Sutedja Kusuma ditangkap di gudang bawah tanah rumah duka Kasih Abadi dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya, dengan surat penangkapan yang dibacakan Baringin dengan suara yang rata, dengan arsip yang gagal dibakarnya berdiri di rak-rak di tiga dindingnya dengan hormat yang salah yang tidak pernah bisa dibakarnya lagi.
Dan ia menyerah dengan rapi, dengan cara yang sudah dibaca Mursid akan datang dari insinyur yang membaca kekalahannya dengan cara yang sama dinginnya dengan yang dibacanya keberhasilannya: dengan tangan yang diulurkannya sendiri untuk diborgol, dengan jaket batiknya yang tidak kusut, dengan satu kalimat terakhir untuk Mursid yang berdiri di antara rak-rak kematiannya dengan kamera kecil di tangannya dan jawaban yang tidak bisa ditulis ulang dengan perhitungan mana pun.
Dan ia dibawa naik dari gudang bawah tanahnya dengan dua petugas di dua sisinya, melewati lantai satu rumah duka yang berdiri dengan sopan seperti selalu, dengan buku tamu di meja Pak Hartono yang sudah difoto sampai halaman terakhirnya — dan Pak Hartono sendiri duduk di kursi di sudutnya dengan wajah yang membaca akhirnya dengan cara orang yang selama ini memilih untuk tidak pernah membaca apa pun, dengan surat yang berdiri di atas mejanya dengan kaki yang benar yang tidak bisa dibantahnya.
Di tangga itu Sutedja berhenti sekali, dan memandang gudang bawah tanahnya untuk yang terakhir kalinya — rak-raknya, buku-buku besarnya, meja kecilnya, lampunya yang tidak pernah dimatikan sepenuhnya — dan memandanginya dengan cara yang tidak pernah dibaca Mursid dari wajah mana pun dalam dua puluh tahun kerjanya: bukan duka, bukan amarah, melainkan cara seorang insinyur memandang karyanya yang sudah selesai dibaca orang lain. Lalu ia naik, dengan jaket batik yang tidak kusut, dengan tangan terikat di depannya dengan rapi.
Dan peti kosong itu diangkat dari sudutnya oleh dua petugas dengan hati-hati yang tidak biasa untuk barang bukti — dengan papan kecilnya dan nama yang tercetak di atasnya — dan dibawa naik ke cahaya yang tidak pernah dibayangkannya akan datang dari atas tangga itu. Peti yang ringan di bahu-bahu dua petugas, tanpa pasir, tanpa batu, tanpa nama yang ditimbunnya: peti yang berdiri sebagai bukti yang paling jujur dari mesin yang berhenti bekerja dalam satu malam.
Dan satu petugas muda yang membantunya dari bawah berbisik kepada rekannya, dengan suara yang tidak ditujukan kepada siapa pun: "Dua puluh tahun, dan berhenti dalam satu malam." Dan rekannya menjawabnya dengan cara yang sudah menjadi cara mereka semua sejak malam dua titik itu: "Bukan satu malam. Dua puluh tahun, ditambah satu malam."
Dan berita penangkapannya berjalan dengan kaki yang lebih cepat dari kaki berita biasa: dari gudang bawah tanah itu ke kantor-kantor yang sudah lama membaca dari jauh dengan hati-hati orang-orang yang tahu, dan dari kantor-kantor itu ke orang-orang yang berdiri di mesinnya dengan harga-harga yang berbeda-beda untuk membaca akhirnya. Lantai dua di atas toko fotokopi itu berhenti bekerja dalam satu malam, dengan Yopi yang sudah keluar dari dalamnya sejak seminggu sebelumnya dan dengan tangan-tangan lain yang membaca akhirnya dari bisikan-bisikan yang berjalan lebih cepat dari bisikan resmi. Klinik Pratama Sehat Sentosa membaca akhirnya dari pintu-pintu yang mulai diawasi dari jauh dengan cara yang sudah dibaca dari surat-surat pembekuan yang sudah berdiri di atas kaki yang benar. Dan rumah duka Kasih Abadi disegel dengan arsipnya yang sudah difoto dan disalin dan disimpan di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus dengan botol kecil mana pun.
Dan Mursid berdiri di gudang bawah tanah itu setelah Sutedja dibawa dengan tangan terikat dan jaket batik yang tidak kusut dan pengakuan yang dingin dan jujur yang tidak pernah ia tarik kembali, dan membaca rak-rak kematian itu dengan mata yang sudah lama membacanya dari pembacaan Yopi dan dari satu sore pengambilan arsip dengan kunci yang benar — dan tidak ada satu pun dari kemenangan yang ia rasakan di dadanya. Hanya pembukuan yang berdiri dengan hormat yang salah yang gagal dibakarnya oleh tangan yang membangunnya, dan satu insinyur yang dibawa dengan tangan terikat dari gudang bawah tanahnya dengan pengakuan yang tidak pernah ia tarik kembali, dan satu peti kosong di sudutnya dengan papan kecil yang tidak akan pernah terisi nama berikutnya dari mesin yang berhenti bekerja dalam satu malam.
Dan Baringin berdiri di sisinya dengan surat penangkapan yang sudah selesai dibacakannya dan dengan wajah penyidik yang sudah empat tahun mencium mesin itu tanpa pintu, dan berkata dengan suara yang lebih berat dari suaranya yang biasa:
"Empat tahun aku mencium mesin ini tanpa pintu, dan hari ini insinyurnya dibawa dari gudang bawah tanahnya dengan tangan terikat dan pembukuannya yang gagal dibakarnya. Dan itu bukan akhir dari mesin ini, Mursid. Mesin ini berdiri dengan orang-orang yang dipekerjakannya dan diancamnya, dan orang-orang itu masih berdiri di klinik dan rumah duka dan yayasan dan biro-biro jasa lainnya yang berdiri di kota-kota lain dengan cara yang sama. Tapi insinyurnya ditangkap hari ini dengan pembukuannya yang gagal dibakarnya, dan mesin tanpa insinyurnya adalah mesin yang berjalan tanpa orang yang membacanya — dan mesin yang berjalan tanpa orang yang membacanya adalah mesin yang berhenti bekerja, pelan-pelan, dengan tangan-tangan yang tidak tahu lagi untuk apa mereka mengetik kematian orang-orang yang tidak dicari."
Dan Mursid menuliskannya di buku tulisnya malam itu dengan tangan yang mantap dan tidak ada satu pun dari kemenangan di dalamnya: Sutedja ditangkap di gudang bawah tanahnya dengan botol kecil yang turun dari tangannya, dan mesinnya berhenti bekerja dalam satu malam dengan insinyurnya dibawa dengan tangan terikat. Dan peti kosong di sudutnya dengan papan kecilnya berdiri dengan nama yang tidak akan pernah ditulis di sana — dan satu janji yang kuberikan kepada peti kosong itu dengan nama yang tidak kukenali itu terpenuhi, dengan cara yang tidak pernah bisa dibayangkan saat membacanya tercetak rapi di papan kecilnya dengan pasir dan batu yang menunggu di dalamnya.