Cucu Bu Karsih mulai sekolah dalam minggu yang sama dengan jam tangan Tigor yang berdetak lagi di tangan Surti, dan mulai sekolahnya adalah mulai sekolah yang berdiri dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun dari kertas-kertas resminya: dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya, dengan satu nenek yang berdiri dengan gelangnya yang sudah kembali di pergelangan kirinya, dengan satu keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar setelah berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya ditanggung keluarga mana pun.
Pagi pertama sekolah itu dibaca Mursid dari jauh, dari seberang jalan depan sekolah dasar di tepi Tambun, dengan rokoknya yang tidak dibakarnya dan dengan dada yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak dirasakannya: satu anak kecil dengan seragam putih-merah yang masih baru dan tas yang masih kaku, berjalan di antara ayah dan ibunya yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya, dan satu nenek yang berjalan di sisinya dengan gelangnya di pergelangan kirinya yang ditangkap cahaya pagi. Dan di gerbang sekolah itu anak itu berbalik sekali — anak-anak selalu berbalik sekali — dan neneknya mengangkat tangan dengan gelang di pergelangannya, dan ayahnya mengangkat tangan dengan tangan yang dulu mengetik dengan luka di rumah susun tanpa nama, dan ibunya memeluk bayi di gendongannya dengan satu tangan yang melambai. Dan anak itu masuk ke gerbangnya dengan langkah-langkah kecil yang berdiri dengan kaki yang benar di atas kertas yang benar, dan Mursid membaca dari seberang jalan bahwa inilah yang dibelinya dengan dua bulan menjadi hantu dan dengan semua malam yang tidak biasa — dan inilah yang tidak bisa dihapus siapa pun lagi, karena kertas yang benar berdiri di bawah langkah-langkah kecil itu dengan kaki yang benar.
Dan Bu Karsih menjadi pelanggan cerita di warung soto di dekat pasar Tambun, dan menjadi pelanggan cerita dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya sejak malam ia menggadaikan gelangnya untuk membayar pencarian menantunya dengan uang empat ratus ribu seminggu: dengan cerita-cerita tentang cucunya yang mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya, dengan gelangnya yang sudah kembali di pergelangan kirinya yang disentuhnya dengan jempolnya setiap kali menceritakannya, dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dengan cara yang sudah lama tidak ia sembunyikannya lagi.
"Cucuku mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya, dan aku berdiri di sini dengan gelangku yang sudah kembali di pergelangan kiriku, dengan keluargaku yang berdiri dengan kertas yang benar setelah berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya ditanggung keluarga mana pun." Bu Karsih menceritakannya dengan gelangnya di pergelangan kirinya yang disentuhnya dengan jempolnya dan dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dengan cara yang sudah lama tidak ia sembunyikannya lagi. "Dan itu terbayar dengan satu gelang yang kugadaikan untuk membayar pencarian menantuku dengan uang empat ratus ribu seminggu, dan satu jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor yang menerima orderku dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya, dan satu mesin yang dijatuhkan dengan orang-orang yang berdiri untuk menjatuhkannya dengan cara yang tidak pernah bisa ditulis ulang perhitungan mana pun."
Dan warung soto itu mendengarkan cerita-ceritanya dengan cara warung-warung mendengarkan cerita-cerita yang sudah lama ditunggunya — pembeli-pembeli yang biasa menoleh dari mangkuk-mangkuknya, dan Linda yang kebetulan mampir dengan anaknya mengangguk dari meja sebelah dengan mata yang basah dengan cara yang sudah lama dibacanya dari malam ia berdiri di kantor dukcapil dengan jasa yang diakui resmi. Dan Tigor ada di sana juga di minggu-minggu itu, duduk di dekat ibu mertuanya dengan tangan yang sudah sembuh di atas mejanya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil yang datang kepadanya dengan suara yang sudah menjadi suara orang yang pulang:
"Sekolahnya dekat rumah, Bu Nah. Jalan kaki sepuluh menit. Saya yang antar tiap pagi sebelum narik, dan Bang Jul yang jemput kalau saya dapat penumpang jauh — pangkalan sudah bagi tugas, katanya, biar anak itu enggak pernah jalan sendirian."
Dan Bu Nah mengangguk dari mejanya dengan tahu-tempe dagangannya dan dengan satu kalimat yang berdiri di atas semua perhitungan yang pernah ditulis dengan cara yang salah: "Bagus. Anak yang diantar ramai-ramai ke sekolah itu anak yang tahu kampungnya berdiri di belakangnya. Dan kampung yang berdiri di belakang anak sekolah itu kampung yang enggak bisa dihapus siapa-siapa."
Dan di minggu pertama itu cucunya pulang sekolah dengan satu gambar yang dibawanya dengan dua tangan seperti membawa kertas yang benar — gambar satu keluarga yang berdiri di depan satu rumah dengan atap miring, dengan satu nenek bergelang di pinggirnya dan satu ayah dengan ojeknya di belakangnya dan satu bayi di gendongan ibunya — dan gambar itu ditempel Bu Karsih di dinding rumahnya dengan dua paku kecil, di tempat yang berdiri kosong selama keluarga itu berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya ditanggung keluarga mana pun.
Dan Mursid mendengarnya dari meja yang sama dengan meja pertama ia menerima order dari perempuan yang menggadaikan gelang itu, dengan kopi yang diseduhkan Bu Tarmi dari warung yang berdiri lagi dengan lebih dari yang dibakar, dan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulisnya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: anak cucu Bu Karsih mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya, dan Bu Karsih menjadi pelanggan cerita di warung soto dengan gelangnya yang sudah kembali di pergelangan kirinya. Dan satu gelang yang digadaikannya untuk membayar pencarian menantunya dengan uang empat ratus ribu seminggu itu terbayar dengan satu keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar, dengan satu cucu yang mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya, dengan satu mesin yang dijatuhkan dengan orang-orang yang berdiri untuk menjatuhkannya dengan cara yang tidak pernah bisa ditulis ulang perhitungan mana pun.