah menghilang.
Tersisa ruang tamu yang sunyi.
Dengan tangan gemetar aku memutar ulang rekamannya.
Video mundur beberapa detik.
Sofa terlihat kosong.
Lalu, tanpa ada proses apa pun...
sosok itu muncul begitu saja.
Tidak berjalan.
Tidak datang dari pintu.
Tidak turun dari tangga.
Ia seperti... memang sudah ada di sana.
Beberapa detik kemudian, perlahan ia menoleh ke arah kamera.
Dan saat wajahnya terlihat jelas, tubuhku seolah kehilangan seluruh tenaga.
Itu aku.
Bukan seseorang yang mirip.
Melainkan aku.
Hanya saja bibirnya bergerak pelan, membentuk satu kalimat yang tidak mengeluarkan suara.
Namun aku bisa membacanya dengan jelas.
“Kenapa kamu pulang lebih cepat?”