Bayi Surti itu didaftarkan dengan nama pilihannya sendiri kelak dalam minggu yang sama dengan pemulihan pertama dari daftar itu, dan pendaftarannya berdiri dengan cara yang tidak pernah dibaca Mursid akan datang dari keluarga yang sudah lama berdiri dengan kertas yang salah sebelum berdiri dengan kertas yang benar: dengan dua orang tua yang mendaftarkannya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuh akta kelahirannya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun dari kertas-kertas resminya.
Tigor dan Surti mendaftarkan bayi mereka dengan nama yang dipilihnya bersama dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun dari kertas-kertas resminya: dengan Surti yang memegang akta kelahiran bayinya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya, dengan Tigor yang berdiri di sisinya dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar berdiri dengan cara yang sudah lama tidak berdiri dengan cara yang salah, dan dengan Bu Karsih yang berdiri di belakangnya dengan gelangnya yang sudah kembali di pergelangan kirinya dan dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dengan cara yang sudah lama tidak ia sembunyikannya lagi.
Malam sebelum pendaftaran itu, mereka membicarakannya di warung soto tempat Linda biasa, dengan bayi itu tidur di gendongan Surti dan dengan Bu Karsih yang menyendok sotonya pelan-pelan dengan tangan yang tidak berhenti menyentuh gelangnya di pergelangan kirinya.
"Kita daftarkan dia besok dengan cara yang benar," kata Tigor, dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar memegang sendoknya dengan cara yang masih hati-hati. "Dengan akta yang benar, dengan tanggal yang benar, dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar. Tapi namanya — aku mau dia yang memilihnya sendiri kelak, kalau dia sudah cukup besar untuk membaca namanya sendiri di atas kertasnya sendiri. Aku dihapus dari namaku sendiri tanpa pernah ditanya, dan aku tidak mau menulis satu nama pun di atas kertasnya tanpa dia yang membacanya sendiri dulu dengan matanya sendiri."
Dan Surti mengangguk dengan bayinya di gendongannya, dengan satu cara yang sudah dibacanya dari laki-lakinya sejak malam mereka bertemu lagi di warung soto itu dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikan siapa pun: cara orang yang sudah kehilangan namanya sekali, dan tidak akan pernah lagi menganggap nama sebagai sesuatu yang ringan untuk ditulis di atas kertas.
"Kita tulis saja di aktanya dengan cara yang benar untuk sekarang," katanya, pelan. "Dan nama besarnya dia pilih sendiri kelak, seperti katamu. Yang penting dia berdiri di atas kertas yang benar mulai besok — tidak seperti bapaknya yang berdiri di luar kertasnya sendiri dua bulan lamanya, tidak seperti aku yang berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya kutanggung."
Dan Bu Karsih menyendok sotonya pelan-pelan dan berkata dengan suara yang lebih kecil dari bunyi warung soto yang biasa, dengan gelangnya di pergelangan kirinya yang disentuhnya dengan jempolnya:
"Kalian benar berdua. Aku menggadaikan gelangku untuk mencari menantuku dengan uang empat ratus ribu seminggu, dan aku membacanya sekarang dari cucuku yang tidur di gendongan ibunya: nama bukan sesuatu yang kita tulis untuk orang yang kita cintai. Nama adalah sesuatu yang mereka pilih sendiri untuk berdiri di atasnya, dan kerja kita cuma satu — menjaga kertasnya tetap benar sampai mereka cukup besar untuk memilihnya sendiri."
Dan mereka makan soto mereka dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun dari kertas-kertas resminya: satu keluarga yang berdiri lagi dengan kertas yang benar, dengan satu bayi yang tidur di gendongan ibunya tanpa nama yang dipilihnya sendiri kelak, dengan keputusan yang dibuat dengan soto yang hangat dan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuh apa pun yang dicintainya. Dan Mursid yang duduk di meja sebelah dengan kopinya sendiri tidak ikut bicara, dan hanya menuliskan satu baris kecil di buku tulisnya nanti malam.
Dan nama bayi itu berdiri di atas akta kelahirannya dengan cara yang benar, dengan tanggal yang benar, dengan dua orang tua yang mendaftarkannya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya — dan Bu Karsih membacanya dari belakangnya dengan gelangnya di pergelangan kirinya dan dengan satu kalimat yang dibacanya dengan suara yang lebih kecil dari bunyi kantor dukcapil yang biasa:
"Cucuku berdiri dengan namanya sendiri di atas kertasnya sendiri, dengan ayahnya yang berdiri di sisinya dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar, dengan ibunya yang memegang akta kelahirannya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya. Dan aku berdiri di belakangnya dengan gelangku yang sudah kembali di pergelangan kiriku, dengan keluargaku yang berdiri dengan kertas yang benar setelah berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya ditanggung keluarga mana pun — dan itu lebih dari yang pernah kupikirkan saat menggadaikan gelangku untuk membayar pencarian menantuku dengan uang empat ratus ribu seminggu dari kantong seorang jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor."
Dan Mursid membacanya dari kejauhan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulisnya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: bayi tanpa nama itu didaftarkan dengan nama pilihannya sendiri kelak dengan dua orang tua yang mendaftarkannya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuh akta kelahirannya dengan jempolnya — dan keluarga itu berdiri dengan kertas yang benar setelah berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya ditanggung keluarga mana pun, dengan Bu Karsih yang berdiri di belakangnya dengan gelangku yang sudah kembali di pergelangan kirinya. Dan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang itu terbayar dengan satu keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar, dengan satu bayi yang didaftarkan dengan nama pilihannya sendiri kelak, dengan satu ayah yang berdiri di sisinya dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar.