Jam tangan Tigor itu diperbaiki dan berdetak lagi, dan maksudnya terjawab penuh dengan cara yang tidak pernah dibaca Mursid dari pembacaan-pembacaannya dari bawah mesin itu selama dua bulan menjadi hantu: jam itu bukan pesan untuknya. Jam itu pesan untuk Surti.
Mursid membawanya ke Surti dengan tangan yang lebih hati-hati dari tangan-tangan yang membawa bukti-bukti ke meja penyidik — dengan jam tangan kecil yang sudah diperbaiki dengan tangan-tangan yang merawatnya dengan cara yang benar, dengan jarum yang berdetak lagi dari pukul tiga lewat sepuluh yang dimatikannya di malam Tigor dibawa dengan kurir jam tiga dari kamar kosnya di belakang terminal.
Jam tangan kecil itu diperbaikinya seminggu sebelumnya di kios jam di pasar Tambun — dibawanya dengan dua tangan seperti membawa sesuatu yang hidup, dan dijelaskannya kepada tukang jamnya dengan kalimat yang tidak biasa untuk jam seharga pasar: jangan diganti mesinnya kalau masih bisa diperbaiki, jangan diganti kacanya kalau masih bisa digosok, karena jam ini bukan jam biasa. Dan tukang jam itu membacanya dengan mata yang sudah puluhan tahun membaca jam-jam orang kecil, dan memperbaikinya dengan harga orang kecil, dan menyerahkannya kembali dengan jarum yang berdetak lagi dan dengan satu kalimat yang dibawa Mursid pulang bersamanya: jam tua begini enggak dibuang, Mas. Jam tua begini dirawat, karena yang ngasih biasanya orang yang enggak bisa diganti. Dan biaya perbaikannya dibayarnya dengan uang tunai dari kantong yang sudah lama tidak setipis itu — bukan dengan harga orang kecil yang ditawarkan tukang jamnya, melainkan dengan harga penuh yang ditambahkannya sedikit, karena jam yang membawa pulang seorang suami dari mesin yang menghapusnya tidak boleh diperbaiki dengan harga yang ditekan. Dan Surti menerimanya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya, dan membacanya dengan mata yang membaca dari malam yang sudah lama dibacanya dari malam suaminya pergi mencari kerja ke Cikarang dan tidak pernah kembali.
"Dia mematikan jamnya di pukul tiga lewat sepuluh di malam dia dibawa," kata Mursid, dengan jam tangan kecil yang berdetak lagi di tangan Surti dan dengan satu malam yang sudah lama dibacanya dari malam ia menemukannya di atas meja di kamar kos nomor tujuh itu. "Bukan untukku. Untukmu. Untuk memberi tahumu bahwa dia tidak kabur — bahwa dia dibawa dengan kurir jam tiga pagi itu, dan jam tangannya dimatikannya di jam kurir itu sebagai pesan untuk siapa pun yang datang mencarinya dengan mata yang benar. Dan aku datang mencarinya dengan mata yang benar, dan jamnya membawaku ke kurir jam tiga itu, dan kurir jam tiga itu membawaku ke rumah susun di pinggiran Cikarang — dan Tigor pulang dengan jam tangannya yang berdetak lagi, dengan maksud yang terjawab penuh dengan cara yang ditulisnya dengan tangannya sendiri di malam ia dibawa dengan kurir jam tiga itu."
Dan Surti membacanya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuh jam tangan kecil yang berdetak lagi itu dengan jempolnya, dan menjawabnya dengan suara yang lebih kecil dari bunyi warung soto yang biasa:
"Dia tidak kabur. Aku sudah tahu itu sejak malam pertama dia tidak pulang, dan aku tidak pernah berhenti tahu itu sejak malam pertama itu — dan jamnya dimatikannya di jam kurir itu untuk memberi tahuku itu, dan kau membacanya dengan mata yang benar, dan kau membawanya pulang dengan jam tangannya yang berdetak lagi. Dan jam ini akan berdetak lagi di tanganku setiap hari mulai hari ini, dengan maksud yang terjawab penuh dengan cara yang ditulisnya dengan tangannya sendiri di malam ia dibawa — dan tidak akan pernah lagi dimatikannya dengan cara yang salah, dan tidak akan pernah lagi berhenti di pukul tiga lewat sepuluh dengan cara yang salah, dan berdetak lagi dengan cara yang benar untuk selamanya."
Dan bayinya bangun di gendongan kain di punggungnya saat jam tangan kecil itu berdetak lagi di tangannya, dan Surti membalikkan badannya pelan-pelan dan mengangkat anaknya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuh jam itu dengan jempolnya, dan mendekatkannya ke telinga kecil yang masih membaca dunia dari bunyi-bunyi saja:
"Dengar, Nak. Ini jam Bapakmu. Bunyi detaknya sama dengan bunyi detak yang dibawanya kerja tiap pagi sebelum dia dibawa orang jahat — dan sekarang bunyi detaknya balik lagi, dan Bapakmu juga sudah balik lagi, dan kau bakal besar dengan bunyi detak ini di rumah kita tiap hari. Enggak ada lagi yang bakal mematikannya dengan cara yang salah. Enggak ada lagi."
Dan bayi itu menjawabnya dengan cara bayi menjawab bunyi-bunyi yang dibawanya dekat ke telinganya — dengan mata yang membesar dan dengan satu tangan kecil yang menggapai jam tangan itu, dan Surti tertawa di sela air matanya dengan cara yang sudah lama tidak kedengaran di warung soto itu sejak malam suaminya pergi mencari kerja ke Cikarang. Dan Mursid membacanya dari mejanya dengan kopi yang tidak disentuhnya, dengan dada yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak dirasakannya, dan tidak berkata apa-apa — karena ada hal-hal yang tidak perlu dibaca dengan kata-kata, dan seorang ibu yang memperdengarkan detak jam suaminya ke telinga bayinya adalah satu di antaranya.
Dan Mursid membacanya dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulisnya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: pukul tiga lewat sepuluh itu terjawab penuh dengan cara yang tidak pernah kubaca dari pembacaan-pembacaanku dari bawah mesin itu selama dua bulan menjadi hantu — jam itu bukan pesan untukku, jam itu pesan untuk Surti, untuk memberi tahunya bahwa Tigor tidak kabur melainkan dibawa dengan kurir jam tiga itu. Dan jam tangan kecil itu berdetak lagi di tangan Surti mulai hari ini dengan maksud yang terjawab penuh dengan cara yang ditulisnya dengan tangannya sendiri di malam ia dibawa — dan tidak akan pernah lagi berhenti di pukul tiga lewat sepuluh dengan cara yang salah, dan berdetak lagi dengan cara yang benar untuk selamanya.