Yopi mengetik lagi di kantor dukcapil dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dan mengetiknya adalah mengetik yang tidak pernah dibayangkannya sejak malam ia menyerahkan kunci salinan gudang bawah tanahnya dengan tangan yang gemetar: mengetik pemulihan nama-nama yang dulu diketiknya penghapusannya, dengan tangan yang sama yang mengetiknya dulu, dengan tangan yang tidak gemetar lagi.
Dan setiap nama yang selesai dipulihkannya dengan tangan yang tidak gemetar lagi itu, ia kirim kabar ke Mursid dengan satu stiker jelek di pesan singkatnya — satu stiker jelek untuk satu nama yang dipulihkan dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dan kabar-kabar itu berjalan ke Mursid di kantor kecil di atas warung Bu Tarmi dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kantor-kantor resmi mana pun: dengan satu anak muda yang mengetik pemulihan nama-nama dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dan satu stiker jelek untuk setiap satu yang selesai diketiknya dengan tangan yang sama yang mengetik penghapusannya dulu.
"Nama ketujuh belas selesai kuketik hari ini, Bang. Nama ketujuh belas dari daftar yang kuketik penghapusannya dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar dulu — dan aku mengetik pemulihannya hari ini dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dengan nama yang sama, di atas kertas yang sama yang menulisnya dulu untuk mesin yang menghapusnya. Dan satu stiker jelek untuk nama ketujuh belas itu, Bang. Dan setiap satu dari mereka akan kuketik pemulihannya dengan tangan yang sama yang mengetik penghapusannya dulu, sampai baris terakhirnya, dengan tangan yang tidak gemetar lagi."
Mursid melihatnya sekali dengan matanya sendiri, dari kursi tunggu kantor dukcapil dengan nomor antrean yang tidak diambilnya — ia datang bukan untuk mengurus apa pun, hanya untuk membaca satu anak muda yang mengetik pemulihan nama-nama dengan tangan yang tidak gemetar lagi di balik loket dengan kaca yang sudah lama dibacanya dari kantor-kantor yang bekerja dengan kertas. Dan Yopi bekerja di sana dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kantor yang sama di tahun-tahun yang salah: dengan dua tangan yang berjalan di atas papan ketik dengan cara yang mantap, dengan satu daftar nama di sisinya yang dikerjakannya baris demi baris dengan sabar yang sama dengan sabar yang membawa mereka semua ke gudang bawah tanah dengan kunci yang benar, dengan satu stiker jelek di layar teleponnya yang dikirimkannya setiap satu baris selesai diketiknya dengan tangan yang sama yang mengetik penghapusannya dulu.
Dan di depan loketnya berdiri satu lelaki tua dengan topi di tangannya — topi yang diputar-putarnya dengan dua tangan yang tidak bisa diam sejak ia dipanggil nomornya — dan Yopi membacakan kepadanya dengan suara yang sudah lama tidak dipakainya sejak malam-malam ia mengetik dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar:
"Sudah selesai, Pak. Namanya sudah berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan cara yang benar — KTP baru, kartu keluarga baru, semuanya dengan tanggal hari ini. Bapak tidak pernah meninggal di atas kertas mulai hari ini. Bapak berdiri lagi."
Dan lelaki tua itu menerima kertas-kertasnya dengan dua tangan yang gemetar — gemetar dengan cara yang berbeda dari gemetar yang ditakuti Yopi di malam-malam yang salah itu — dan memandangi namanya sendiri di atas KTP barunya seperti memandangi diri sendiri yang hilang bertahun-tahun, dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dari satu ruang tunggu penuh orang yang menunggu dengan nomor antrean di tangan masing-masing.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih. Tiga tahun saya mati di atas kertas, dan tiga tahun itu saya tidak bisa ngurus apa-apa — tidak bisa berobat, tidak bisa mengambil simpanan, tidak bisa menandatangani apa pun untuk cucu-cucu saya. Dan hari ini saya berdiri lagi."
Dan Yopi menjawabnya dengan suara yang lebih pelan dari suara loket yang biasa, dengan dua tangan yang diletakkannya sebentar di atas papan ketiknya yang diam:
"Saya yang mengetiknya kembali, Pak. Dan saya yang dulu mengetik penghapusannya — dengan tangan yang sama, di atas kertas yang sama, untuk mesin yang salah. Dan memperbaikinya dengan tangan yang sama adalah satu-satunya cara yang benar yang saya punya."
Di makan siangnya, di warung seberang kantor dengan es teh yang dibayar dengan uang kerja sosial yang tidak banyak, Yopi menceritakannya kepada Mursid dengan mata yang tidak turun ke piringnya seperti dulu:
"Dulu aku mengetik kematian orang-orang itu dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar, Bang, dan aku bilang ke diriku sendiri bahwa aku cuma yang ngetik. Sekarang aku mengetik mereka berdiri lagi, dan aku tidak bilang apa-apa ke diriku sendiri lagi — karena tangan yang sama yang mengetik yang salah harus mengetik yang benar sampai baris terakhirnya. Itu saja. Dan setiap satu selesai, satu stiker jelek untukmu, Bang. Sampai baris terakhirnya."
Dan Mursid mendengarnya dengan es teh di tangannya dan dengan kerikil di sepatunya yang diam — tidak ada yang janggal dari satu anak muda yang mengetik pemulihan dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dan tidak ada yang salah dari satu stiker jelek untuk satu nama yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan cara yang benar.
Dan Mursid membacanya dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi dengan satu stiker jelek untuk nama ketujuh belas itu di layar pesannya dan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang hangat: Yopi mengetik lagi di kantor dukcapil dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dan setiap satu nama yang dipulihkannya dengan tangan yang tidak gemetar lagi itu dikirimkannya kabar dengan satu stiker jelek di pesan singkatnya. Dan satu anak muda yang mengetik kematian orang-orang dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar dulu itu mengetik pemulihan nama-nama itu dengan tangan yang sama yang mengetiknya dulu — dan itu satu-satunya cara yang benar untuk memperbaiki yang ditulis salah dengan tangan yang sama yang menulisnya, dan itu yang dikerjakannya sampai baris terakhirnya dengan tangan yang tidak gemetar lagi.