Pemulihan pertama dari daftar tiga puluh delapan itu berjalan dengan sidang administrasi yang berdiri dengan kaki yang benar, dan berjalannya dengan nama-nama yang berdiri lagi satu per satu di atas kertas yang benar dengan jalur yang lambat dan sah yang sudah lama dibaca Linda dari luar dengan kesabaran orang yang sudah lama bekerja dengan kertas.
Dan Mursid menghadiri setiap satu yang bisa ia hadiri — dari barisan belakang dengan topi dan jaket lama yang tidak pernah berubah, dengan buku tulis anak sekolahnya yang berdiri dengan daftar yang sudah berubah fungsinya menjadi daftar orang yang ditemukan, dengan mata yang membaca setiap nama yang berdiri lagi di atas kertas yang benar dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun dari kertas-kertas resminya.
Dan pemulihan-pemulihan itu berjalan dengan cara yang sama dengan cara Ratna menerima namanya kembali di kantor dukcapil sore itu: dengan dua tangan yang memegang KTP baru seperti memegang diri sendiri yang hilang bertahun-tahun, dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikan oleh orang-orang yang sudah lama menyimpan nama asli mereka di sudut-sudut kepalanya supaya mereka tidak lupa siapa mereka — dan dengan satu kalimat yang dibacanya dari setiap satu dari mereka dengan cara yang sama dengan cara Ratna mengucapkannya sore itu: bahwa mereka sudah lupa bagaimana rasanya berdiri dengan nama mereka sendiri di atas kertas yang benar, dan mereka tidak akan pernah lagi menjawab telepon untuk nama yang bukan nama mereka, dan mereka tidak akan pernah lagi berdiri di kontrakan-kontrakan yang dibayar kurir dengan wajah-wajah yang bukan wajah mereka di KTP-nya.
Dan satu pemulihan lain yang dihadirinya dari barisan belakang itu berdiri dengan cara yang lebih sederhana dari yang lainnya, dan justru karena itu lebih berat: satu perempuan muda yang dihapus dua tahun lalu untuk identitas yang dipakai orang lain, datang dengan satu anak kecil yang digandengnya dengan tangan yang tidak dilepaskannya sejak pintu kantor itu dibuka — dan menerima kembali namanya dengan dua tangan yang gemetar, dengan anak kecil itu memandang kertas di tangan ibunya dengan mata yang belum membaca apa-apa.
"Ini nama ibu, Nak," katanya kepada anak itu, dengan suara yang ditahannya supaya tidak pecah di ruang tunggu kantor dukcapil itu. "Nama ibu yang sebenarnya. Dua tahun ibu memakai nama orang lain, dan dua tahun ibu menjawab telepon dengan nama yang bukan nama ibu, supaya orang-orang yang menghapus ibu tidak menemukan ibu lagi. Sekarang ibu pulang ke nama ibu sendiri, dan kamu tidak perlu lagi memanggil ibu dengan nama yang salah di depan orang-orang yang bertanya."
Dan anak kecil itu mengangguk dengan anggukan anak kecil yang tidak membaca apa-apa dari kertas-kertas resmi — dan membacanya dari satu-satunya cara yang dipunyainya: dari tangan ibunya yang berhenti gemetar, dari suara ibunya yang berdiri lagi dengan namanya sendiri di atasnya.
Dan petugas di meja itu menyerahkan KTP baru itu dengan cara yang sudah dipelajarinya sejak pemulihan-pemulihan pertama dari daftar itu berjalan dengan jalur yang lambat dan sah: dengan dua tangan, dengan hormat yang benar, dengan satu kalimat kecil yang tidak tertulis di prosedur mana pun:
"Selamat datang kembali, Bu. Nama ibu sudah berdiri lagi di atas kertas yang benar, dan tidak ada satu pun yang akan menghapusnya lagi dengan cara yang salah."
Dan Mursid membacanya dari barisan belakang dengan buku tulis anak sekolahnya terbuka di pangkuannya, dengan debu proyek tol yang masih menempel di sepatunya dari jalan yang dilaluinya pagi itu, dengan pinggangnya yang linu sebelum jam tujuh seperti biasa — dan membaca satu hal yang dituliskannya dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya di tepi halaman itu: pemulihan bukan kertas yang berdiri lagi. Pemulihan adalah satu anak kecil yang tidak perlu lagi memanggil ibunya dengan nama yang salah di depan orang-orang yang bertanya, dan satu tangan ibu yang berhenti gemetar di ruang tunggu kantor dukcapil, dengan debu proyek tol di luar jendelanya yang berjalan terus dengan cara yang biasa. Dan perempuan muda itu berjalan keluar dari kantor itu dengan anaknya digandeng lebih erat dari sebelumnya, dengan langkah yang berbeda dari langkah yang dibawanya masuk dua jam sebelumnya.
Dan satu pemulihan yang dihadiri Mursid dari barisan belakang itu berdiri dengan berat yang lebih dalam dari pemulihan-pemulihan lainnya: satu lelaki tua yang dihapus empat tahun lalu dengan cara yang sama dengan yang dibacakannya dari pembacaan-pembacaannya dari bawah mesin itu selama dua bulan menjadi hantu — dengan satu ibu tua yang mencarinya ke kelurahan setiap bulan dengan uang pas-pasan untuk ongkos, dengan satu nama yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan dua tangan yang sudah tua memegangnya dengan jempol yang tidak berhenti menyentuh namanya di kertas itu, dengan satu ibu tua yang berdiri di sisinya dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dengan cara yang sudah empat tahun ia sembunyikannya setiap bulan di kantor kelurahan yang sama.
Dan Mursid membacanya dari barisan belakang dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulisnya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: pemulihan pertama dari daftar itu berjalan dengan sidang administrasi yang berdiri dengan kaki yang benar, dan nama-nama itu berdiri lagi satu per satu di atas kertas yang benar dengan dua tangan yang memegangnya seperti memegang diri sendiri yang hilang bertahun-tahun. Dan satu ibu tua yang mencari suaminya ke kelurahan setiap bulan dengan uang pas-pasan untuk ongkos itu berdiri di sisinya dengan suaminya yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan dua tangan yang sudah tua — dan empat tahun mencarinya dengan uang pas-pasan untuk ongkos itu terbayar dengan satu sore di kantor dukcapil itu, dengan jalur yang benar, dengan orang-orang yang berdiri untuk mengembalikan nama-nama itu tanpa dibayar untuk berdiri.