Warung soto di dekat pasar Tambun itu berdiri untuk satu malam dengan semua orang di satu meja — dengan Mursid yang membayar untuk semua dengan uang yang ditagihnya sendiri dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi, dan dengan satu malam yang tidak pernah dibayangkannya sejak malam ia membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya.
Linda datang dengan anaknya yang sudah lebih besar dari anak yang dibesarkannya dengan pekerjaan-pekerjaan serabutan yang dibayar dengan harga yang tidak pernah bisa dihitung dari kantong-kantong orang kecil — dan dengan satu pekerjaan di kantor dukcapil dengan jasa yang diakui resmi yang berdiri di atas kaki yang benar dengan kekuatan yang tidak bisa dibantah dengan cara yang salah seperti cara ia dipecat dengan cara yang salah tiga tahun lalu. Tigor datang dengan Surti dan bayi mereka yang sudah berdiri dengan nama pilihannya sendiri kelak dengan dua orang tua yang mendaftarkannya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuh akta kelahirannya dengan jempolnya — dan dengan jam tangan kecil yang berdetak lagi di tangan Surti dengan maksud yang terjawab penuh dengan cara yang ditulisnya dengan tangannya sendiri di malam ia dibawa dengan kurir jam tiga itu. Bu Karsih datang dengan gelangnya yang sudah kembali di pergelangan kirinya dan dengan bekas pucatnya yang hilang oleh waktu dan kerja — dan dengan cucunya yang mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya.
Yopi datang dengan tangan yang tidak gemetar lagi dan dengan satu stiker jelek untuk nama kesekian yang dipulihkannya dengan tangan yang tidak gemetar lagi di kantor dukcapil — dan dengan satu cerita tentang satu nama yang diketiknya pemulihannya dengan tangan yang sama yang mengetik penghapusannya dulu dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar. Ratna datang dengan namanya yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan cara yang benar — dan dengan satu pekerjaan di kantor Mursid dua hari seminggu dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dengan satu ibu yang memeluknya di pintu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Dan Bang Jul datang dengan Tigor yang menarik lagi di pangkalan depan pasar Cibitung dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya — dan dengan satu pangkalan yang berdiri untuknya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin dari kertas-kertas resmi mana pun.
Dan di tengah meja itu berdiri hal-hal yang tidak pernah bisa ditagih mesin dengan harga berapa pun: soto yang diantar Bu Tarmi sendiri dengan dua tangan yang menolak dibantu, dengan satu panci tambahan yang dibawanya dengan kalimat yang sudah lama menjadi kalimatnya sejak malam-malam pertama Mursid berutang sembilan puluh ribu di buku warungnya — "makan yang banyak, kalian sudah terlalu lama makan dengan cara yang salah" — dan bayi Tigor dan Surti yang berjalan tertatih dari kursi ke kursi dengan dua tangan kecil yang dipegang bergantian oleh orang-orang yang pernah dihapus dan orang-orang yang mencarinya, dengan tawa yang tidak mengenal mesin mana pun dengan cara yang benar. Dan Tigor dan Bang Jul bertukar cerita pangkalan dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di atas meja yang sama, dan Linda membaca anaknya yang tertawa di pangkuan Ratna dengan mata yang sudah lama tidak dibacanya dari malam-malam membaca daftar kelurahan dari luar.
Dan Yopi menunjukkan stiker jeleknya yang terakhir kepada meja itu dengan mata yang berdiri dengan kaki yang benar — satu nama lagi yang dipulihkannya dengan tangan yang tidak gemetar lagi di hari yang sama — dan meja itu menyambutnya dengan cara warung soto menyambut kabar baik: dengan sendok-sendok yang diketukkan ke piring dengan riuh yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun, dengan Bang Jul yang berdiri mengangkat gelas tehnya paling tinggi, dengan Bu Karsih yang menyentuh gelangnya di pergelangan kirinya dengan jempolnya sekali lagi.
"Untuk nama-nama yang pulang," kata Bang Jul.
"Untuk nama-nama yang pulang," jawab satu meja dengan suara yang tidak pernah bisa ditulis mesin di pembukuan mana pun.
Dan Mursid membayar untuk semua dengan uang yang ditagihnya sendiri dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi — dan berhutang lagi sembilan puluh ribu ke Bu Tarmi, dan tidak apa-apa, dan itu ditulisnya di buku utang warung itu dengan huruf yang tidak pernah berubah sejak malam pertama utang sembilan puluh ribu itu ditulisnya di buku utang warung yang sama dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun.
Dan mereka makan soto bersama di satu meja dengan cerita-cerita yang berjalan dari sisi ke sisi meja dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin dari kertas-kertas resmi mana pun — dan Mursid memandanginya dari kepala mejanya dengan satu malam yang tidak pernah dibayangkannya sejak malam ia membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya, dan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang hangat:
Warung soto untuk semua itu berdiri dengan semua orangnya di satu meja dengan nama-nama mereka yang berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan cara yang benar — dan aku membayar untuk semua dengan uang yang kutagih sendiri dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi, dan berhutang lagi sembilan puluh ribu ke Bu Tarmi, dan tidak apa-apa. Dan satu malam di warung soto di dekat pasar Tambun itu adalah malam yang tidak pernah kubayangkan sejak malam aku membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang — dan itu terbayar dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya, dan itu yang kubeli dengan dua bulan menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah.