"Setiap rumah memiliki rahasia. Bedanya, ada rumah yang memilih menguburnya, dan ada rumah yang memilih menjaganya tetap hidup."
Aku tidak langsung mendekati lemari.
Kakiku seperti menolak bergerak.
Pintu lemari itu terbuka sangat pelan, hanya sekitar lima sentimeter, tetapi cukup untuk memperlihatkan kegelapan di dalamnya.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Namun justru kesunyian itulah yang membuat tengkukku meremang.
Aku melirik ponsel yang masih merekam.
Lampu indikator merah berkedip pelan.
Setidaknya kalau sesuatu benar-benar terjadi, aku punya bukti.
Dengan napas tertahan, aku melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tanganku perlahan menyentuh gagang lemari.
Dingin.
Entah karena cuaca atau karena hal lain.
Aku menarik pintunya hingga terbuka penuh.
Di dalam hanya ada tumpukan pakaian, beberapa jaket lama, koper hitam yang jarang kupakai, dan kotak sepatu di bagian paling bawah.
Kosong.
Tidak ada anak kecil.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku mengembuskan napas panjang dan tertawa kecil pada diri sendiri.
"Kayaknya aku memang mulai gila."
Saat hendak menutup lemari, mataku menangkap sesuatu di balik koper.
Sebuah amplop cokelat tua yang ujungnya sudah menguning.
Aku tidak pernah melihat benda itu sebelumnya.
Pelan-pelan kuambil amplop tersebut.
Debunya cukup tebal, menandakan sudah lama berada di sana.
Di bagian depan tidak tertulis nama siapa pun.
Hanya ada satu kalimat dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.
Tulisan ibu.
Jangan dibuka sampai kamu benar-benar siap.
Dadaku mendadak sesak.
Aku memandangi amplop itu cukup lama.
Kalimat tersebut justru membuat rasa penasaranku semakin besar.
Akhirnya kuputuskan membawanya turun ke ruang tamu.
Hujan di luar masih turun.
Aku membuat secangkir kopi baru, lalu duduk di sofa sambil memandangi amplop itu.
Tanganku sudah beberapa kali hendak merobeknya.
Namun selalu berhenti di detik terakhir.
Bagaimana kalau isinya hanya dokumen biasa?
Bagaimana kalau justru isinya sesuatu yang tidak ingin kuketahui?
Setelah hampir lima menit, aku akhirnya menghela napas dan membuka perekatnya perlahan.
Tidak ada surat.
Tidak ada uang.
Hanya selembar kertas kecil dan sebuah kunci berwarna hitam.
Kertas itu hanya berisi dua baris tulisan.
Kalau suatu hari kamu menemukan ini, berarti aku gagal melindungimu.
Jangan pernah mencari ruang yang tidak ada di denah rumah.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Semakin dibaca, semakin tidak masuk akal.
Rumah yang tidak ada di denah?
Apa maksudnya?
Ayah memang pernah menunjukkan gambar denah rumah saat aku masih kecil, tetapi aku sudah lupa bentuknya.
Aku membalik kertas tersebut.
Kosong.
Tidak ada tulisan lain.
Kini perhatianku beralih pada kunci hitam itu.
Bentuknya berbeda dengan semua kunci di rumah.
Ukurannya lebih kecil, tetapi lebih tebal.
Di bagian atas terdapat ukiran angka yang nyaris pudar.
07
Aku belum sempat berpikir lebih jauh ketika ponselku bergetar.
Rekaman suara yang tadi kubuat selesai diproses otomatis.
Iseng, aku memutarnya.
Awalnya hanya terdengar suara hujan.
Lalu langkah kakiku menaiki tangga.
Kemudian bunyi pintu kamar terbuka.
Semua normal.
Namun tepat beberapa detik sebelum suara benturan keras terdengar, ada suara lain yang sangat pelan.
Suara anak kecil.
"Akhirnya ketemu."
Aku langsung menghentikan rekaman.
Tanganku kembali gemetar.
Perlahan kuputar sekali lagi dengan volume penuh.
Kali ini terdengar lebih jelas.
"Akhirnya ketemu."
Lalu disusul tawa pendek.
Suara itu tidak berasal dari ponselku.
Tidak juga dari televisi.
Melainkan terekam di dalam file tersebut.
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Kalau suara itu memang nyata...
berarti selama ini aku tidak benar-benar sendirian di rumah.
Belum selesai rasa takut itu merayapi pikiranku, lampu ruang tamu berkedip satu kali.
Lalu dua kali.
Kemudian padam.
Seluruh rumah kembali gelap.
Dalam keheningan itu, terdengar suara yang membuat darahku serasa membeku.
Bukan dari atas.
Bukan dari luar.
Melainkan tepat dari belakang sofa tempatku duduk.
Suara seorang anak laki-laki yang berbisik sangat pelan.
"Arga..."
"Aku sembunyi."
"Kalau bisa..."
"Jangan kasih tahu dia kalau aku di sini."
Aku tidak berani menoleh.
Seluruh otot di leherku menegang seolah ada sesuatu yang menahannya.
Bisikan itu terdengar sangat dekat.
Terlalu dekat.
Seperti seseorang sedang jongkok tepat di belakang sandaran sofa sambil menempelkan mulutnya ke telingaku.
Napas dingin seolah menyentuh kulit leherku.
"Arga..."
Aku memejamkan mata.
Dalam hati aku menghitung.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu dengan gerakan yang kupaksa tetap tenang, aku membalikkan badan.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Sofa itu hanya menempel pada dinding.
Tidak ada ruang bagi seseorang untuk bersembunyi di belakangnya.
Aku spontan berdiri hingga meja kecil di depanku bergeser beberapa sentimeter.
Cangkir kopi yang tadi kubuat ikut bergetar.
Permukaannya membentuk riak-riak kecil.
Aku mengusap wajah dengan kedua tangan.
"Ini nggak masuk akal."
Kalimat itu keluar hampir seperti doa.
Bukan untuk meyakinkan siapa pun.
Melainkan untuk meyakinkan diriku sendiri.
Perlahan aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi perekam suara sekali lagi.
Jari telunjukku gemetar ketika menekan tombol putar.
Rekaman yang baru saja kudengar diputar ulang.
Suara hujan.
Langkah kaki.
Lalu...
"Aku sembunyi."
Suara itu masih ada.
Namun kali ini ada tambahan lain yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.
Di belakang bisikan anak kecil itu terdengar suara perempuan yang sangat lirih.
Suara ibu.
"Jangan jawab dia."
Aku menghentikan rekaman secepat mungkin.
Dadaku naik turun.
Kalau suara itu benar milik ibu, mengapa baru sekarang muncul?
Dan siapa yang dimaksud dengan "dia"?
Malam semakin larut.
Listrik akhirnya kembali menyala tanpa peringatan.
Lampu-lampu di ruang tamu menyala bersamaan hingga membuatku sedikit silau.
Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa seluruh rumah.
Satu per satu ruangan kubuka.
Dapur.
Gudang kecil.
Kamar mandi bawah.
Ruang makan.
Semuanya kosong.
Tidak ada tanda-tanda orang lain pernah berada di sana.
Saat hendak kembali ke ruang tamu, pandanganku tertuju pada rak buku tua di dekat tangga.
Rak itu sudah ada sejak aku kecil.
Sebagian besar isinya novel lama milik ibu dan beberapa buku teknik peninggalan ayah.
Aku tidak tahu kenapa malam itu kakiku justru berhenti di sana.
Tanganku bergerak sendiri menarik satu buku yang posisinya sedikit miring.
Begitu buku itu keluar, terdengar bunyi pelan dari dalam rak.
Klik.
Aku mengernyit.
Bunyi mekanis.
Seperti sesuatu yang baru saja terbuka.
Perlahan aku mendorong sisi belakang rak.
Tidak bergerak.
Aku mencoba menariknya sedikit.
Tetap sama.
Namun ketika kugeser buku lain di sebelahnya, bunyi itu terdengar lagi.
Klik.
Lalu dari bagian bawah rak, sebuah papan kayu kecil terdorong keluar sekitar dua jari.
Aku berjongkok.
Debu tebal menempel di sela-selanya.
Jelas sekali benda itu sudah sangat lama tidak disentuh.
Dengan jantung berdegup cepat, aku menarik papan tersebut perlahan.
Di baliknya terdapat sebuah rongga sempit.
Hanya cukup untuk menyimpan beberapa barang.
Di dalamnya ada map plastik bening yang mulai menguning dimakan usia.
Aku mengeluarkannya dengan hati-hati.
Map itu berisi beberapa lembar kertas dan satu foto lama.
Saat melihat foto tersebut, napasku langsung tertahan.
Di sana terlihat aku yang masih kecil berdiri di halaman rumah bersama ayah dan ibu.
Aku tersenyum lebar ke arah kamera.
Ayah juga tersenyum.
Ibu memegang pundakku.
Semuanya tampak normal.
Sampai mataku menyadari satu sosok lain di sisi paling kanan foto.
Seorang anak laki-laki.
Usianya kurang lebih sama denganku.
Tubuhnya kurus.
Memakai kaus bergaris biru.
Ia berdiri sangat dekat denganku.
Namun wajahnya...
dicoret menggunakan tinta hitam sampai tidak bisa dikenali.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan ayah yang sudah mulai pudar.
"Maafkan Ayah. Seharusnya sejak awal kami tidak membiarkan kalian bertemu."
Aku membalik foto itu sekali lagi.
Tidak ada nama.
Tidak ada tanggal.
Hanya kalimat tersebut.
Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah ini...
aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apa mungkin aku memang pernah memiliki seorang teman masa kecil... yang sengaja dihapus dari seluruh ingatanku?