"Benda mati tidak pernah berniat menakutimu. Yang mengerikan adalah ketika benda itu mulai bertindak seolah memiliki kehendaknya sendiri."
Aku memutar rekaman itu berkali-kali.
Tetap sama.
Sosok yang duduk di sofa muncul begitu saja, seolah-olah kamera melewatkan beberapa detik tanpa alasan.
Wajahnya adalah wajahku.
Pakaiannya juga sama.
Bahkan posisi rambut yang sedikit berantakan di sisi kanan pun tidak berbeda.
Namun ada satu hal yang membuatku yakin itu bukan aku.
Mata.
Tatapan orang itu kosong.
Bukan kosong karena melamun, melainkan seperti tidak memiliki kehidupan sama sekali.
Aku menghentikan video tepat saat bibirnya bergerak.
"Kenapa kamu pulang lebih cepat?"
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Lebih cepat dari apa?
Lebih cepat dari siapa?
Aku memijat pelipis.
"Kalau aku nggak pulang... memangnya siapa yang bakal datang?"
Tidak ada jawaban.
Hanya bunyi kulkas dari dapur yang sesekali berdengung pelan.
Aku akhirnya memutuskan mencabut kamera itu.
Kalau terus melihat rekaman aneh seperti ini, bisa-bisa aku benar-benar kehilangan akal sehat.
Esok paginya hujan turun sejak subuh.
Aku terbangun karena suara rintiknya memukul genting.
Udara menjadi jauh lebih dingin dibanding biasanya.
Setelah mandi dan bersiap, aku turun ke dapur untuk membuat kopi.
Saat membuka lemari, tanganku berhenti.
Cangkir favorit ayah berada di rak paling depan.
Padahal malam sebelumnya sudah kupindahkan ke bagian belakang.
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu mengambil cangkir lain.
Hari ini aku tidak ingin menyentuh benda apa pun yang mengingatkanku pada kejadian semalam.
Ketika air mendidih dan kopi selesai diseduh, aku membawa mug itu ke ruang tamu.
Pandanganku tanpa sengaja bertemu dengan cermin besar.
Pantulanku sedang memegang cangkir.
Normal.
Aku sengaja mengangkatnya sedikit.
Pantulan ikut mengangkat.
Tidak ada yang aneh.
Aku mulai merasa semua ini hanya permainan pikiranku sendiri.
Mungkin aku memang terlalu kesepian.
Kuliah hari itu berjalan membosankan.
Dosen berbicara hampir dua jam tanpa jeda.
Dimas yang duduk di sampingku sudah menyerah sejak menit keempat puluh.
Kepalanya tertunduk di atas meja.
Tidur.
Aku menyenggol lengannya.
"Bangun."
Ia membuka satu mata.
"Udah selesai?"
"Belum."
Ia langsung menutup mata lagi.
Sinta yang duduk di depan kami hanya menggeleng sambil tersenyum.
Sehabis kelas, kami bertiga makan siang di kantin.
Di tengah obrolan ringan, Dimas tiba-tiba bertanya,
"Ga."
"Hm?"
"Lu pernah ngerasa rumah bisa bikin orang berubah nggak?"
Aku langsung menatapnya.
"Maksudnya?"
"Gini."
Ia mengaduk es tehnya.
"Dulu sepupuku pindah ke rumah lama peninggalan kakeknya."
"Terus?"
"Katanya tiap malam dia ngerasa kayak ada yang nemenin."
Aku berusaha terdengar santai.
"Terus akhirnya gimana?"
"Pindah lagi."
Aku terkekeh kecil.
"Cuma gitu?"
"Iya."
"Kirain kenapa."
Dimas ikut tertawa.
Namun entah kenapa, cerita singkat itu membuatku tidak tenang.
Menjelang malam hujan kembali turun.
Aku baru selesai mandi ketika seluruh listrik di rumah mati.
"Ah, sial."
Kompleks kami memang sering mengalami pemadaman saat hujan deras.
Aku mengambil senter dari laci.
Cahayanya cukup terang untuk menerangi ruang tamu.
Saat melewati cermin besar, aku berhenti.
Senter yang kupegang memantulkan cahaya tepat ke permukaan kaca.
Dan di sana...
aku tidak melihat diriku.
Melainkan ruang tamu yang kosong.
Aku menggerakkan senter ke kiri.
Pantulan ruangan ikut bergerak.
Aku melangkah maju.
Tetap tidak ada diriku.
Dada terasa sesak.
"Ini nggak mungkin."
Aku melambaikan tangan di depan kaca.
Tidak ada balasan.
Yang kulihat hanya ruang tamu tanpa seorang pun berdiri di depannya.
Lalu tiba-tiba listrik kembali menyala.
Lampu rumah menyala bersamaan.
Aku refleks memejamkan mata karena silau.
Saat kubuka lagi...
pantulanku sudah kembali.
Sedang berdiri tepat di depanku.
Seolah tidak pernah menghilang.
Aku mundur perlahan.
Kakiku tanpa sengaja membentur meja kecil hingga sebuah buku terjatuh.
Bruk.
Aku memungutnya.
Album foto keluarga.
Sudah lama aku tidak membukanya.
Halaman pertama berisi foto-foto masa kecil.
Aku yang sedang meniup lilin ulang tahun.
Aku yang menangis karena jatuh dari sepeda.
Aku yang digendong ayah.
Sampai akhirnya mataku berhenti pada satu foto.
Foto itu memperlihatkan aku sedang duduk di lantai ruang tamu sambil bermain balok kayu.
Di belakangku tampak cermin besar yang sama.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Namun setelah kuperhatikan lebih lama...
pantulan anak kecil di dalam cermin tidak sedang bermain.
Ia berdiri.
Menghadap ke arah kamera.
Sambil tersenyum.
Padahal tubuhku yang asli membelakangi kamera.
Tanganku mulai gemetar.
Aku buru-buru membalik foto itu.
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan ibu.
Tulisan yang hampir memudar dimakan waktu.
"Hari ini Arga kembali bermain dengan temannya. Semoga suatu hari nanti dia lupa bahwa temannya tidak pernah benar-benar ada."
Aku langsung berdiri.
Kursi di belakangku bergeser keras.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis.
Teman?
Aku tidak pernah ingat punya teman bermain di rumah.
Apalagi seseorang yang berkaitan dengan cermin.
Pada Saat itulah terdengar suara notifikasi dari ponsel.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Kali ini pesan itu hanya berisi tiga kata.
"Cari loteng rumahmu".
Aku belum sempat membalas.
Sebuah pesan kedua masuk.
Sebelum dia menemukannya lebih dulu.
Dan tepat di atas kepalaku...
dari arah plafon...
terdengar jelas suara seseorang sedang berjalan perlahan.
Padahal rumahku...
tidak memiliki lantai tiga.
Suara langkah itu pelan.
Tidak tergesa-gesa.
Seperti seseorang sedang berjalan mengelilingi satu ruangan kecil di atas kepalaku.
Krek... krek... krek...
Setiap bunyinya terdengar jelas di sela derasnya hujan yang memukul atap.
Aku mendongak.
Plafon rumah hanya berupa langit-langit putih dengan lampu kecil di tengahnya.
Tidak ada akses menuju bagian atas.
Seingatku, ayah pernah bilang rumah ini hanya memiliki dua lantai. Tidak ada loteng. Tidak ada ruang penyimpanan di atas plafon.
Lalu siapa yang berjalan di sana?
Aku menelan ludah dan tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat.
Pesan itu masih terpampang di layar.
Cari loteng rumahmu. Sebelum dia menemukannya lebih dulu.
"Loteng apa..."
Aku bergumam pelan.
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, suara langkah di atas berhenti.
Mendadak sunyi.
Bahkan hujan di luar terdengar lebih pelan dibanding beberapa detik sebelumnya.
Aku hampir menghela napas lega ketika sesuatu yang jauh lebih mengganggu terdengar dari atas.
Tok.
Satu ketukan.
Lalu disusul ketukan kedua.
Tok.
Dan ketukan ketiga.
Tok.
Irama yang teratur.
Seolah seseorang sedang mengetuk dari balik langit-langit, meminta dibukakan jalan.
Kakiku mundur selangkah.
Jantungku berdetak begitu keras hingga telingaku sendiri ikut berdenging.
Aku mencoba berpikir rasional.
Mungkin tikus.
Mungkin kucing yang naik ke atap.
Namun suara berikutnya langsung menghancurkan semua alasan itu.
"Arga..."
Suaranya lirih.
Nyaris seperti bisikan.
Tetapi aku dapat mendengarnya dengan jelas.
Suara seorang anak laki-laki.
Usianya mungkin tidak lebih dari delapan tahun.
"Arga..."
Aku spontan menoleh ke segala arah.
Ruang tamu kosong.
Dapur kosong.
Lorong menuju kamar mandi juga kosong.
Sumber suara itu tetap dari atas.
Tanganku mulai berkeringat.
Dengan gerakan perlahan, aku membuka aplikasi perekam suara di ponsel dan menekan tombol rekam.
Kalau nanti ada yang bertanya, setidaknya aku punya bukti bahwa aku tidak sedang berhalusinasi.
Belum sampai lima detik merekam, terdengar suara benturan keras dari arah lantai dua.
BRAK!
Aku tersentak.
Seperti ada lemari yang didorong hingga jatuh.
Tanpa pikir panjang aku berlari menaiki tangga.
Napas memburu.
Langkahku nyaris terpeleset karena terburu-buru.
Sesampainya di depan kamar, pintunya kembali terbuka lebar.
Lampu di dalam masih menyala.
Aku masuk sambil menahan napas.
Tidak ada lemari yang jatuh.
Tidak ada kursi yang bergeser.
Tidak ada satu benda pun yang berubah posisi.
Ruangan itu terlihat sangat normal.
Justru karena terlalu normal, rasa takutku semakin besar.
Perlahan aku menurunkan pandangan.
Di lantai, tepat di depan meja belajar, ada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kulihat.
Sebuah jejak kaki kecil.
Bukan bekas lumpur.
Bukan bekas air.
Melainkan jejak yang terbentuk dari debu tipis, seolah seseorang baru saja melangkah keluar dari sudut ruangan yang selama ini tidak pernah dibersihkan.
Hanya ada satu.
Jejak kaki kanan.
Menghadap ke arah lemari pakaian.
Dan ketika aku mengangkat kepala...
pintu lemari itu terbuka sendiri sekitar lima sentimeter.
Padahal aku yakin, sebelum turun tadi, aku menutupnya rapat.