Satu nama di daftar Mursid tidak pernah ditemukan hidup maupun mati — dan Mursid menutup berkasnya dengan cara yang sudah lama dipelajarinya dari perang ini: tidak menutupnya, hanya menandainya. Masih dicari, selalu dicari.
Nama itu berdiri di buku tulis pertamanya dengan tanggal yang lebih tua dari tanggal-tanggal lainnya di daftar tiga puluh delapan itu — satu lelaki muda yang dihapus dengan cara yang sama dengan yang dibacakannya dari pembacaan-pembacaannya dari bawah mesin itu selama dua bulan menjadi hantu, dengan satu ibu tua yang mencarinya ke kelurahan setiap bulan dengan uang pas-pasan untuk ongkos dengan cara yang sama dengan cara ibu tua yang berdiri di sisi suaminya yang dipulihkan dengan dua tangan yang sudah tua di pemulihan pertama itu. Dan lelaki muda itu tidak pernah ditemukan hidup maupun mati dari pembukuan mesinnya yang sudah difoto dari gudang bawah tanahnya dengan kunci yang benar — tidak ada di buku tamu rumah duka Kasih Abadi, tidak ada di daftar kelurahan yang dibaca Linda dari luar dengan kesabaran orang yang sudah lama bekerja dengan kertas, dan tidak ada di pembukuan mesinnya yang sudah difoto dari gudang bawah tanahnya dengan kunci yang benar.
Dan Mursid menemuinya sendiri di rumah kecilnya di pinggir kampung yang berdiri dengan debu proyek tol di daun-daun pagarnya — membawa jawaban yang tidak pernah bisa ditulisnya di kertas resmi mana pun, dengan oleh-oleh dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi di tangannya dan dengan dada yang lebih berat dari yang dibawanya ke pintu-pintu mana pun sejak malam ia menjadi hantu. Dan ibu tua itu menerimanya dengan cara yang sudah lama dibacanya dari bulan-bulan mencari ke kelurahan: dengan dua tangan yang sudah tua yang menyeduhkan teh untuk tamunya meski tamunya datang membawa jawaban yang tidak selesai, dengan kursi terbaik di rumah kecilnya yang diberikannya kepada orang yang mencari anaknya dengan buku tulis anak sekolah.
"Sudah berapa lama Ibu mencarinya ke kelurahan?" tanya Mursid pelan, dengan teh di tangannya yang tidak diminumnya dulu.
"Setiap bulan, sejak dia hilang. Empat tahun lebih, Nak." Ibu tua itu menjawabnya dengan suara yang tidak naik dan tidak turun, dengan mata yang membaca foto anaknya di dinding rumah kecilnya dengan cara yang sudah lama dipakainya setiap pagi. "Ongkosnya pas-pasan, tapi aku hitung-hitung selalu cukup — aku tidak pernah membeli apa pun yang tidak perlu, supaya aku selalu bisa pergi bertanya setiap bulan. Orang di kelurahan sudah hafal mukaku. Mereka bilang tidak ada kabar dengan suara yang makin lama makin pelan. Tapi aku tetap datang, Nak. Karena kalau aku berhenti datang, siapa lagi yang menanyakan namanya?"
Dan Mursid membacanya dengan kerikil di sepatunya yang berdiri dengan berat yang sudah lama dikenalnya — karena pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang berdiri di atas seluruh pekerjaannya sejak malam ia membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor: siapa lagi yang menanyakan namanya. Dan ia menjawabnya dengan jawaban yang benar dengan kaki yang benar, tanpa menjanjikan yang tidak bisa dijanjikannya dengan cara yang salah:
"Aku, Bu. Mulai hari ini, ada aku yang menanyakan namanya. Aku tidak bisa berjanji membawanya pulang — aku tidak pernah berjanji yang tidak bisa kujanjikan kepada siapa pun. Tapi namanya berdiri di buku tulisku dengan satu baris yang tidak akan pernah kucoret dengan cara yang salah, dan aku akan terus mencarinya dengan cara yang sama dengan cara Ibu datang ke kelurahan setiap bulan: tanpa berhenti."
Dan ibu tua itu memandanginya dengan dua mata yang sudah tua yang membaca orang dengan cara orang-orang tua membaca orang — lama, dan pelan, dan sampai ke tempat yang tidak bisa dibaca kertas mana pun — dan mengangguk satu kali dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya sejak empat tahun menanyakan namanya ke pintu-pintu yang tidak menjawab:
"Kau orang pertama yang tidak menyuruhku berhenti mencarinya, Nak. Empat tahun orang menyuruhku berhenti dengan suara yang makin lama makin pelan — dan kau datang ke rumahku dengan buku tulis anak sekolah dan bilang namanya tidak akan dicoret. Itu sudah lebih dari yang pernah kuterima dari pintu mana pun."
Dan Mursid membacanya dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang lebih berat dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman yang lebih hangat: satu yang belum pulang itu tidak pernah ditemukan hidup maupun mati, dan ibu tuanya mencarinya ke kelurahan setiap bulan dengan uang pas-pasan untuk ongkos dengan cara yang sama dengan cara ibu tua yang berdiri di sisi suaminya yang dipulihkan dengan dua tangan yang sudah tua itu. Dan aku tidak bisa menutupnya dengan jawaban yang benar untuk ibu tuanya yang mencarinya dengan uang pas-pasan untuk ongkos setiap bulan itu — dan aku tidak menutupnya dengan jawaban yang salah untuk ibu tuanya yang mencarinya dengan uang pas-pasan untuk ongkos setiap bulan itu juga. Aku menandainya dengan jawaban yang benar untuk ibu tuanya yang mencarinya dengan uang pas-pasan untuk ongkos setiap bulan itu: masih dicari, selalu dicari, dengan satu baris yang tidak akan pernah dicoret dari buku tulisku dengan cara yang salah, dengan satu janji yang tidak akan pernah kuambil kembali dengan cara yang salah.
Dan satu ibu tua yang mencarinya ke kelurahan setiap bulan dengan uang pas-pasan untuk ongkos itu dibawanya jawaban yang benar untuk ibu tuanya yang mencarinya dengan uang pas-pasan untuk ongkos setiap bulan itu: bukan jawaban yang salah dengan kaki yang salah yang berdiri dengan kaki yang salah, dan bukan jawaban yang menutupnya dengan cara yang salah dengan kaki yang salah yang berdiri dengan kaki yang salah juga — melainkan jawaban yang benar dengan kaki yang benar yang berdiri dengan kaki yang benar: bahwa anaknya masih dicari, selalu dicari, dengan satu baris yang tidak akan pernah dicoret dari buku tulis Mursid dengan cara yang salah, dengan satu janji yang tidak akan pernah diambilnya kembali dengan cara yang salah.
Dan Mursid menuliskannya di buku tulis keduanya dengan tangan yang lebih berat: satu yang belum pulang itu tidak pernah ditemukan hidup maupun mati, dan ibu tuanya mencarinya dengan uang pas-pasan untuk ongkos setiap bulan itu dijawabnya dengan jawaban yang benar dengan kaki yang benar: masih dicari, selalu dicari. Dan satu baris itu tidak akan pernah dicoret dari buku tulisku dengan cara yang salah — dan satu janji itu tidak akan pernah kuambil kembali dengan cara yang salah, dengan cara yang sudah lama kupelajari dari perang ini: tidak menutupnya, hanya menandainya, dengan kaki yang benar yang tidak bisa dibantah dengan cara yang salah.