Sidang besar itu berjalan di pengadilan kota dalam bulan-bulan berikutnya, dan sidang itu adalah sidang yang berdiri di atas semua yang sudah dibangun sejak satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya: sidang konsorsium dan Sutedja Kusuma, dengan dakwaan yang berdiri dengan dua pintu dan tiga tangan yang tidak pernah bekerja bersama untuk menulisnya.
Dan buku tulis Mursid dibacakan sebagian di dalamnya.
Bukan seluruhnya — sebagian, dengan halaman-halaman yang dipilih dengan hati-hati jaksa yang berdiri dengan kaki yang benar: daftar tiga puluh delapan nama dari buku tamu dan daftar kelurahan, dengan tanggal-tanggal yang dibacanya dari dua bulan menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah, dengan peta mesin yang berdiri utuh dari lantai dua ke klinik ke rumah duka ke yayasan ke gudang bawah tanah dengan kunci yang disalin Yopi dengan tangan yang gemetar dua minggu sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya sejak mesin itu berdiri dengan orang-orang yang dihapus dengan harga lima belas juta per paket, daftar orang yang dihapus itu dibacakan keras-keras di ruang terang — di depan hakim-hakim yang mencatatnya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti, di depan pengacara-pengacara yang berdiri dengan harga yang tidak bisa dihitung dari kantong-kantong orang kecil, dan di depan Sutedja Kusuma yang mendengarnya dengan jaket batik yang tidak kusut dan dengan mata insinyur yang membaca pembukuannya sendiri dibacakan di ruang terang dengan cara yang tidak bisa dibantah dengan keahlian mana pun.
Dan tiga puluh delapan nama itu dibacakan keras-keras di ruang terang itu, satu per satu, dengan tanggal-tanggal yang berdiri di sampingnya dengan cara yang tidak bisa dibantah dengan keahlian mana pun — dan untuk pertama kalinya sejak mesin itu berdiri, orang-orang yang dihapus itu didengar namanya di ruang terang oleh orang-orang yang mencatatnya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti, dengan kaki yang benar yang berdiri di atas kaki yang salah yang menghapus mereka dengan cara yang salah.
Di barisan publik itu, di antara orang-orang yang datang dengan alasan-alasan yang berdiri dengan kaki masing-masing, duduk satu ibu tua dengan uang pas-pasan untuk ongkos di tasnya yang sudah lama dibacanya dari bulan-bulan mencari ke kelurahan — dan ia datang ke sidang itu dengan cara yang sama dengan cara ia datang ke kelurahan setiap bulan: dengan kain yang dikenakannya untuk hari-hari yang dianggapnya penting, dengan dua tangan yang sudah tua yang diletakkannya di pangkuannya dengan cara orang yang sudah lama belajar menunggu tanpa dijawab. Dan ketika satu nama dibacakan dari daftar tiga puluh delapan itu — nama anaknya, dengan tanggal yang berdiri di sampingnya dengan cara yang tidak bisa dibantah dengan keahlian mana pun — ibu tua itu tidak bersuara. Ia hanya menutup matanya dengan dua tangan yang sudah tua yang bergerak ke wajahnya dengan cara yang sudah lama dipelajarinya dari malam-malam menunggu tanpa dijawab, dan dua baris air berjalan di wajahnya dengan cara yang tidak berusaha disembunyikannya dari siapa pun lagi.
Dan Mursid yang duduk dua bangku darinya membacanya dengan cara yang sudah lama dibacanya dari orang-orang yang mencari dengan uang pas-pasan untuk ongkos: bukan air mata untuk yang sudah selesai, melainkan air mata untuk satu nama yang akhirnya dibacakan keras-keras di ruang terang setelah bertahun-tahun hanya dibacakan di dalam rumah kecil dengan suara yang tidak keluar dari pintunya. Dan kerikil di sepatunya diam — tidak ada yang janggal di ruang terang itu, tidak ada yang salah dari satu nama yang dibacakan dengan kaki yang benar di depan hakim-hakim yang mencatatnya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti.
Di luar sidang, di tangga pengadilan dengan debu proyek tol yang berjalan di udara sore dari jalan raya yang tidak pernah selesai diperbaiki, Baringin menyalakan rokoknya dengan tangan penyidik yang sudah empat tahun mencium mesin itu — dan menyodorkan bungkusnya ke Mursid dengan cara kawan lama yang tidak perlu menanyakannya lagi.
"Tiga puluh delapan nama dibacakan keras-keras hari ini, Sid. Empat tahun aku mencium mesin itu dari luar tanpa pintu — dan hari ini pintunya dibacakan dari dalam, dari buku tulis anak sekolah yang dibeli di toko kelontong gang dengan harga yang tidak bisa dihitung dari kantong orang yang bekerja dengan tarif lima ratus ribu seminggu."
"Pintunya bukan aku yang buka, Ring. Pintunya dibuka dua pintu dan tiga tangan yang tidak pernah bekerja bersama untuk menulisnya — dan satu anak muda yang menyalin kunci gudang bawah tanah dengan tangan yang gemetar, dan satu perempuan yang membaca daftar kelurahan dari luar dengan kesabaran orang yang sudah lama bekerja dengan kertas." Mursid mengambil satu batang dan membakarnya pelan-pelan dengan pinggang yang linu yang sudah lama dibacanya dari cara duduknya yang tidak pernah berubah. "Aku cuma yang nulis daftarnya. Dan daftar itu hari ini berdiri di ruang terang dengan kaki yang benar — dan itu lebih dari yang pernah kubayangkan sejak malam aku menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah."
Dan Mursid menghadirinya dari barisan publik dengan topi dan jaket lama yang tidak pernah berubah, dengan Baringin di sampingnya dengan wajah penyidik yang sudah empat tahun mencium mesin itu tanpa pintu dan menemukannya dengan dua pintu dan tiga tangan yang tidak pernah bekerja bersama untuk menulisnya — dan mendengar buku tulis anak sekolahnya dibacakan sebagian di ruang terang itu dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang mantap:
Sidang besar itu berjalan dengan buku tulisku dibacakan sebagian di ruang terang, dan tiga puluh delapan nama itu dibacakan keras-keras di depan hakim-hakim dan pengacara-pengacara dan Sutedja Kusuma yang mendengarnya dengan jaket batik yang tidak kusut. Dan untuk pertama kalinya sejak mesin itu berdiri dengan orang-orang yang dihapus dengan harga lima belas juta per paket, orang-orang yang dihapus itu didengar namanya di ruang terang dengan kaki yang benar yang berdiri di atas kaki yang salah — dan itu lebih dari yang pernah kubayangkan sejak malam aku membeli buku tulis anak sekolah itu di toko kelontong gang dengan harga yang tidak bisa dihitung dari kantong orang yang bekerja dengan tarif lima ratus ribu seminggu.