Sutedja Kusuma dijatuhi hukuman berat dengan pembukuan mesinnya sendiri yang menandatangani kejatuhannya dengan tangan-tangan yang mengetiknya dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar — dan sebelum dibawa dari meja hijau itu, ia berkata satu kalimat terakhir yang dibacanya dengan suara yang tidak berubah dari suara yang dibacanya di gudang bawah tanahnya dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya.
"Mesin itu bukan saya yang membuatnya, Yang Mulia. Saya cuma yang merawatnya dengan keahlian yang dibayar negara untuk menjaga identitas warga dari penyalahgunaan yang sama. Mesin itu dibuat orang-orang yang mengira orang miskin tidak punya nama — orang-orang yang membayar lima belas juta untuk menghapus orang-orang yang tidak dicari dengan harga yang tidak bisa dihitung dari kantong-kantong orang miskin yang dihapus dengan cara yang salah, dan orang-orang yang berdiri di atas kebutuhan yang sama dengan kebutuhan yang dibangun negara untuk melayaninya dengan kaki yang lebih lambat dari kebutuhan itu berdiri dengan kaki yang salah. Saya cuma yang merawatnya, Yang Mulia. Dan merawat mesin yang dibuat orang-orang yang mengira orang miskin tidak punya nama itu adalah kejahatan dengan keahlian — dan aku menjawab untuk kejahatan dengan keahlian itu dengan hukuman yang berdiri dengan berat yang setara dengan dua puluh tahun merawatnya dengan hormat yang salah."
Dan hakim menjawabnya dengan putusan yang berdiri dengan pembukuan mesinnya sendiri yang ditulis dengan hormat yang salah oleh tangan-tangan yang mengetiknya dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar — dan Sutedja Kusuma dibawa dari meja hijau itu dengan jaket batik yang tidak kusut dan dengan pengakuan yang dingin dan jujur yang tidak pernah ia tarik kembali sejak gudang bawah tanahnya dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya.
Putusan itu dibacakan dengan waktu yang lebih lama dari waktu yang dipakai mesin itu untuk menghapus satu nama — dengan pasal-pasal yang berdiri satu di atas satu dengan kaki yang benar, dengan pembukuan mesinnya sendiri yang dibacakan sebagai bukti yang tidak bisa dibantah dengan keahlian mana pun: buku-buku besar dari gudang bawah tanah yang difoto dengan kunci yang benar dan diambil utuh sebelum api sempat menyala, daftar tiga puluh delapan nama dengan tanggal-tanggal yang berdiri di sampingnya, dan aliran uang lima belas juta per paket yang berjalan dari kantong-kantong orang yang membayar untuk menghapus ke kantong-kantong orang-orang yang merawat mesinnya dengan hormat yang salah. Dan hakim membacanya dengan suara yang tidak naik dan tidak turun — dan berat yang dijatuhkannya berdiri setara dengan dua puluh tahun yang dirawat Sutedja dengan hormat yang salah, dengan cara yang tidak bisa ditulis ulang perhitungan mana pun.
Dan Sutedja Kusuma mendengar beratnya dengan jaket batik yang tidak kusut dan dengan wajah insinyur yang membaca putusannya sendiri seperti membaca pembukuan yang sudah lama diperkirakannya — tidak ada yang terkejut di wajahnya, tidak ada yang membantah, hanya satu anggukan kecil yang diberikannya kepada angka-angka yang dibacakan dengan kaki yang benar, seperti orang yang menghargai pekerjaan yang rapi meski pekerjaan yang rapi itu menandatangani kejatuhannya sendiri.
Dan ketika ia dibawa keluar dari ruang terang itu melewati barisan publik, langkahnya berhenti satu kali — di depan bangku tempat Mursid duduk dengan topi dan jaket lama yang tidak pernah berubah — dan dua pembaca manusia itu bertemu mata untuk terakhir kalinya dengan cara yang sudah lama dibaca keduanya dari percakapan di bawah tanah di antara rak-rak kematian itu.
"Kau datang juga ke pembukuan terakhirnya," kata Sutedja pelan, dengan suara yang tidak berubah dari suara di gudang bawah tanahnya. "Aku sudah memperkirakannya. Orang yang menulis daftar selalu datang ke pembacaan daftarnya."
"Aku datang untuk tiga puluh delapan nama itu, bukan untukmu," jawab Mursid dengan suara yang sama pelannya. "Dan mereka sudah dibacakan keras-keras di ruang terang. Itu yang kubutuhkan dari sidang ini."
Dan Sutedja mengangguk satu kali lagi — anggukan insinyur untuk jawaban yang berdiri dengan kaki yang benar — dan berjalan lagi dengan dua petugas di sisinya, dengan jaket batik yang tidak kusut, ke arah pintu yang tidak akan dibukanya lagi dengan kunci mana pun untuk waktu yang sangat lama.
Di tangga pengadilan, dengan debu proyek tol di udara sore dan dengan rokok yang dibakar Baringin dengan tangan penyidik yang sudah empat tahun mencium mesin itu, Baringin berkata satu kalimat dengan mata yang membaca pintu yang baru saja tertutup itu:
"Berat yang setara, Sid. Tidak lebih, tidak kurang — dan itu yang bisa diberikan kertas kepada orang yang merawat mesin dengan hormat yang salah. Sisanya tidak bisa diberikan kertas kepada siapa pun."
"Sisanya diberikan orang-orang kecil kepada orang-orang kecil," jawab Mursid, dengan pinggang yang linu dan dengan satu halaman yang sudah mulai disusunnya di kepalanya untuk buku tulis keduanya. "Satu nama, satu rumah, satu halaman pada satu waktu. Kertas menjatuhkan mesinnya. Napas yang memulangkan orang-orangnya."
Dan Mursid membacanya dari kejauhan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang mantap: Sutedja menjawab untuk mesin yang dirawatnya dengan keahlian yang dibayar negara untuk menjaga identitas warga dengan hukuman yang berdiri dengan berat yang setara dengan dua puluh tahun merawatnya dengan hormat yang salah — dan kalimat terakhirnya berdiri di atas semua yang sudah dibacakannya sejak sore lelaki berbatik di toko fotokopi dulu: mesin itu bukan dia yang membuatnya, mesin itu dibuat orang-orang yang mengira orang miskin tidak punya nama. Dan orang-orang yang mengira orang miskin tidak punya nama itu sudah dibaca dari pembukuan yayasan yang dibaca dengan kaki yang benar dari gudang bawah tanahnya dengan kunci yang benar — dan mereka menjawab untuk keperluan-keperluan kecil mereka dengan kaki yang salah satu per satu, dengan sabar yang sama dengan sabar yang membawa kita ke gudang bawah tanahnya dengan kunci yang benar.